oleh

Catatan Peserta FGD Yang Bukan Orang Jambi

Oleh: Noel Polstar, Redaksi Kabartoday

Kabartoday, Jakarta – Melalui tulisan ini, perkenankan saya menuangkan kekaguman saya pada kepedulian semua yang hadir dalam acara Focus Group Discussion (FGD) pada hari Sabtu, 22 Juni 2019, di Anjungan Jambi TMII.

Jika ditelusuri dari garis keturunan dari sisi manapun, saya bukan orang Jambi. Gunung Kerinci sudah lama saya tahu. Meski belum sekalipun kaki ini menapak di atas tanahnya. Sebatas itulah saya mengenal Jambi.

Dalam keseharian, sejak mengenal Prapto Pempek – saya memanggil beliau dengan panggilan Pak De, Jambi tiba-tiba menjadi hal biasa hilir-mudik di telinga saya. Informasi tentang Jambi – baik secara sengaja maupun tidak, hinggap di telinga saya melalui pembicaraan saya dengan Prapto Pempek – sosok yang saya anggap sudah menjadi “orang tua” saya sendiri.

Selain Gunung Kerinci, hal kedua tentang Jambi yang saya kenal adalah semangat Jambi yang tidak pernah kenal menyerah. Setidaknya, itu saya dapatkan langsung dari sosok Prapto Pempek. Mobilitas dan semangatnya membuat malu anak-anak muda.

Bagi saya, Prapto Pempek telah menjadi kamus tentang Jambi. Saya mengenal beberapa tokoh Jambi, tentang adat istiada masyarakat Jambi, tentang indahnya alam Jambi, tentang betapa potensinya Jambi jika diangkat ke dalam layar lebar, baik dari cerita yang keluar dari mulut Prapto Pempek maupun dari foto-foto kegiatan yang dibagikannya.

Bahkan gilanya lagi, saya pun sempat diajak bergabung dalam TP Sriwijaya – yang awalnya saya pikir organisasi sosial kemasyarakatan biasa, dan baru belakangan saya paham bahwa organisasi yang diketuai oleh Susno Duadji adalah organisasi ekslusif terkait dengan entitas Sumatera Bagian Selatan.

Seperti sudah saya sampaikan bahwa dari sisi manapun, saya tidaklah pantas mengaku sebagai orang Jambi. Tapi, karena disana ada “orang tua” saya – Prapto Pempek, yang sangat saya hormati, dan karena Jambi pun masih bagian Indonesia, – seingat saya ke Jambi sampai dengan saat ini tidak perlu urus visa dan bawa pasport, maka ijinkan saya untuk sedikit memberikan kontribusi pemikiran sebagai bagian dari urun rembuk tertulis FGD.

Saya masih belum cukup pe-de bersuara, sekaligus mengulas diskusi yang menurut saya sangat menarik yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu.

NUTRISI BARU BMKJ

Munculnya kata “Revitalisasi” sebagai judul FGD tidak lepas dari sosok Ketua Umum baru BMKJ, Syafril Nursal. Pria yang memilih karir sebagai polisi dan kini berpangkat Brigadir Jenderal, terlihat jelas sebagai sosok pemikir dan memiliki kemampuan memetakan persoalan secara sistematis dan terstruktur.

BACA JUGA:  Pasangan Mesum di Atap Masjid Saree Aceh Di Arak Massa

Tidak ingin gegabah menyusun kepengurusan, maka dipilihlah FGD sebagai forum awal – memetakan akar persoalan yang ada ditubuh BMKJ sendiri selama ini, memetakan dan sekaligus mengenal tokoh-tokoh yang kemungkinan besar akan dipilihnya duduk sebagai pengurus dalam rangka mewujudkan cita-citanya membesarkan BMKJ, memetakan dan menggali gagasan-gagasan besar yang nantinya akan diwujudkan sebagai program BMKJ, lalu memetakan pola hubungan kerjasama dengan instansi terkait khususnya Pemerintah Provinsi Jambi dan seluruh jajaran Pemerintahan Kabupaten/Kota se Provinsi Jambi.

Oleh sebab itu pilihan kata “Revitalisasi” sangatlah tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, revitalisasi adalah suatu proses atau cara dan perbuatan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya. BMKJ sudah lama ada.

Sudah lama pula bekerja dan memiliki manfaat. Namun Syafril Nursal hadir sebagai sosok ketua umum yang menjadi nutrisi baru bagi BMKJ dengan menawarkan konsep-konsep komperhensif yang akan membuat BMKJ ke depan pastinya sangat berbeda dengan BMKJ yang selama ini ada dan dikenal masyarakat Jambi perantauan.

Visioner namun penuh kehati-hatian. Orang Jambi bilang “Adat diisi, lembago dituang. Ada genting menanti putus, ada retak menanti pecah, ada biang menanti tebuk”.

MEMBUMIKAN GAGASAN

Bobot dan kualitas FGD yang mengambil tema “Revitalisasi Peran BMKJ Untuk Mendukung Pengembangan Spesifik Daerah Menuju Jambi Tuntas 2021”, dalam pengamatan saya sungguh luar biasa.

Kualitas dan bobot narasumbernya sangat berkelas. Hadir tokoh-tokoh senior Jambi sarat pengalaman di bidangnya. Thamrin B. Bachri – Senior Associate Parner Tourism & Hospitality Industry.

Beliau adalah juga mantan Dirjen Pemasaran Kementrian Pariwisata. Orang yang sangat tepat untuk berbicara tentang strategi pengembangan pariwisata yang memiliki manfaat bagi masyarakat. Zulkofli – boleh dibilang sesepuh yang sudah makan asam garam membangun dan menjaga keutuhan BMKJ selama ini.

Hadir pula pakar pendidikan – pemilik salah satu sekolah unggulan di bilangan Cibinong, DR. H. Basyarudin Thayib, M.Pd. Hadir pula H. Agus Sunaryo – mewakii Gubernur Jambi memaparkan Jambi kekinian.

Tidak kalah hebatnya adalah tokoh-tokoh muda Jambi. Ada Sauki- dengan pengalamannya sebagai technopreneur, Ridwansyah – yang bertugas sebagai moderator.

Pria yang cukup piawai dalam mengatur flow dan arah diskusi ini, pernah mewakili Indonesia berbicara dalam satu forum di Brasil. Pun demikian peserta yang hadir. Dan, anak muda anak muda laiinya yang rata-rata adalah tokoh penting di bidangnya. Prapto Pempek- aktor, seniman, pelawak NKRI pun hadir. Dalam usianya yang tidak lagi muda, tapi memiliki semangat yang mampu mengalahkan semangatnya anak muda.

BACA JUGA:  Brinus DPD Depok Gelar Halal Bihal dan Konsolidasi

Jadilah diskusi itu bertebaran gagasan. Hampir semua gagasan yang muncul meski tidak bisa dikatakan original, tapi fresh dan bisa dioptimalkan untuk membesarkan BMKJ – sehingga memiliki nilai manfaat khususnya bagi masyarakat Jambi perantauan, dan secara tidak langsung memberikan nilai manfaat bagi masyarakat Jambi.

Diantara gagasan itu memang ada yang bersifat sangat teknis, ada yang hanya baru berupa konstruksi, ada yang merupakan upaya menggabungkan kondisi yang sudah dan menganalogikannya dengan penerapannya di Jambi, tapi tetap semuanya adalah baru berupa gagasan.

Gagasan-gagasan itu akan sangat baik jika disusun dalam satu bank gagasan – lalu dipilih sesuai skala prioritas. Concerned yang pertama pastinya yang harus difokuskan adalah pembenahan organisasi BMKJ.

Aspek legal standing – yang langsung berkaitan dengan visi dan misi organisasi (AD/ART) dan scope of work organisasi, termasuk di dalamnya format yang akan diambil, menjadi prioritas utama.

Dalam diskusi muncul adanya istilah konfederasi dan persatuan. Mana yang akan dipilih, disesuaikan dengan kebutuhan. Baru setelah itu bicara pada level program, dan level kerjasama dengan pihak lain termasuk pemerintah Provinsi Jambi.

Jika pemetaan itu sudah dirunut dan dipetakan secara gamblang, maka langkah-langkah dan gerakan yang akan dilakukan akan lebih mudah termasuk jika akan dilakukan check list tour of duty dan desentraslisasi pelaksanaan tugas – ini bisa dilakukan kendati struktur kepengurusan belum seutuhnya terbentuk. Tulisan ini, tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar sumbang saran untuk mengingatkan.

Usulan moderator agar dibuat matrix itu baik sekali. Gagasan-gagasan yang ada disusun sedemikia rupa disesuaikan dengan skala prioritas, tentukan target kapan dilaksanakan dan harus selesai kapan. Harus ada forum kontrol yang melakukan check list untuk pelaksaan setiap tugas yang harus diselesaikan. Dan melakukan teguran jika tugas itu belum terlaksana dengan baik. Jika tidak, maka gagasan itu tetap akan menjadi sebuah gagasan. Dia tidak akan pernah sampai pada tujuan.

Sedikit mengutip Marshall McLuhan (1962) dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy : The Making of Typographyc Man mengatakan bahwa budaya dibentuk dari bagaimana cara mereka berkomunikasi. Manusia menciptakan teknologi, pada gilirannya teknologi telah merubah cara manusia berkomunikasi, budaya komunikasi pun berubah.

BACA JUGA:  KPK Diminta Tangkap Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto

“Tekonologi telah merubah banyak hal. Kita harus mampu dan bisa menyesuaikan diri dengan itu, jika tidak ingin tertinggal,” tandas Syafril Nursal pada saat memaparkan materi. Syafril tidak memungkiri bahwa teknologi yang demikian cepat berubah harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam membesarkan organisasi BMKJ. “Tapi kita harus fokus pada hal-hal yang sifatnya spesifik,” lanjutnya.

Di tengah euforia dan semangat revitalisasi BMKJ banyak persoalan mengganjal yang secara terang benderang akhirnya terbuka. Karena BMKJ fokus pada masyarakat Jambi perantauan, maka BMKJ tidak memiliki kekuatan menekan atau setidaknya belum menjadi pressure group sehingga terkesan dipandang sebelah mata baik oleh pemerintah Provinsi Jambi termasuk di dalamnya pemerintah Kabupaten/Kota se-Jambi maupun masyarakat Jambi pada umumnya.

BMKJ masih dipandang sebatas komunitas kumpul-kumpul semata yang tidak memiliki manfaat secara langsung bagi masyarakat Jambi – bahkan pun sebagian besar masyarakat Jambi perantauan, ada yang belum melihat manfaat BMKJ bagi mereka.

Oleh sebab itu – hal utama yang menjadi begitu penting untuk segera diselesaikan adalah soliditas organisasi BMKJ, visi misi organisasi BMKJ yang benar-benar fokus dan terarah yang terimplementasikan nantinya dalam banyak program yang akan dibuat.

Diakhir catatan, saya ingin sampaikan, janganlah berputus asa dalam berbuat kebaikan. Jika pun tidak ada seorang pun yang memuji, maka yakinlah, banyak orang yang telah memetik hasil dari buah kebaikan itu. Selamat bekerja saudaraku, semoga BMKJ menjadi organisasi yang memberikan banyak manfaat baik bagi masyarakat perantauan Jambi maupun bagi kemajuan Provinsi Jambi.

Depok, 25 Juni 2019

Sedikit tentang penulis :
Mengutip kalimat Brigadir Jenderal Syafril Nursal, tak kenal maka tak sayang, maka dengan segala kerendahan hati, perkenankan penulis memperkenalkan diri.

Noel Polster adalah nama publish dari Lukmanul Hakim. Penulis lahir di Jakarta dari sepasang ayah-ibu yang juga orang Jakarta. Sebagai anak Betawi, setamat SMA penulis alhamdulillah bisa menimba ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Pernah jadi wartawan di Tabloid Bintang Indonesa. Panggilan Noel (Nul) kenangan yang diberikan oleh wartawan senior – teman sekaligus guru penulis, Arswendo Atmowiloto. Pernah bekerja di FremantleMedia (multinational company yang memproduksi program-program televisi semisal Famili 100), kini penulis adalah pembina beberapa media online seperti Kabar Today, CEO lembaga konsultan politik dan pelatihan soft-skill Polstar Indosurvey, dan terlibat dalam beberapa pembuatan konsep untuk kegiatan event organizer.

Komentar