oleh

Bareskrim Polri Kirim Tim ke Ambon Back Up Polda Maluku Sidik Kasus Pembobolan BNI Rp. 58,95 Miliar

Kabartoday, AMBON – Mabes Polri menerjunkan tim penyidik dari Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) ke Ambon. Tim penyidik ini akan memback up penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku menangani kasus pembobolan uang Bank Negara Indonesia (BNI) 1946 senilai 58,950 miliar rupiah. Pembobol uang milik bank pelat merah ini ternyata sindikat oknum-oknum pegawai BNI sendiri.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Muhammad Roem Ohoirat mengatakan saat ini tim penyidik dari Bareskrim Mabes Polri telah berada di Kota Ambon. Tim ini juga telah bergabung dengan penyidik Ditreskrimsus menangani kasus kejahatan perbankan di Bank BNI Cabang Ambon.

“Tim penyidik dari Bareskrim Polri telah berada di Ambon. Mereka datang untuk supervisi sekalian memback up sekalian penyidik Ditreskrimsus dalam kasus penyidikan kejahatan perbankan di Bank BNI Ambon,” papar Ohoirat kepada Kabartoday.co.id Kamis (28/11) di ruang kerjanya.

Kombes Pol Muhammad Roem Ohoirat, Kabid Humas Polda Maluku

Kehadiran tim Bareskrim Polri ke Ambon ini kata Ohoirat merupakan permintaan langsung Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa ke Mabes Polri. Lumowa meminta untuk diturunkan tim penyidik membantu penuntasan kasus kejahatan perbankan di wilayah hukum Polda Maluku yang nilai kerugiannya cukup fantastis ini.

BACA JUGA:  Lasman Singgung Kepala UP Parkir DKI Diskriminatif dan Koncoisme

Perwira menengah Polda Maluku dengan tiga melati dipundak ini ungkapkan dengan kehadiran tim Bareskrim ini untuk menepis adanya opini miring dalam penanganan kasus yang telah menetapkan enam orang tersangka ini.

“Ini tim dari Bareskrim sudah ada. Dalam penyidikan kasus ini sudah banyak pihak terlibat serta memonitoring kasus ini. Selain dari Polda Maluku dan Bareskrim Polri, pihak BNI selalu korban juga ada lawyer dari Jakarta yang ikut memonitoring penyidikan,” terang Ohoirat.

Mantan Kapolres Aru dan Kapolres Maluku Tenggara ini tegaskan, semua pihak yang terlibat dalam penanganan kasus ini memiliki tujuan yang sama yaitu berharap proses kasus hukum sesuai dengan koridor aturan yang berlaku.

Ia katakan, jika banyak pihak sudah terlibat maka dipastikan dalam penyidikan kasus ini tidak lagi ada opini miring ditengah masyarakat yang mengatakan ada perlakuan istimewa terhadap tersangka atau anggapan negatif lainnya yang dapat mendiskreditkan Polda Maluku.

Mantan Wadirreskrimum Polda Maluku ini tegaskan, dalam penyidikan serta pengembangan kasus pihak-pihak yang ikut terlibat maupun merasakan keuntungan dari praktik curang kejahatan perbankan ini pasti akan diperiksa satu persatu.

BACA JUGA:  Usai Pemeriksaan, Aktivis Robet Minta Maaf, Polisi Menjerat Robet Pasal 207 KUHP

“Siapapun dia yang terlibat pasti akan diperiksa penyidik. Dan jika ditemukan bukti yang kuat maka pasti akan menyandang status tersangka,” tegas salah satu putra terbaik Bumi Larvul Ngabal ini.

Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan enam orang tersangka yaitu lima dari internal BNI serta satu orang luar BNI. Awalnya penyidik menetapkan aktor utama pembobolan Farahdhiba Jusuf yang menjabat wakil pimpinan bidang pemasaran dan bisnis Kantor Cabang Utama (KCU) BNI Ambon serta saudara angkatnya Soraya Pellu sebagai tersangka.

Dalam pengembangan pemeriksaan, penyidik kemudian menetapkan empat orang pimpinan Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI sebagai tersangka.

Mereka masing-masing Kepala KCP Tual Chris Rumahlewang yang sebelumnya menjabat Kepala KCP BNI Universitas Pattimura. Kemudian Kepala KCP BNI Dobo Yoseph Maitimu yang sebelumnya sebagai Kepala KCP Tual. Tersangka berikutnya adalah Kepala KCP BNI Masohi Maritje Muskitta serta Kepala KCP Mardika Cello.

Modus operandi empat tersangka mantan Kepala KCP BNI ini yaitu aksi pembobolan aktor utama Farahdhiba Jusuf dengan cara membantu memalsukan slip atau voucher transaksi serta menerima sejumlah uang fee.

BACA JUGA:  Festival Goyang Karawang Internasional Positif Angkat Minat Wisatawan

Walaupun telah ada enam tersangka dalam kasus ini, Ohoirat tegaskan tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka baru. Semua tergantung pengembangan hasil penyidikan.

“Tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka baru. Kan penyidikan masih terus berlangsung intensif. Pengembangan terus dilakukan penyidik. Jika nanti ditemui ada bukti keterlibatan orang lain, bisa saja akan ada penambahan tersangka,” ungkap kandidat kuat Walikota Tual periode berikutnya.

Untuk tersangka Farahdhiba Jusuf, selain dijerat dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan juga dikenakan dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Saat ini, keenam tersangka tersebut telah menghuni rumah tahanan Polda Maluku di Tantui. Penyidik juga telah mengamankan beberapa unit mobil mewah milik Farahdhiba Jusuf antara lain dua unit mobil Toyota Alphard, satu unit mobil Toyota Fortuner serta, satu unit mobil Honda H-RV. Selain itu uang tunai sebanyak Rp. 1.560.000.000,- juga disita penyidik dari rumah Farahdhiba Jusuf di kawasan perumahan elit Citra Land Kota Ambon. Penyidik juga masih terus mengejar aset-aset lain milik Farahdhiba Jusuf. (Manuel)

Komentar