oleh

Aktivis 80 Sebut Kecurangan Pemilu, Matinya Demokrasi Indonesia

-Hukum-453 views

Kabartoday, Jakarta – Sejak usainya pemilihan Umum Pilpres Tanggal 17 April 2019 lalu, Rakyat menjadi Resah Menunggu Keputusan KPU. Puncak keresahan rakyat terjadi pada tanggal 21 -22 Mei dimana KPU memenangkan 01, padahal hampir semua daerah di Indonesia memenangkan paslon capres dan cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, namun sayangnya terjadi kecurangan yang diduga terstruktur, sistematis dan masif (TSM) oleh kubu 01 Jokowi-Ma’ruf Amin melalui penyelenggara pemilu dengan dugaan kuat adanya manipulasi data suara.

Aktivis 80, Wawan Leak mengatakan
prihatin sebagai anak bangsa, bahwa di pemilu 2019 terpantau berjatuhan korban jiwa, baik dari petugas KPPS maupun korban jiwa aksi demo 21-22 Mei kemaren.

“Ini sesuatu yang miris di tengah iklim republik kita. Katanya demokrasi, tetapi nyatanya terbalik. kita mencoba dengan berbagai elemen aliansi dari berbagai macam untuk memberikan tanggungjawab moral, karena kami menangis melihat kondisi bangsa ini. “Kata Wawan di Jakarta, Jum’at (24/5/2019).

BACA JUGA:  Prediksi Mr.Kan Hasil Gugatan 02 dan Putusan MK Berujung Pidana

Menurutnya, tidak ada sesuatu yang disengaja, artinya ini ada semacam by desain, jadi ada yang musti bertanggung jawab tentang kejadian-kejadian tersebut, “Kalau kita ngomong proses demokrasi, ini kan pemilihan Pilpres 01-02 sudah bukan prosesnya lagi. Sekarang tinggal bagaimana tanggung jawab para pemuka atau elit-elit politik di Republik ini tentang kondisi republik saat ini. “Ucapnya.

Terlihat sejumlah karangan bunga ucapan belasungkawa bertebaran di halaman Sarinah, Jl. Thamrin Jakarta Pusat. Karangan bunga tersebut bertuliskan ‘Matinya demokrasi Indonesia.’

“Panglima TNI hadir tolong jawab saya pak. itu kami akan mungkin masih dalam tataran ide gagasan. Soal itu kita akan terjadi semacam Crisis Center, karena banyak sekali yang hilang nggak ketemu, terus ini mesti ada investigasi-investigasi, kita mungkin akan ajak beberapa elemen anak bangsa yang memang masih peduli dengan republik. “tegur Wawan.

BACA JUGA:  Mobil Logistik KPU Di Depan Digital Printing Condet Tertangkap Warga

Wawan juga meminta segera dibentuknya tim investigasi, karena banyak sekali sesuatu yang intensif macam-macam pihaknya dituduh Makar, atau apalah. Lalu dituduh ini dan itu, hak prerogatifnya si polisi tanpa kita diberikan apa untuk membela diri, “ini kan kita dengan kondisi spdrti sekarang mau nggak mau dan sudah pasti dicap Makar mau nggak mau kita dicap intoleransi yang luar biasa.

“Saya melihatnya ini demokrasi Barbar, demokrasi Barbar ini demokrasi yang design. Kebetulan saya aktivis 80, para elit politik republik ini ataupun Siapa saja tokoh agama tokoh masyarakat kita masih duduk satu meja, coba kita buat semacam aliansi banyak tokoh-tokoh ini dan itu, kebetulan disini juga ada mas Saiful dari Jawa Timur. “Ulasnya.

BACA JUGA:  Penyelundupan Sabu 47 Kg Berhasil Digagalkan Tim F1QR Koarmada 1 Lanal Batam

Lanjut Wawan, dari beberapa elemen-elemen sudah meminta pihaknya menyikapi tentang kondisi demokrasi barbar ini. “Tentunya juga pertemuan kami punya komitmen bagaimana mencari solusi tentang kondisi Republik bukan, kita bicara bukan 01 atau 02, tetapi ini tentang komitmen anak bangsa dan Negara.

“Jokowi jelas, dialah yang harus bertanggungjawab, karena jokowi pegang kendali sebagai presiden saat ini sebelum adanya penetapan SAH. Polisinya juga harus tanggung jawab, kan dia sebagai komandonya. “ungkap Wawan.

Siapapun presidennya bagi kami bukan hal penting, hanya menurut Wawan, yang jadi Masalah adalah kecurangan pemilu yang memang terlihat TSM.

“Jadi mereka itu yang bertanggung jawab, dan bukan kami yang harus menunjukkan bentuk kecurangannya. Mereka yang punya rumah, yaaa mereka dong yang harus menunjukkan.
Kata Wawan leak Aktivis 80 lagi. “ulasnya.(Bbg)

Komentar