Majelis Pers: Fakta Reuni Akbar 212 Sangat Monumental

66

Penulis: Opan/red

Pers Nasional dipersimpangan antara idelisme dan Praghmatisme yang sulit terelakan

Kabartoday, Jakarta – Pers Indonesia mendorong terwujudnya Indonesia cerdas, adil dan bermartabat yang mengedepankan keterbukaan informasi publik. Karna Pers adalah Hak asasi manusia yang dilindungi PANCASLIA dan UUD 1945 sebagai sarana masyarakat untunk memperoleh informasi dan berkomunikasi guna memenuhi kebutuhan hakiki didalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Namun akhir – akhir ini, Pers tidak cukup awas dan waras untuk menjadi moderator akal sehat didalam kontestasi dan debat politik.

Rakyat butuh jurnalis publik, bukan jurnalis privat atau humas penguasa dengan brosur – brosur penuh harapan dan impian.

Jurnalis publik yaitu jurnalis yang terus dan terus menerus mencerdaskan kehidupan bangsa, memerangi kebodohan, kemiskinan, dan ketidak adilan. Bukan mengedarkan jenis kebodohan dangkal dan semacamnya dengan keberpihakan dan tidak seimbang dalam menyajikan sebuah informasi. Lebih – lebih menutup dan mengubur informasi publik yang secara jelas fakta adanya kegiatan acara reuni Akbar 212 yang sangat monumental.

Di-era tekhnologi informasi dan keterbukaan informasi publik, Pers Nasional yang seharusnya menjadi pionir dan garda terdepan didalam menyajikan dan menyampaikan suara rakyat justru hal ini sebagian masyarakat telah mengabil peran Pers itu sendiri sebagai cityzen journalist yang memiliki insting dan intuisi kepekaan terhadap apa yang terjadi direpublik ini.

Dalam konteks demokrasi, tentunya tidak dibenarkan pihak pihak mendiskriminasi maupun mengkriminalisasi terhadap poksi jurnalis, apalagi patut diduga adanya intervensi secara massif dan systemik untuk membungkam para kuli tinta yang tidak punya nyali dan keberanian atas penguasa dan pengusahanya.

Hal itu dikatakan Ozzy Sulaiman Sudiro Sekjen Majelis Pers dan juga Ketua Umum KWRI sekaligus pelaku sejarah perjuangan Kebebasan Pers Indonesia 98, pada hari Jum’at (7/12/2018) di kantor Sekber Majelis Pers Jakarta Pusat.

“Sungguh sangat memperihatinkan Wajah Pers Nasional kita saat ini, diera kemerdekaan Pers justru banyak umat Pers dengan sengaja telah meninggalkan kemerdekaannya. “Ucap Ozzy.

Dikatakan Ozzy, Fase Pilpers 2019 dengan slogan @gantipresiden menjadi hajatan masyarakat Indonesia di lima tahun sekali. Arti dan maknanya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat sebagai kontain ganti presiden, disinilah kecerdasan berpikir masyarakat dan para pewarta di Uji.

Ozzy berpendapat, ucapan Prabowo sebagai Capres 2019 sangat manusiawi dan normatif sebagai anak bangsa.

Prabowo Marah Kepada Media Media yang tidak mempublikasikan Reuni akbar 212 dan memplintir jumlah massa hanya ratusan ribu orang

Pasca aksi reuni 212, Prabowo dengan lantang mengatakan ‘tidak ada satupun media yang menyiarkan sesuai fakta kejadian aksi tersebut, dari jumlah peserta aksi dan lainnya.’

Bahkan Prabowo dengan nada kesal yang muncul di pemberitaan koran koran hanya ribuan massa, “kenapa itu diplintir, faktanya jutaan orang.” kata Prabowo dengan nada kesal.

Ozzy menilai apa yang katakan Prabowo tidak salah, “disinilah kecerdasan masyarakat dan pers Indonesia di uji. “ucapnya pada wartawan, Jum’at (7/12/2018).

Netralitas harga diri dengan menggadaikan idelismenya menjadi alat komoditas politik tertentu, itu adalah pengkhianatan nurani dan lebih tepat mendapat penghargaan A WORD sebagai pelacur profesi.

Kita tidak bisa pungkiri karna fenomenanya Pers Nasional kita didominasi penguasa dan pengusaha Pers yang juga para kapitalis dan politikus.

“Itu artinya Jelas sudah terjadi kepentingan diatas kepentingan pribadi, golongan dan kroninya saja, hal ini akan berdampak preseden buruk dan berpotensi membunuh demokrasi yang sehat dan bermartabat. “jelas Ozzy.

Ozzy berpendapat, Aksi reuni akbar 212 yang dihadiri lebih dari 13 juta orang adalah sebuah kegiatan fenomenal sekaligus menjadi monumental yang menjadi catatan sejarah bagi bangsa indonesia sebagai simbol gerakan umat dengan nuansa kebathinan yang sama mengais keadilan.

Namun sungguh sangat disayangkan, media media komperador, mainstream tidak menyiarkannya bahkan menutup mata dari fakta aksi 212 tersebut yang penuh damai dan bermartabat.

“Patut kita memberi apresiasi penghargaan setingi tingginya dan patut diberi label kepada TV One sebagai TV Rakyat. bukan memang beda tapi juga berbeda diantara yang beda bukan diantara yang sama. “salut Ozzy

Ozzy menilai “disinilah kecerdasan masyarakat dan pers Indonesia diuji oleh Aksi reuni akbar 212 yang di adakan di Tugu Monas. Ini merupakan Momentum dan fakta yang sangat luar biasa bagi umat islam indonesia tentunya, bahkan diikuti dari berbagai umat non muslim yang hadir dan membaur sebagai bentuk perwujudan persatuan dan kesatuan bangsa indonesia bahkan duniapun mengakuinya.

“Itu artinya menepis anggapan miring dan stigmatisasi bagi umat islam yang selama ini dianggap tidak toleran, pancasilais dan anti NKRI.. pembuktian terbalik namun secara faktual telah terjadi, jutaan masyarakat Indonesia berkumpul di Monas yang penuh damai dan bermartabat. “Papar Ozzy.

Tambah Ozzy, Media – Media International menyoroti pristiwa reuni alumni Akbar 212, bahkan sebagai Headline kerena mampu mengumpulkan umat islam dari berbagai penjuru dengan jumlah yang cukup besar.

“Tentunya momen tersebut layak dan patut dijadikan contoh untuk Negara Negara lain. Bahwa islam diindonesia adalah “Rohmatan Lil alamin” yaitu islam yang cinta damai sangat menghoramati dan menghargai sesama umat. singkat Ozzy.

Memang tidak dipungkiri, fase Politik 2019 dengan suhu panasnya yang seharusnya membuat otak jadi lumer bukan membeku, disini kecerdasan kita diuji sebagai umat Pers.

Berbagai kepentingan masuk kedalamnya, termasuk para umat Pers sulit dan dilematis apalagi terancam Polisi dapur,. Jadi antara idealisme dan praghmatisme yang sulit terelakan di tahun politik.

“Pers seharusnya berpolitrik bukan berpoltik. “Singkat Ozzy.

Kalo media saja sudah terkotak kotak seperti baju kotak, jangan harap bangsa ini bersatu, karna pers yang diemban sebagai alat pemersatu bangsa bukan mengkotak kotakan yang ngga punya otak.

“Tentunya hal ini akan memicu distabilitas, disintegrasi bangsa, jika Pers yang masih sadar atau dengan tujuan yang sadar maka segera kembali kejalan yang benar sebelum jatuh strook dan jantung berdebur-debur karna tidak nyenyak tidur atau tidur selamanya bangun bangun tinggal nulis berita alam kubur..” tutup Ozzy.

Comments

komentar