oleh

FWJ Kecam Putusan Hakim PN Jakarta Pusat

Kabartoday, Jakarta – Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada sidang hari kamis 19/9 silam hanya dapat membuktikan 29 mantan pegawai Sarinah, yang seharusnya 30 orang, satu di antaranya telah meninggal sebelum sidang. ketika memberikan air kepada demontrasi untuk membersihkan muka,

Hal tersebut disampaikan wasekjen Forum Wartawan Jakarta Abdul Rachman di halaman Polda setelah melayangkan surat bersama tim yang di tujukan kepada Kapolda dalam kasus lain.

BACA JUGA:  HUT DKI ke 492, Anies Sebut Wajah Baru Jakarta

Lebih lanjut Rachman menyampaikan, berdasarkan Pasal 212 jo 214 jo 56 KUHP tentang ikut membantu melakukan kejahatan dan Pasal 216 KUHP atau Pasal 218 KUHP tentang kekerasan, majelis Hakim belum membuktikan di dalam fakta persidangan bahwa unjuk rasa adalah bagian dari demokrasi yang sudah di atur oleh Undang undang termasuk dalam suatu kejahatan.

BACA JUGA:  Dikawal Satpol-PP Pengadilan Agama Cibinong Eksekusi Lahan Yang Dimenangkan Asiah Binti H. Nuin Cs

Keputusan Vonis 4 bulan, membuat preseden buruk dan rasa takut di masyarakat ketika hendak melakukan rasa kemanusiaan atau menolong orang dengan sanksi pidana, hal tersebut sebagian masyarakat menyampaikan kepada kabartoday melalui sosmed bahwa mematikan demokratis bangsa Negara dengan vonis 4 bulan.

Kejadian berawal pada 22 Mei malam, Kepolisian menangkap 30 pegawai Sarinah. Para pegawai itu tengah berada di dalam Sarinah tempat mereka bekerja. Polisi menangkap mereka karena diduga memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengunjuk rasa.

BACA JUGA:  Lemans Kodongan Mencium Aroma Kebohongan Dalam Pengelolaan Gedung Dewan Pers

Misalnya dengan memberikan air untuk membasuh mata yang pedih akibat gas air mata.

Mereka terdiri atas 26 satpam, 2 orang bagian teknisi, dan 1 orang cleaning service. Kasus lalu berlanjut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas dakwaan memberi air untuk membasuh mata yang pedih akibat gas air mata kepada para pengunjuk rasa[]Bamsur

Komentar