oleh

Amos Mahasiswa dan Juga Wartawan Kabartoday.co.id Jadi Korban Pemukulan Aksi Demo

Kabartoday, Labuhanbatu – Amos Peblius Sihombing seorang Mahasiswa Universitas Labuhanbatu Fakultas Pertanian dan juga sebagai wartawan media online kabartoday.co.id untuk biro Labuhanbatu telah menjadi korban penganiayaan para oknum satuan pengamanan gabungan dari Sat Pol PP dan kepolisian di aksi demo yang digelar beberapa hari lalu di depan gedung DPRD Labuhanbatu telah resmi dilaporkan ke Polres Labuhanbatu.

Keseriusan tersebut dilaporan Naski Putra Tanjung (Koordinator Lapangan Aksi unjuk rasa) dan didampingi oleh tim kuasa hukum dengan nomor laporan Polisi : LP/824/IX/2019/RES-LBH tanggal 30 September 2019 pekan lalu.

“Ada 6 pengacara yang mendampingi saya untuk membuat laporan ke Polres Labuhanbatu atas luka yang saya dapatkan kemarin ketika saya dan rekan-rekan yang lain unjuk rasa,” ujar Naski.

Sempat diundang agar datang ke Polres Labuhanbatu, Amos menolak untuk hadir memenuhi undangan tersebut. “Pihak Polres mengundang saya untuk datang. Tapi tidak tahu undangan tersebut untuk apa. Ya tidak saya hadiri dalam hal apa saya di undang. Intinya, nanti kita lihat bersama bagaimana perkembangan atas laporan itu,” katanya.

Dugaan penganiayaan yang dilaporkan salah satu Kordinator Lapangan Aksi unjuk rasa gabungan organisasi kemahasiswaan di depan gedung DPRD Labuhanbatu Naski Putra Tanjung mendesak petinggi Polres Labuhanbatu untuk menindak oknum yang diduga melakukan penganiayaan kepada rekannya (Amos) tersebut.

“Kami mendesak petinggi Polres Labuhanbatu untuk memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang terbukti salah melakukan penganiayaan secara bersama-sama terhadap rekan kami (Mahasiswa). Sehingga korban (rekan kami) dilarikan ke RSUD Rantauprapat,” tegas Naski Putra Tanjung yang merupakan Wakil Bendahara BADKO HMI Sumatera Utara itu.

Disisi lain, Nurdin Sipahutar SH salah seorang tim kuasa Amos membenarkan sebagai tim kuasa yang mendampingi Mahasiswa tersebut.

BACA JUGA:  Penemuan Mayat Laki-Laki di Jl. Poris Kota Tangerang

“Kita dari kuasa hukum sudah mendampingi Amos dalam proses pemeriksaannya sebagai korban penganiayaan pada aksi unjuk rasa kemarin Senin (30/09/2019). Jadi kita tunggu proses kelanjutannya,” ungkapnya, Kamis (3/10/2019) via selular.

Nurdin juga berharap, pihak penegak hukum yakni Polres Labuhanbatu untuk profesional dalam menangani kasus itu. “Kami berharap pihak penegak hukum profesional menangani kasus penganiayaan terhadap klien kami. Hal ini juga akan kita laporkan ke jenjang yang tinggi melalui surat tertulis. Baik ke Polda Sumut, Devisi propam Mabes Polri dan Komisi Kepolisian Nasional. Jika tidak ada tanggapan maupun respon dari Polres Labuhanbatu. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Polres Labuhanbatu,” kata Nurdin Sipahutar, SH mewakili tim kuasa hukum lainnya.

Terpisah, Pimpinan media kabartoday.co.id Mustofa Hadi Karya yang akrab disapa bung Opan ini mendesak pihak kepolisian dan unsurnya segera melakukan proses serius terhadap para oknum satuan satpol PP dan oknum polisi Labuhanbatu. Ia juga akan bersurat ke Kapolri dan Kemendagri terkait kasus penganiayaan ini yang menyebabkan luka lebam yang dialami Amos.

“Harus segera itu diproses, nanti kita akan suratkan Kapolri dan Kemendagri terkait oknum dari instansi dan institusinya di Labuhanbatu yang maen hajar wartawan kami. “Tegas Opan.

Terlepas dari kepentingan aksi Amos bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya, Opan menjelaskan bahwa itu merupakan penyampaian pendapat dimuka umum yang dilindungi Undang-Undang, terlebih Amos juga seorang wartawan.

Sementara, Kapolres Labuhanbatu AKBP Agus Darojat SIK SH MH melalui Kasat Reskrim AKP Jama K Purba SH MH ketika dikonfirmasi terkait laporan tersebut, pihaknya akan memproses lanjut penyelidikan. “Sat Reskrim akan memproses lanjut atas laporan tersebut. Dan akan melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa pelakunya,” tegas Jama K Purba pada dinding media sosial (WhatsApp) saat membalas konfirmasi awak media.

BACA JUGA:  Kasat Lantas Polres Kampar Survei Jalan Rusak

Diceritakan sebelumnya, aksi unjuk rasa ratusan massa yang terdiri dari beberapa unsur organisasi Kemahasiswaan (GMNI, GMKI, HMI dan unsur organisasi Kemahasiswaan lainnya di depan gedung DPRD Kabupaten Labuhanbatu menuntut janji konsistensi anggota DPRD Labuhanbatu menolak revisi hasil UU KPK, RKUHP, RUU Pertanahan dan beberapa rancangan undang-undang lainnya melalui pernyataan yang ditandatangani bersama.

Ketua DPRD sementara Eko Apriyanto Hasibuan dan Wakil ketua sementara Abdul Karim Hasibuan beserta Kapolres Labuhanbatu AKBP Agus Darojat SIK MH didampingi beberapa perwira Jajaran Polres membujuk massa untuk memberikan perwakilannya agar dapat berdiskusi. Namun, pihak Mahasiswa menolak ajakan hal tersebut. Dikarenakan, pihak aksi demonstrasi meminta seluruh anggota DPRD agar turun untuk bersama-sama membahas di depan gedung DPRD Labuhanbatu.

Tak memiliki titik temu hasil mediasi di depan pintu gerbang gedung DPRD Labuhanbatu, Kapolres, Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD Labuhanbatu, aksi unjuk rasa Mahasiswa dilanjutkan membakar ban dan keranda mayat yang dipersiapkan untuk melakukan aksi itu. Usai membakar ban dan keranda, massa yang tergabung dari beberapa organisasi Mahasiswa melakukan orasi kembali meminta untuk masuk ke halaman gedung DPRD Labuhanbatu, kemudian aksi dorong mendorong pun terjadi.

Pagar betis pengamanan yang tergabung dari Sat Pol PP dan personel Polres Labuhanbatu tidak tertembus oleh para pengunjuk rasa berjalan menuju Polres Labuhanbatu untuk melanjutkan aksi. Saat sampai di pintu gerbang keluar gedung DPRD, merasa kesal tidak ditanggapi, massa mendobrak masuk dengan mendorong dan menendangi pintu gerbang keluar halaman gedung DPRD Labuhanbatu.

Aksi kian memanas. Naas, dua orang Mahasiswa Universitas Labuhanbatu Amos Peblius Sihombing dan Bana Faqih ditarik paksa masuk ke halaman gedung DPRD Labuhanbatu oleh oknum pengamanan dari Polres Labuhanbatu tepat di depan pintu pagar gedung DPRD Labuhanbatu.

BACA JUGA:  Ketua LSM Gebrak Dukung Kejari Banyuwangi Usut Tuntas Dugaan Korupsi PT PBS

Menurut informasi, Amos diduga dikeroyok dan dipukuli oleh beberapa petugas gabungan pengamanan unjuk rasa yang sampai saat ini di isukan oknum Sat Pol PP Pemkab Labuhanbatu.

“Ditarik paksa Almamater ku sampai ke dalam. Ini luka apa? Ku tanya dulu sama kalian. Bang ini adikmu. Adikmu dipukuli, aku minta viralkan bang,” ucap Amos dengan nada keras dihadapan awak media sambil berjalan keluar dari halaman gedung DPRD Labuhanbatu.

Kasat Pol PP Pemkab Labuhanbatu Aminullah Harris ketika dikonfirmasi awak media terkait pemukulan terhadap Mahasiswa yang berunjuk rasa di depan gedung DPRD Labuhanbatu mengatakan tidak ingin ditanya soal pemukulan tersebut. “Mengenai pemukulan itu, janganlah ditanya-tanya dulu. Nantilah ditanyakannya,” ucap Harris disela-sela unjuk rasa membubarkan barisan.

Lanjut Aminullah Harris, jika pemukulan terhadap Mahasiswa tersebut memiliki bukti, pihaknya akan segera menindak lanjuti. “Jika ada bukti, kita proses. Jangan katanya-katanya. Kita melakukan pengamanan sesuai standart prosedur. Kalau sudah garis kuning, anggota tidak akan berada di depan,” sambungnya, ketika dikonfirmasi awak media, Selasa (1/10/2019) via selular.

Namun, dalam video yang beredar di media sosial dengan durasi 0.37 menit, aksi massa yang kian memanas terekam. Amos Sihombing awalnya menunjuk-nunjuk seorang anggota Sat Pol PP. Kemudian, oknum perwira dari Polres Labuhanbatu menarik almamaternya disambut oknum Satpol PP. Hingga tepat dekat Pos jaga gedung DPRD Labuhanbatu, Amos dikelilingi oleh petugas dari Kepolisian dan Sat Pol PP dan menjadi bulan-bulanan hantaman mereka.[]Op/red

Komentar