oleh

Charta Politika: Jokowi Tidak Bisa Dipercaya

Kabartoday, JAKARTA –  Lembaga survei Charta Politika merilis temuan terbaru yakni tiga alasan mengapa pemilih tidak memilih pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf. Tiga alasan tersebut adalah tidak bisa dipercaya, tidak menepati janji dan kurang tegas.

“Alasan pemilih tidak memilih Jokowi dan Ma’ruf Amin, jadi ini hanya ditanyakan kepada pemilih Prabowo dan undecided voters. Tiga besarnya menurut saya menarik, ternyata bukan isu agama, “kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, sesaat lalu.

Hasil survei Charta Politika menyebut responden yang menilai Jokowi-Ma’ruf tidak bisa dipercaya sebanyak 16,5 persen, tidak menepati janji sebanyak 14,0 persen, dan kurang tegas atau tidak berwibawa sebanyak 8,3 persen.

BACA JUGA:  Mr Kan: Indonesia Berpotensi Tinggi Akan Mengalami Hal Serupa Kisah Titanik

Selain itu, sebanyak 7,9 persen pendukung pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai hasil kerja paslon tidak bagus, 6,9 persen berpihak kepada asing atau aseng, 5,7 persen tidak menyukai parpol pendukungnya. Lainnya, 5,5 persen karena usia wakilnya yang terlalu tua, 3,5 persen tidak suka programnya, hingga tiga persen tidak berpihak kepada Islam.

Sementara itu, Peneliti Drone Emprit, Ismail Fahmi mengungkapkan selama tiga bulan terakhir, warganet paling banyak menyerang isu terkait ‘janji’ Jokowi menjelang Pilpres 2019.

Survei yang dilakukan Drone Emprit ini diperoleh melalui data percakapan dari keywords di sosial media sejak Desember 2018 hingga Maret 2019 dan dianggap sejalan dengan hasil survei Charta Politika.

BACA JUGA:  Jika Tarif Ojol Naik Drastis Permintaan Konsumen Turun Hingga 71,12%

“Drone Emprit mengukur isu yang selama ini dalam tiga bulan terakhir menyerang Jokowi dan yang paling tinggi adalah soal ‘janji’, “kata Ismail, Kamis (28/3/2019).

Menurut Ismail, isu ‘Janji’ menduduki posisi pertama dari enam isu yang diukur Drone Emprit. Berdasarkan data, volume percakapaan isu ‘janji’ sebesar 394.563.

Lima isu lainnya seperti Jokowi-Anti Islam dan Ulama sebesar 28.265, Jokowi-PKI 95.920, Jokowi-China 72.408, Jokowi-Leadership 105.416, dan Jokowi-Klaim 112.079.

“Kalau saya lihat ada fokus yang salah dari TKN, fokusnya kan banyak soal hoaks bahwa anti Islam dan ternyata sudah tidak. Jadi kalau TKN masih banyak menyoroti soal anti islam dan PKI, ini akan salah fokus, “jelasnya.

BACA JUGA:  Presisi: Konflik Hukum Civic Rohingya dan Pribumi Indonesia

Ismail menilai hal yang harus perhatikan oleh Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf ialah dampak dari seruan oposisi terkait janji dan dugaan kebohongan Jokowi di sosial media.

“Selama tiga bulan ini oposisi banyak menyuarakan atau mungkin sebelumnya juga ya, banyak menyuarakan (kritik) janji-janjinya Jokowi. Ini bisa merubah orang menjadi pemilih kemudian menjadi undecided, untuk tidak memilih. “pungkasnya. (Beb)

Komentar