oleh

Diduga Serobot Tanah Keluarga Batuwael di Waeapo, Ferry Tanaya Akan Dipolisikan

-Daerah, Hukum-153 views

Kabartoday, AMBON – Ferry Tanaya, pengusaha terkenal di Maluku yang bergerak di bagian kehutanan dalam waktu dekat akan dipolisikan. Ferry Tanaya diduga telah menyerobot ribuan hektar areal hutan meranti milik keluarga Batuwael di dataran tinggi Waeyapo, Petuanan Kaiely, Kecamatan Waeyapo Kabupaten Buru.

Hal ini diungkapkan Helena Pattirane, kuasa hukum Miryam Batuwael Ayhuan salah satu ahli waris keluarga Batuwael selaku pemilik areal kepada media ini di Ambon Selasa (13/10/2020).

“Kita akan proses secara hukum pidana maupun perdata. Langkah awal yang kita akan ambil adalah laporan pidana karena terbukti penggelapan, penipuan serta pemalsuan surat-surat kepemilikian tanah milik keluarga Batuwael,” tegasnya.

Ia jelaskan, tanah areal Kibo Bialahin Leon ini sudah ada sejak jaman nenek moyang di masa lampau. Raja-raja gunung di dataran Waeapo ini sudah saling mengetahui kalau areal dataran tersebut merupakan milik Kibo Bialahin Leon.

“Raja-raja gunung ini mengetahui bahwa areal tanah tersebut merupakan milik Kibo Bialahin Leon atau keluarga besar Batuwael,” jelasnya.

BACA JUGA:  Penutupan STQ Oleh Gubernur Kalbar

Pengacara berparas cantik ini beberkan sesuai prosedural untuk menguasai suatu lahan milik kepunyaan tuan tanah, maka harus ada pelepasan alas hak terlebih dahulu antara pembeli dan pemilik tanah.

Apalagi sudah terbukti secara aturah hukum adat dan aturan hukum nasional, bukti kepemilikan tanah petuanan keluarga Batuwael di dataran Waeyapo itu sangat luas, dan alas haknya itu diakui oleh sebelas raja gunung.

“Sehingga, bila Ferry Tanaya mendapat alas hak dari pihak atau marga lain, maka itu tidak sesuai dengan aturan hukum atau cacat hukum. Jadi penguasaan areal ribuan hektar hutan meranti kepunyaan keluarga Batuwael itu sebenarnya cacat hukum. Jadi sudah melakukan penggelapan atas hak diatas tanah keluarga Batuwael,” tandas Pattirane.

Ibu Miryam Batuwael Ayhuan selaku salah satu ahli waris keturunan Batuwael mengungkapkan surat kepemilikan areal tersebut ditandatangani oleh 11 kepala adat di dataran tinggi Waeapo. Surat kepemilikan lahan ini telah disahkan oleh Kepala Persekutuan Hukum Adat Petuanan Kaiely, Raja M Fuad Wael.

BACA JUGA:  Disiplin Berlalulintas Warga Banyuwangi Masih Rendah, Satlantas Gencar Lakukan Sosialisasi dan Edukasi
Ibu Miryam Batuwael Ayhuan, salah satu ahli waris keluarga Batuwael atas areal tanah Kibo Bialahin Leon di dataran Waeapo, Pulau Buru

“Semua raja gunung (Kak Sodi) dan Hinolong-Hinolong itu sudah tanda tangan untuk penyerahan tanah dataran tinggi Waeyapo itu untuk keluarga besar Kibo Bialahin Leon ini yang kita ada di dalamnya, dan sudah disahkan oleh Kepala Persekutuan Hukum Adat Petuanan Kaiely, Raja M Fuad Wael. Jadi surat keputusannya sudah disahkan dan ini merupakan keputusan sidang adat dataran tinggi Waeapo,” tegas Miryam Batuwael Ayhuan.

Dalam surat itu, sebanyak 11 kepala adat menandatangani penegasan kepemilikan areal Kibo Bialahin Leon dengan menyatakan areal tersebut benar milik saudara kawasan Panus (Batuwael-red) dan seluruh anak cucunya. 11 kepala adat tersebut antara lain, Pertama, Kepala Adat Dataran Tinggi Waeapo Kak Sodi Ali Wael. Kedua, Deis Wael (Kepala Adat Derlale). Ketiga, Gebat Wael (Kepala Adat Wapsalit). Keempat, Kawasan Mada Wael. Kelima, Mana Bantu Wael. Keenam, Matehidit Fangu Wael. Ketujuh, Manalawang (Kepala Adat). Kedelapan, Bapak Adat Latbual. Kesembilan, Bapak Wehe Wael (Geba Puji), Kesepuluh, Matlea Mona Nurlatu dan kesebelas, Slamet Behuku (Matlea Gewagi). Surat ini juga telah disahkan oleh Kepala Persekutuan Hukum Adat Petuanan Kaiely, Raja M Fuad Wael

BACA JUGA:  Guna Menjaga Kestabilan Harga, TPID Pontianak Gelar Rakor

Ia katakan, jika berbicara soal areal dataran tinggi maka wilayahnya mulai dari pegunungan sampai ke daerah pantai. Saat itu, seluruh kepala adat serta warga di Pulau Buru belum mengetahui akan adanya kandungan material emas dalam perut bumi dataran Waeapo terutama di Gunung Botak yang juga masuk dalam areal tersebut.

Ahli waris ungkapkan pula bahwa di dalam areal ini ada juga ribuan hektar hutan meranti. Saat ini diketahui, kalau Ferry Tanaya sudah melakukan eksploitasi dengan mengambil kayu-kayu meranti dalam areal tersebut.

“Pastinya, dari pihak keluarga kita, sampai sekarang tidak pernah memberi ijin, menyewakan atau menjual lahan kepada Ferry Tanaya untuk digarap,” tandasnya. (Imran)

Komentar