oleh

Djoko Edhi Bantah Tuduhan Kelompok BEM & Cipayung Memfitnah Dirinya

Kabartoday, Jakarta – Mantan anggota DPR RI Komisi III fraksi PAN, Djoko Edhi Soetjipto Abdurrahman menjadi viral gegara meng-upload di akun FB nya bukti kesepakatan antara Badan Intelejen Nasional (BIN) dengan kelompok BEM dan Cipayung beberapa bulan lalu.

Djoko Edhi juga menulis di FB miliknya terkait aliran dana yang digelontorkan BIN untik Tim BEM dan Cipayung sebagai dana bungkam mengkritik Jokowi, akibatnya mengundang pihak-pihak yang terkait meradang.

Ormas yang dianggap menerima suap ditulis Djoko Edhi seperti PB HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, IMM, Hikmabudhi, dan KMHDI, yang masing-masing mendapat Rp 200 juta per bulan, bahkan Ketua umumnya disebut mendapat Rp 20 juta per bulan.

Isi unggahan sebagaimana di kutip dari akun fb atas nama Djoko Eddhi Abdurrahman ini ditulisnya pada tanggal 17 November 2018 lalu; 

mohon maaf mengganggu. Saya mau minta bantuan Mas Joko. Kemarin saya ada ngetwit tentang suap dari kepala BIN kepada beberapa ormas mahasiswa (PB HMI, PMII, GMNI, GMKi, PMKRi, IMM, Hikmabudhi, KMHDI) yang masing2 ormas mendapat Rp200 juta per bulan, ketua PB masing2 Rp20 juta per bulan.

Ormas Mahasiswa ini dìminta untuk atas nama organisasi agar tidak mengkritisi dan oposan terhadap pemerintahan Jokowi, minimal sampai Okt 2019. Di samping itu, mereka tanpa harus membawa nama organisasi, diminta untuk mendeklarasikan ormas relawan Jokowi bernama MADANI.

Ormas Relawan ini sdh dibentuk para ketum PB dan sementara berkantor di Tebet, dekat kantor BM PAN. Harga sewa kantor Rp280 juta langsung dibayar cash oleh oknum BIN dan biaya ops tahap awal utk Madani Rp 1 miliar sdh diserahkan.

KA BIN juga akan menanggung biaya deklarasi Relawan Madani (Mahasisa Pemuda untuk Jokowi) secara nasional di Surabaya pada Des 2018 sebesar Rp5 miliar daj disusul deklarasi Madani di seluruh propinsi dengan biaya dari BIN Rp500 juta per propinsi.’

Video terkait

Bahkan Djoko Edhi saat itu terancam akan dipolisikan, namun sampai hari ini tak ada klarifikasi dari pihak-pihak tersebut dan tidak adanya laporan kepolisian atas dirinya.

BACA JUGA:  Berita Duka, Kena Serangan Jantung Direktur Tipikor Polri Meninggal Dunia

“Saya tunggu laporan polisinya tapi tak ada. Ente sudah ngancam mau polisikan saya. saya jawab, “silahkan!”. Terus, pihak BIN, juga ngomong. Jubir BIN mengatakan, “mereka tidak mau menuntut”. Karena saya dianggap cuma konfirmasi. Kok ente telmi? Tuntut dong kalau ente hebat. Saya tunggu. Enak makan suap. “kata Djoko Edhi saat dikonfirmasi, Jum’at (7/6/2019).

BACA JUGA:  Baliho Prabowo Presiden Pilihan Rakyat Terpampang di Pekanbaru

Djoko Edhi menduga omongan mereka hanya gertakan saja, “sampai hari ini cipayung dan BEM tak mampu bicara. Keselek suap. Sampai kapan? “Ketusnya.

Bahkan kata Djoko Edhi, ketika aksi 21-22 Mei 2019 kemaren, berjatuhan korban jiwa akibat peluru tajam, banyak pendemo luka-luka dan puluhan orang hilang, tetapi kelompok Cipayung dan BEM bungkam. “Tanda tanya besarkan? “Singkatnya.

BACA JUGA:  Otto Hasibuan Tak Sependapat Pandangan YIM Soal Syarat Pelantikan Presiden

Djoko Edhi juga membeberkan ketika demo tanggal 19, 20 dan 21 Mei 1998 di gedung DPR beberapa tahun lalu, Djoko Edhi juga menyebut tak ada Cipayung di situ. Kelompok demo itu atas nama perguruan tinggi, Cipayung kemana? Sembunyi. Takut digebuk massa kali.

“Saya sedang meneliti mahasiswa demonstran di situ selama 3 hari. Laporannya saya turunkan di Majalah Forum dan Majalah Gatra, namun saya tak melihat ada Cipayung disitu. Kelompok demo itu atas nama perguruan tinggi. Laahh Cipayung kemana? Apakah sembunyi karena takut digebuk massa? “ulas Djoko Edhi.(Op/red)

Komentar