oleh

Ahmad Dhani: Saya Bukan Tahanan, dan Saya Juga Tidak Sedang Ditahan…

Kabartoday, Surabaya – ‘Tolong diluruskan, pemberitaan selama ini atas penahanan saya itu salah. ‘Tulis AD dalam surat terbukanya dan disebar usai sidang perkara atas dugaan Vlog ‘Idiot’di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa 12 Februari 2019.

AD menjadi tersangka Polda Jawa Timur atas ujarannya menyebut ‘idiot’, saat nge-vlog di lobi Hotel Majapahit, Surabaya.

Caleg Partai Gerindra itu ditetapkan tersangka oleh Polda Jawa Timur atas laporan Koalisi Bela NKRI. Ahmad Dhani (AD) dalam vlognya menyebut kelompok penolak deklarasi 2019 Ganti Presiden di Surabaya pada 26 Agustus 2018 lalu dengan kata-kata “idiot”.

Sementara AD memprotes keras atas penahanan dirinya. Dia juga mengoreksi kabar yang berembus, seolah-olah penahanannya menjalani vonis satu tahun enam bulan penjara yang diputus Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam perkara ujaran kebencian dan seakan sudah berstatus terpidana.

Dalam perkara tersebut, AD divonis bersalah oleh PN Jakarta Selatan, namun pihaknya melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Karena itu menurutnya putusan tersebut belum inkracht dan statusnya masih terdakwa.

BACA JUGA:  Kapolda Banten Buka Taklimat Awal Wasrik Rutin Itwasda Tahap I Tahun 2019

“Saya ditahan atas perintah hakim, bukan dieksekusi untuk menjalani putusan pidana penjara. “ujar AD di PN Surabaya.

AD mempertanyakan, status tahanan yang disandangnya saat ini. “Saya bukan tahanan. Saya juga tidak sedang ditahan atas vonis 18 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saya ditahan oleh pengadilan tinggi DKI tanpa saya tahu sebabnya,” jelas AD.

Penasihat hukum AD, Aldwin Rahadian menjelaskan bahwa Jaksa di Surabaya hanya meminjam AD untuk disidangkan di Surabaya. “Jadi, AD bukanlah tahanan, beliau orang merdeka di Surabaya, “urainya dengan Tegas.

Sementara soal kericuhan usai sidang di PN Surabaya, Selasa (12/2/2019), tim kuasa hukum AD mengatakan, ricuh dengan jaksa usai sidang kasus vlog idot yang beragendakan eksepsi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur karena jaksa meminta AD segera menuju mobil tahanan untuk dibawa ke Rutan Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur. Padahal AD ingin meladeni pertanyaan awak media seusai sidang.

BACA JUGA:  Kunjungan Sandiaga Ke Pekalongan Dihadang Sekelompok Orang

“Usai sidang esepsi, memang wartawan sempat berkerumun untuk meminta waktu, bahkan AD ingin menyampaikan pernyataan di media, tiba-tiba AD ditarik jaksa untuk segera masuk ke mobil tahanan dan dibawa ke Rutan Medaeng,” tukas Aldwin Rahadian, saat dihubungi wartawan, Selasa (12/2/2019).

Dikatakan Aldwin, kliennya merasa tidak diberi kesempatan oleh jaksa untuk meladeni pertanyaan wartawan terkait kasus pencemaran nama baik yang menjeratnya, padahal AD ingin ngobrol dan berbicara dulu. “AD didorong-dorong untuk cepat masuk mobil tahanan, maksudnya apa ini? Kami sangat keberatan dan protes keras, ” tegas Aldwin.

Bahkan di beberkan Aldwin, alasan jaksa yang tidak jelas itu langsung menggiring AD dan tidak memberikan kesempatan berbicara kepada media, jelas jawaban jaksa membuat tim emosi. ‘Ini perintah dari Kejati (Kejaksaan Tinggi Jawa Timur)’. Kata Jaksa seperti ditirukan Aldwin.

BACA JUGA:  Mempertanyakan Netralitas Dewan Pers

Dengan nada emosi, Aldwin pun mengomentari ocehan Jaksa, “Enggak ada urusan kami mau dari Kejati atau apa. Kami melakukan protes… karena ini melawan hukum. Enggak ada larangan untuk bicara di media. Ini malah dihalang-halangi. “Sambar Aldwin.

Sebelumnya dalam sidang vlog idiot tersebut, tim kuasa hukum AD meminta hakim menolak semua dakwaan jaksa yang dianggap tidak jelas dan menyesatkan, meski Jaksa mendakwa AD dengan melanggar Pasal 45 Ayat (3) jo Pasal 27 Ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan ditetapkan status tersangkanya oleh Polda Jawa Timur atas laporan Koalisi Bela NKRI.(Op/red)

Komentar