oleh

DR Ilyas : Pasal 112 & 111 Semestinya Ditambah Ayat 3 Yang Materinya SEMA No.4/2010

Kabartoday, Lampung – Ternyata selain ahli di bidang Narkotika DR Ilyas S.H, M.H cukup lama pernah menjadi seorang reporter RRI, ia sudah terbiasa meliput segala kegiatan bidang Pendidikan, Sosial, dan agenda di setiap persidangan, pengalaman itu mempengaruhi kepribadiannya menjadi bertambah kukuh dalam setiap pendirian untuk mendalami segi hukum bidang Narkotika.

Keinginannya untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan merupakan obsesi utamanya dan Alhamdulilah mimpi itu terwujud setelah dirinya di mutasi dari BNN (Badan Narkotik Nasional) ke Dikti, dan menjadi salah satu Dosen Fakultas Hukum di daerah Karawang, Jawa barat.

Ketika dirinya dihubungi lewat telepon seluler DR. Ilyas mengatakan,
“Sangat senang dengan posisi sebagai Dosen, sebab semua yang dilakukan, mengingatkan saya menjadi seorang reporter RRI (Radio Republik Indonesia), ia selalu memberikan kabar terbaru khususnya bagi masyarakat luas,” katanya, Senin (30/11/2020).

BACA JUGA:  Aktivis dan Mahasiswa Banyuwangi Desak Pemerintah Kembalikan Tanah Pakel

Saya meyakini informasi di setiap pemberitaan bisa menjadi kontrol untuk merubah Kognitif, Afektif seseorang, jika informasi itu benar akan memberi manfaat secara luas,” sambungnya.

Dalam penegakan Hukum Narkotika Dr Ilyas S.H, M.H mengaku tidak ragu-ragu untuk memberikan arahan kepada siapapun terutama mereka para pengguna atau sipecandu yang sedang berurusan dengan Hukum Narkotika.

“Keyakinan saya berdasarkan Desertasi saya soal hukum Narkotika, ditambah pengalaman selama 7 tahun bertugas di BNNP Cirebon bagian rehabilitasi untuk setiap korban Narkotika,” terangnya.

Dalam setiap ilmu dan pengalamannya, dirinya semakin bersemangat karena sejak Tahun 2013 sampai dengan sekarang sudah banyak Pengguna dan Pecandu Narkotika yang berani melakukan upaya Hukum Banding dan Kasasi, dan selalu Mahkamah Agung memberi putusan Kabul atau Tolak Perbaikan yang meringankan hukuman terdakwa selama dalam proses persidangan.

BACA JUGA:  Gubernur Maluku Lantunkan Tembang Rohani di Acara Sinode III Keuskupan Amboina

DR Ilyas S.H, M.H tidak sendirian, dirinya selalu berdiskusi intens dengan Komjen Pol (Purn) Dr.anang Iskandar S.H, M.H dan Brigjen Pol. (Purn) Drs. Siswandi, ketiganya memiliki cara pandang yang sama masalah rehabilitasi dan pencegahan terhadap Narkotika, hubungan ketiganya menjadi menarik, sebab ketiga orang tersebut sama-sama pernah bertugas di BNN (Badan Narkotika Nasional).

“Dulu saat di BNN, saya tidak mudah menghubungi beliau, karena saya sadar sebagai bawahan, setelah saya membuktikan proses Hukum Narkotika bagi pecandu bisa mendapat keadilan, tanpa sogok atau suap, dengan upaya Banding dan Kasasi, barulah kedua Jendral Purnawirawan tersebut melirik saya, dan sekarang kami sangat bersahabat,” bebernya.

BACA JUGA:  Unsika Jadi Tuan Rumah Kongres BEM FISIP Se Indonesia

Ketika di tanya apakah UU (Undang-Undang) Narkotika harus di Revisi? Jawabannya, Tidak urgent kalau semua penegak hukum konsisten, tetapi kalau mau di revisi hanya sedikit saja Pasal 111 dan 112 ditambahkan ayat 3 dengan materi SEMA Nomor 4 Tahun 2010,” jelas Ilyas.

Dalam segi pandang DR Ilyas sekaligus mantan reporter RRI, meyakini jika ini semua terwujud, lapas atau rutan hanya akan dihuni oleh pengedar narkotika, dan sesegera negara harus menyediakan tempat rehabilitasi yang banyak, sehingga pecandu cukup dihukum dalam tempat rehabilitasi saja. []Ynzr

Komentar