oleh

DR. Ilyas SH MH : Jika 3 SEMA Narkotika Ini Dipatuhi Hakim, Tidak Perlu Ada Perdebatan

DR. Ilyas, SH,MH

KabarToday, BANDAR LAMPUNG – Kesimpulan tersebut dikemukakan DR. Ilyas, SH,MH kepada wartawan via telepone selularnya, Minggu (26/7/20). “UU No 35 tahun 2009 sempat diperbincangkan sebagai UU yang harus di revisi, isu tersebut muncul dan tenggelam,” jelas Ilyas.

Kata Ilyas, jika saja SEMA no. 4 tahun 2010, SEMA no. 3 tahun 2011 dan SEMA no. 3 tahun 2015 di patuhi Hakim, maka UU 35 tahun 2009 tidak perlu direvisi dan di perdebatkan lagi.

“Sebab pasal 111, 112, 113, 114 dengan tiga ketentuan SEMA tersebut sudah memberi arah yang jelas untuk membedakan antara penyalahguna yang terlibat di product dan peredaran gelap narkotika, dan penyalahguna yg menggunakan narkotika untuk dikonsumsi. Karena kedua penyalahguna dimaksud memiliki karakteristik jauh berbeda, harus dipisahkan dengan tegas,” jelasnya lagi.

BACA JUGA:  Putra Tewas di Bakar Sejumlah Orang di Bekasi

Menurut Ikyas, hal itu harus diproses dengan metode dan cara yang sangat berbeda, penyalahguna yang berdimensi memproduksi dan menyebarkannya secara gelap, maka treatmenya di hukum badannya dan denda yg sangat berat. Sebaliknya penyalahguna yang hanya penikmat, pengkonsumsi atau pecandu, treatmennya di rehabilitasi untuk menghentikan dari ketergantungan narkotika. Esensi SEMA no. 4 tahun 2010, SEMA no. 3 tahun 2011 dan SEMA no. 3 tahun 2015 memperlakukan penyalahguna yang hanya penikmat, pengguna atau pecandu melalui pendekatan humanis agar pecandu bisa pulih,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Komunitas Ojol Bekasi dan Keluarga RF Minta Polisi Tangkap Para Pelaku

Untuk diketahui, bahwa penjelasan ini dikemukakan DR. Ilyas selaku ahli pidana narkotika terkait putusan hakim yang menafikan ke tiga SEMA tersebut. Terlebih hakim agung yang jelas-jelas mengingkari ketiga Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yang justeru diterbitkan oleh institusinya sendiri, yakni Mahkamah Agung.

“Salah satu parameter untuk membedakan antara penyalahguna yang berdimensi kriminal dengan victim adalah barang bukti yang diamankan saat ditangkap. Jika saat ditangkap barang bukti yang didapat sabu kurang dari 1 gram, ganja kurang dari 5 gram atau ekstasi 8 butir atau ditimbang kurang dari 2 koma 4 gram, maka penegak hukum tidak boleh ragu untuk memposisikan mereka sebagai victim dan treatmennya di rehabilitasi,” jelas Ilyas lagi.

BACA JUGA:  Jalin Sinergitas Dengan Tokoh Agama, Kapolres Gresik Silaturahmi Ketua MUI

Ditegaskan Ilyas, membantu pecandu atau pengguna narkotika untuk mendapat perlakuan hukum yang berazaskan manfaat dan keadilan merupakan pilihan final kendati karang terjal selalu menghadang. (Ijal)

Komentar

News Feed