oleh

Bareskrim Polri, Tangkap Djoko Tjandra

KabarToday, JAKARTA – Buronan kasus korupsi hak tagih (cassie) Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra ditangkap Bareskrim Polri di Malaysia.

Penangkapan dipimpin langsung oleh Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, bekerja sama dengan pihak kepolisian Diraja Malaysia.

“Berkat kerja sama kami, saat ini Narapidana Djoko Tjandra sudah berhasil kita amankan, dan kita bawa pulang ke Indonesia,” ujarnya.

“Dari pencarian itu kami dapat info ada di Malaysia, oleh karena itu kita tindaklanjuti. Kapolri langsung kirim surat ke polisi diraja Malaysia, siang tadi dapat info yang bersangkutan bisa diketahui. Tadi sore kami dari Bareskrim berangkat untuk melakukan penjemputan. Dan Alhamdulillah kerja sama kami Bareskrim dan kepolisian diraja malaysia, Djoko Tjandra berhasil kita amankan,” kata Listyo Sigit di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (30/7/20) malam.

BACA JUGA:  Teroris Biadab Renggut Nyawa Ummat Islam Tidak Bersalah

Kabareskrim menegaskan penangkapan Djoko Tjandra tersebut menjadi jawaban dari keraguan publik atas kinerja Polri selama ini.

“Untuk menjawab keraguan publik selama ini, Polri bisa menangkap dan kita tunjukan komitmen, Djoko Tjandra kita amankan dan tangkap,” tegas Listyo Sigit kepada awak media.

“Selanjutnya akan kita lakukan penyelidikan dan penyidikan,” tandasnya.

Sebelumnya, perjalanan kasus Djoko Tjandra melalui lika-liku yang panjang.

BACA JUGA:  Waspada! Ancaman Radikalisme Dan Konspirasi Global

Dilansir dari Kompas.com skandal cessie Bank Bali bermula saat bank tersebut kesulitan menagih piutangnya yang tertanam di BDNI, Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Tiara pada 1997.

Saat itu, krisis moneter melanda sejumlah negara termasuk Indonesia. Total piutang di ketiga Bank tersebut mencapai Rp 3 triliun.

Akan tetapi, hingga ketiga Bank itu masuk perawatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), tagihan tersebut tak kunjung cair.

Dikutip dari liputan khusus Kontan, ditengah keputus-asaannya, Direktur Utama Bank Bali, Rudy Ramli akhirnya menjalin kerja sama dengan PT Era Giat Prima (EGP). Saat itu, Djoko Tjandra menjabat sebagai direktur.

BACA JUGA:  Tolak Tandatangani BAP, Ruslan Buton Malah Ditahan

Sementara, Setya Novanto yang kala itu sebagai Bendahara Umum Partai Golkar menjabat sebagai Direktur Utamanya.

Perjanjian kerja sama pun diteken pada 11 Januari 1999 oleh Rudy Ramly, Direktur Bank Bali Firman Sucahya dan Setya Novanto.

Disebutkan bahwa EGP akan menerima fee sebesar setengah dari piutang yang dapat ditagih.

Bank Indonesia dan BPPN akhirnya setuju untuk menggelontorkan uang sebesar Rp 905 miliar.

Namun, Bank Bali hanya kebagian Rp 359 miliar, sedangkan Rp 546 miliar sisanya masuk ke rekening PT EGP. (tom)

Komentar

News Feed