oleh

Duski Samad Apresiasi Ke Suta, Katanya Ini Refleksi Saya Boemipoetra Bangkit

kabartoday, Jakarta – Di era milinial, nama Bumiputra yang masih dikenal luas dalam wacana publik adalah berkaitan nama asuransi Bumi putra.

Awalnya nama bumiputra berasal dari penyebutan untuk orang Indonesia asli sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berkulit putih, atau orang Indonesia yang mendukung atau kaki tangan Belanda.

Kini istilah Bumiputra didengungkan kembali oleh tokoh-tokoh pergerakan yang sadar, dan berusaha menyadarkan eksustensi anak bangsa yang kelahiran dan asal usulnya dari bumi Indonesia.

Suara nyaring yang mengema adalah ketidakpuasaan dan ketidakberdayaan menghadapi semangkin menguatnya pola dan gaya kehidupan berbangsa yang menuju pada penjajahan anak negeri.

Aktualisasi sebutan bumiputra yang sedang dilakukan sebagai penganti pribumi adalah melalui gerakan penyadaran intelektual, berupa seminar dan kongres.

Kongres Boemiputra Nusantara yang berlangsung, 28 sampai 30 Maret 2019 bertempat di Hotel Gren Alia Prapatan Jakarta Pusat mengambil tema Kembalikan hak-hak sipil Boemiputra “Jadi lah Tuan di Negeri sendiri” dengan slogan Boemiputra pendiri negara Boemiputra pemilik negara Boemiputra penguasa negera adalah event share informasi dan sekaligus membangun iklim care pada anak negeri yang secara sadar atau tidak terasa dihegomeni oleh penjajahan asing yang tidak mudah untuk menjelaskannya.

Perkembangan dunia global, keterbukaan informasi dan kebebasan setiap orang dan institusi melakukan apa saja yang mereka mau, telah dengan nyata melompati pagar-pagar kebangsaan, etnis, budaya, hukum dan norma yang sudah given dan menjadi pemersatu bangsa.

Terang benderang beberap segelintir pemegang kuasa, telah dengan nyata tega mengusur dan melemahkan hak-hak sipil warga bangsa yang secara etnis dikategorikan pada orang Indonesi asli, yang dalam terminologi budaya disebut Boemiputra dan secara sosiologis juga disebut dengan istilah pribumi.

BACA JUGA:  Aroma KRL Jabotabek Bau Pesing

Peserta kongres yang diikuti oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh agama, tokoh etnis dan lintas kelompok membawa bahwa tujuan kongres Boemiputra adalah membawa pesan kebangkitan anak bangsa dalam menghadapi realitas sosial yang tengah mengerus keaslian Indonesia.

Pertunjuk kan pembukaan berupa seni pantomin, dan puisi dan gerak seni yang menyirat kan keresahan bumi putra atas penindasan asing. Kebangkitan bumi putra untuk merebut pusaka Indonesia sebagai pendiri, pemilik dan penguasa Indonesia.

Ketua Panitia Kogres putra Bumiputra dari Papua Max Spacua menjelaskan bahwa sebelum ini sudah berlangsung pra kongres di lima wilayah. Pra kongres di Makasar Maret 2018 kedua Jokyakarta, ke Sumatera Barat, di Sumatra Utara dan Jawa Timur dan kini Kongres di Hotel Gren Alia Prapatan Jakarta.

Boemi Putra kini sepertinya ini lahir dari sebuah dari kesunyian, ketidaktahuan, maka Bumi Putra harus mendapatkan tempat di Organisasi ini adalah wadah rakyat yang independet.

Politik Boemiputra adalah politik negara. Istilah pribumi sama maknanya dengan Boemiputra. Ide besar yang ingin dikonsolidasikan untuk dicarikan solusi adalah menyelesaikan realitas bahwa

kesempatan yang semakin sempit, kebersamaan yang semangkin sulit, pribumi akan kemanakah langkah kakimu?

DR. MS KA’BAN, M. Si sebagai insiator gerakan bumiputra nusantara menegaskan dalam sambutan bahwa proses menuju adanya Kongres Boemiputra ini, sudah lama, karena membahas boemiputra sepertinya lembut di banding pribumi, sehingga sulit diterima dan bahkan dikhawatirkan pihak tertentu, padahal kedua kata itu semangat dan conten yang sama.

Secara jelas pesan penting tentang arti teks Proklamasi setelah 74 tahun perlu diingatkan bahwa siapa yang menyatakan kemerdekaan, adalah mereka yang terjajah ribuan tahun.

BACA JUGA:  Sekjen PBB Ucapkan Selamat Kepada Prabowo Sebagai Pemenang Pilpers 2019

Mereka adalah bumiputra nusantara. Dalam rentang waktu pemilik syah yang menyatakan kemerdekaan itu telah terjadi pasang surut. Dinamika perjuangan dan perbedaan itulah kekuatan Indonesia.

Bunyi kata-kata proklamasi pemindahan kekuasaan dalam waktu yang sesingkat-singkat nya yang sudah dijanjikan harus dituntaskan oleh bumiputra, agar jangan terulang lagi penjajahan boemiputra.

Realitas pasca reformasi amandemen UUD 1945 yang menghilangkan kata-kata Indonesia asli, itu sama maknanya menegasikan hak bumiputra nusantara Indonesia yang harus dikembalikan oleh Boemiputra Indonesia itu sendiri. Cermati apa agenda dibalik amanden pasal 6 UUD 1945 yang artinya adalah melindungi bumiputra.

Dr. M. D. La. LAODE, inisiator dalam bidang ilmiah menyuaakan dengan lantang bahwa tokoh masyarakat yang berkenaan hadir hari ini adalah karena didasari paham bahwa Boemiputra adalah penting dan strategis bagi bangsa.

Pilihan dengan penamaan Boemiputra Nusantara Indonesia untuk menegaskan bahwa potensi bangsa ini adalah untuk kemajuan nusantara Indonesia. Semua sejarah negara di dunia menyebut bahwa berdirinya negara adalah kesepakatan etnis asli, pribumi atau bumiputra untuk mencapai masyarakat bangsa yang adil makmur, itulah kehendak kolektif masyarakat pribumi atau bumiputra.

Menyedihkan dan mengkhianati sejarah dengan dihapusnya kata orang Indonesia asli, untuk menjadi penguasa negeri, Presiden/wakil Presiden, karena yang bersepakat mendirikan negara adalah pribumi. Bila siapapun dapat menjadi Presiden, sebagai tujuan dari penghapusan kara Indonesia asli, itu artinya Indonesia sudah terjajah kembali.

Kongres ini diikuti oleh eksponen Bela Negara, adalah orang cinta tanah maka ini artinya yang hadir ini adalah mereka yang cinta bela negara.

BACA JUGA:  Sebut Omnibus Law Berpotensi Jadi Penyebab Waktu Kerja yang Eksploitatif, Serikat Pekerja Beberkan Alasannya

Laksamana (Pur) TEJO selaku Pembina Keraton Bumi Nusantara mengulas bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda, selain pemuda asli Indonesia masuk dalamnya pemuda etnis Arab (Islam), yang tidak mau masuk itu adalah etnis Tiongha atau Cina.

Mengamandemen Pasal 6 UUD 1945 tentang syarat Presiden orang Indonesia asli, adalah menyiapkan potensi orang non pribumi menjadi penguasa dan Presiden berikut jabatan strategis apa saja.

Dalam sistim hidup bernegara, tidak perlu dikhawatir bahwa rakyat itu memang harus diakui ada dua jenis, yaitu pribumi dan warga negara. Bangsa Inggris bangga dengan pribumi Angglo. Oleh karenanya patut diakui semua pihak bahwa pemilik sah negeri ini adalah Raja dan Sultan yang pribumi asli menguasai wilayah Indonesia, sebelum dijajah Belanda.

Era demokratisasi yang sedang dijalani, jika diabaikan pribumi dan atau bumiputra itu akan membawa keadaan yang tidak baik bagi kesatuan bangsa. Situasi yang terbangun oleh sistim pemilihan umum adalah polarisasi yang tidak mudah menentukan arahnya. Dapat dikatakan bahwa ada iklim tidak sehat yang mengerus bumiputra nusantara.

Secara teori disebutkan bahwa kehancuran bangsa indikasinya dapat di baca pada tiga kondisi yaitu, moral bangsa, bukan sebatas mental bangsa, budaya bangsa dan ekonomi bangsa.

Nuansa Bumiputra bangkit disemangati oleh rintihan nusantara yang dilantunkan dalam nyanyian dengan sahdu menyuarakan hutan, gunung, sawah, lautan di kuasai asing. Bumiputra bangunlah, ambil tanah dan tumpah darahmu. Tuhanku yang Maha Kuasa kembali tanah airku dan rebut kembali wahaibbumipoetra nusantara. Rintihan ini disampaikan oleh: Dr. Ir. Arini Maryam, putri Raja Nusantara dari kerajaan Cirebon. Catatan Pembukaan. Kongres Boemipoetra Nusantara Indonesia, Peserta Mewakili.(Hsw)

Komentar