oleh

Biaya US 2021 SDN 14 Ambon Ditanggung Sekolah

Kabartoday, AMBON – Pelaksanaan ujian sekolah siswa kelas VI SD tahun akademik 2020/2021 direncanakan akan diselenggarakan pada awal bulan Mei mendatang.

Untuk SD Negeri 14 Ambon, berbagai persiapan terus dilakukan untuk mematangkan siswa kelas VI menghadapi ujian ini. Walaupun selama masa pandemi Covid-19, proses belajar mengajar dilakukan secara daring atau online, namun siswa peserta ujian terus digodok untuk ujian nanti.

Untuk pelaksanaan ujian ini, para siswa tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Semua keperluan ujian ditanggung pihak sekolah.

Hal ini ditegaskan Kepala Sekolah SDN 14 Ambon Ny. Teodora M Tiwery kepada media ini di ruang kerjanya, Selasa (30/3/2021).

“Tahun 2021, untuk pelaksanaan ujian, sekolah tidak pungut biaya dari siswa. Semuanya ditanggung pihak sekolah,” ujar Tiwery.

Ia katakan pelaksanaan ujian tahun 2021 dilakukan secara daring, karena selama ini dimasa pandemi Covid-19, tidak ada proses belajar mengajar tatap muka. Semua proses dilakukan secara daring alias online.

Tepis Pungli Tahun 2020

Kondisi berbeda saat pelaksanaan ujian tahun akademik 2019/2020 lalu. Tiwery jelaskan saat itu ada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 43 Tahun 2019 yang mengatur tentang Penyelenggaraan Ujian Yang Diselenggarakan Satuan Pendidikan dan Ujian Nasional. Sesuai Permendikbud ini maka pelaksanaan ujian dikembalikan ke sekolah masing-masing atau sekolah asal.

Ia beberkan, sebelum terbitnya Permendikbud ini, pihak sekolah telah membuat Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS) dimana anggaran untuk setiap program sudah dialokasikan.

Saat penyusunan RKAS tersebut, asumsinya adalah pelaksanaan ujian nasional (UN) masih seperti tahun sebelumnya dimana semua hal disiapkan oleh pemerintah lewat Dinas Pendidikan. Baik materi maupun penggandaan soal ujian semuanya oleh pihak Dinas Pendidikan.

Namun dengan terbitnya Permendikbud tersebut yang mengatur ujian dikembalikan ke sekolah membuat pihak sekolah agak kelabakan. Pasalnya, semua anggaran telah diplot sesuai RKAS sehingga biaya ujian dirasakan terlalu kecil dibandingkan anggaran yang harus disediakan untuk proses ujian di sekolah.

BACA JUGA:  GPMI Siapkan Generasi Rabbani DKI Jakarta

“Kalau tahun-tahun sebelumnya, bahan ujiannya disiapkan oleh Dinas Pendidikan. Namun dengan ujian dikembalikan ke sekolah, maka soal harus disusun sendiri oleh sekolah, serta penggandaan materi ujian juga oleh sekolah. Konsekwensinya ada penambahan biaya,” tukasnya.

Untuk penyusunan soal juga para guru mata pelajaran ujian diberi training karena harus ada beberapa soal yang sifatnya hot yaitu agak sulit dibanding soal standar.

“Karena guru-guru belum paham membuat soal yang sifatnya hot, maka kita buat pelatihan selama dua hari. Kita hadirkan trainer yaitu ada kepala sekolah yang pernah mengikuti pelatihan ini di pusat. Mereka yang kita hadirkan sebagai trainer. Konsekwensinya ada biaya akomodasi untuk trainer,” beber Tiwery.

Setelah pelatihan, selanjutnya para guru menyusun soal ujian. Konsekwensinya juga sekolah menyiapkan konsumsi.

Dengan berbagai kegiatan hingga pelaksanaan ujian sebagai konsekwensi terbitnya Permendikbud Nomor 43 Tahun 2019, alokasi Dana BOS dalam RKAS dirasakan tidak mencukupi. Apalagi saat itu dana BOS tahun 2020 belum cair.

“Karena itu, dalam rapat para kepala sekolah SD se-kecamatan Nusaniwe yang dilaksanakan bulan Januari 2020 di SD Teladan, kita sepakat meminta bantuan sumbangan orang tua, per siswa Rp. 250.000,- karena memang saat itu Dana BOS tahun 2020 dari pemerintah belum cair sehingga kita minta bantuan orang tua,” ungkap Tiwery.

Ia katakan, menyangkut permintaan sumbangan orang tua siswa ini tidak hanya di kecamatan Nusaniwe saja, namun juga oleh semua SD di Kota Ambon.

“Karena dari koordinasi para kepala sekolah lima kecamatan se-Kota Ambon, semua sekolah sepakat meminta sumbangan orang tua sebesar Rp. 250.000,- per siswa,” tutur Tiwery.

Terhadap sumbangan ini, juga telah dilakukan rapat dengan orang tua siswa serta komite sekolah. Pada prinsipnya semua orang tua mendukung membantu kesulitan pihak sekolah agar pelaksanaan ujian tidak terganggu.

“Sesuai kesepakatan ini, maka ada sejumlah orang tua siswa menyetor sumbangan tersebut ke sekolah. Prinsip orang tua saat itu, proses ujian anak-anak mereka tidak boleh terganggu. Walaupun ada juga sejumlah orang tua siswa yang belum menyetor,” tandasnya.

BACA JUGA:  Pencalonan Bocank Sebagai Ketua KONI Meranti Semakin Menguat

Rangkaian persiapan ujian pun dilaksanakan. Para siswa kemudian mengikuti try out 1 yang dilaksanakan awal Februari tahun 2020 dan dilanjutkan dengan try out 2 yang digelar awal bulan Maret tahun 2020. Selanjutnya sekolah menyiapkan soal ujian dan menggandakan soal ujian sesuai jumlah siswa peserta ujian.

“Karena saat itu, sebelum merebaknya Covid-19, asumsinya akan ada pelaksanaan ujian secara manual atau tatap muka di sekolah. Namun makin masifnya virus Corona disaat jelang ujian, maka untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah kemudian meniadakan pelaksanaan ujian. Namun untuk try out 1 dan try out 2 sudah dilaksanakan sebelum adanya larangan belajar tatap muka di pertengahan bulan Maret,” jelasnya.

Ia katakan, walaupun ujian tidak dilaksanakan, namun sudah ada beberapa rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan seperti tryout 1 dan 2 hingga menyiapkan soal ujian. Tentunya sudah ada anggaran bantuan dari orang tua siswa yang telah terpakai.

Saat pengumuman kelulusan siswa, Tiwery hendak mengembalikan sisa uang sumbangan orang tua yang tidak terpakai karena ada beberapa kegiatan yang tidak jadi dilaksanakan akibat virus corona. Namun sejumlah orang tua siswa yang hadir saat itu sepakat untuk mendonasikan ke pihak sekolah.

“Para orang tua yang hadir sepakat apa yang sudah disumbangkan ke sekolah, mereka tidak meminta kembali. Orang tua sampaikan anak mereka telah dididik dari kelas satu hingga kelas enam dan sekarang sudah lulus, jadi mungkin uang itu bisa dimanfaatkan membeli cenderamata untuk sekolah. Akhirnya uang itu tidak jadi dikembalikan kepada orang tua,” urai Tiwery.

Kepada orang tua yang belum membayar uang ujian, Tiwery memberikan keringanan pembayaran. Tidak lagi diminta Rp. 250.000,- tetapi orang tua diminta untuk hanya membayar Rp. 150.000,- . Karena memang hingga pengumuman kelulusan, masih ada sejumlah siswa yang belum membayar uang ujian.

BACA JUGA:  Diduga Kadus Selingkuhi Janda, Istri dan Anak Kadus Labrak Si Janda

“Saat itu, saya katakan bagi yang belum membayar uang ujian, agar membayar hanya 150 ribu rupiah saja. Saya berikan keringanan tidak lagi bayar 250 ribu rupiah. Tetapih hanya 150 ribu rupiah saja. Karena saat itu sebagian besar siswa belum bayar uang ujian sehingga belum sempat dibelikan cenderamata buat sekolah,” jelasnya.

Ia menduga hal ini yang kemudian menjadi opini seakan-akan pihak sekolah meminta bayaran untuk pengambilan ijazah.

“Saya tegaskan, sejak awal saya menjadi kepala sekolah, saya tidak pernah meminta uang ijazah. Bahkan saya berikan kemudahan kalau ada orang tua yang bicara baik-baik sampaikan kalau tidak mampu, maka saya tidak paksa. Bahkan saya ambil uang saya untuk menutupinya,” tukasnya.

Ia tegaskan, uang sumbangan orang tua yang disepakati sejak awal sebesar Rp. 250.000,- bukan untuk pengambilan ijazah, tetapi untuk membantu kegiatan-kegiatan diluar RKAS hingga siswa ujian sekolah.

“Jadi itu bukan untuk pengambilan ijazah. Itu sumbangan orang tua untuk proses ujian. Jadi saya tegaskan, tidak ada pungli oleh pihak sekolah kepada para siswa karena semua besaran biaya sumbangan sudah disepakati sejak awal oleh para orang tua siswa,” pungkas Tiwery.

Terhadap sumbangan orang tua siswa peserta ujian tahun 2020 ini, juga terjadi di sejumlah SD lainnya di Kota Ambon.

“Apa yang terjadi di SD 14 juga kami lakukan di sekolah kami. Dan memang itu atas kesepakatan bersama dengan pihak orang tua,” jelas salah satu kepala sekolah SD di Kota Ambon yang enggan dipublikasikan.

Ia terangkan, adanya perubahan kebijakan soal ujian akibat adanya Permendikbud Nomor 43 tahun 2019 sehingga pihak sekolah berupaya untuk mensukseskan ujian. Walaupun memang tidak jadi dilaksanakan akibat adanya virus Corona. Dan ini juga dialami semua sekolah SD di Kota Ambon. (Manuel)

Komentar