oleh

GAMKI: Pemerintah Harus Melindungi Segenap Bangsa Dalam Beragama

-Aktual-83 views

 

Jakarta (Kabartoday) Perlu Adanya aturan undang2untuk umat memeluk keyakinan dan mendirikan sarana tempat ibadah dan ada kebijakan publik ada hak azasi manusia HAM peraturan pemerintah harus di perhatikan di rujuk oleh negara.

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP) GAMKI menggelar diskusi publik Refleksi Akhir Tahun dengan tema “Intoleransi Masih Tinggi: Darurat pancasila atau pembiaran negara yang bertempat di Grha Oikoumene Jl. Salemba Raya No. 20, Jakarta Pusat, Jumat (20/12/2019).

Pada acara hadir juga narasumber seperti Sudarto (Aktivis Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang), Johny Nelson Simanjuntak (Pegiat HAM), Sandra Moniaga (Komisioner Komnas HAM), Ronald R. Tapilatu (Ketua DPP GAMKI Bidang Keadilan dan Perdamaian, Gufron (Direktur Imparsial), Wawan Purwanto (Direktur Komunikasi dan Informasi BIN), Perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Perwakilan Mabes Polri, Willem Wandik, S.Sos (Ketua Umum DPP GAMKI), Sahat Sinurat, ST., MT (Sekretaris Umum DPP GAMKI), dan undangan lainnya.

BACA JUGA:  Raih 126 Point, Kecamatan Teluk Nibung Raih Juara Umum MTQN Ke 51 Kota Tanjungbalai

“Umat Kristen di Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung, dan Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, dilarang melaksanakan ibadah dan merayakan Natal. Mereka tidak mendapatkan izin dari pemerintah setempat kerena perayaan dan ibadah Natal dilakukan di rumah salah satu umat yang telah dipersiapkan. Pemda setempat beralasan karena situasinya tidak kondusif,” ungkapnya kepada para awak media.

Sudarto mengatakan pelarangan ini sudah berlangsung sejak 1985.

“Sudah berlangsung cukup lama, selama ini mereka beribadah secara diam-diam di rumah salah satu jamaat, namun mereka sudah beberapa kali mengajukan izin untuk merayakan Natal, namun tak kunjung diberikan izin. Pernah sekali, pada awal tahun 2000, rumah tempat mereka melakukan ibadah kebaktian dibakar karena adanya penolakan dari warga,” kata Sudarto.

Sudarto menganggap, larangan tersebut merupakan suatu tindakan melanggar HAM, karena di negara ini setiap umat beragama diberikan kebebasan untuk merayakan hari besar agama masing-masing jelasnya.
“Saat ini sekitar 210 kepala keluarga (KK) umat Nasrani di Sungai Tambang, yang terdiri dari 120 KK jamaat HKBP, 60 KK Khatolik dan 30 KK GKII. Selama ini merayakan Natal di geraja di Sawahlunto yang harus menempuh jarak 120 kilometer,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Ramalan KGP, Pasca Putusan MK, 1 tahun Ini Runtuhnya Rezim

Karena faktor jarak tersebut, pada akhirnya mereka secara bersama-sama mengajukan izin untuk bisa merayakan Natal di lingkungan mereka tinggal.

“Karena terlalu jauh, mereka kembali mengajukan izin untuk merayakan secara bersama di rumah saja, namun tetap tidak mendapakan izin,” kata Sudarto.

Sandra menilai, bahwa negara termasuk perangkat institusinya tidak mampu melindungi hak-hak asasi manusia kelompok minoritas terkait pelarangan ibadah perayaan natal yang terjadi di Sumatera Barat.

“Padahal kita punya ideologi Pancasila yang menjunjung tinggi penegakan hukum. Apalagi saat ini konstitusi kita juga mengadopsi pasal-pasal yang melindungi hak asasi manusia untuk bebas beribadah dan beragama,” tuturnya.

Ronald R. Tapilatu melihat, ada keanehan dari isu tentang kejadian pelarangan ibadah dan berkeyakinan di negara ini.

BACA JUGA:  Terlalu Banyak Kecurangan, Komando Garda Depan Minta KPU Di Audit

“Saya bertanya kepada pemerintah kenapa hal ini selalu berulang setiap tahun. Apakah ini pertanda bahwa negara ini sudah masuk kedalam ruang disintegrasi,”pungkasny dan jemaat dari dari gamki menambahkan agar mengadvokasi masyarakat warga bila sedang melakukan termasuk sosialisasi. tambahan dari Wawan prianto BIN menyampaikan ” tak kenal maka taksayang” rasa cinta itu muncul dari keadaban dari saling mengenal ini adalah contoh yg membela pasti yg kenal yg hadir naluri kita tercipta dari perbedaan dapi fungsi menyatukan kebersamaan.masalah upayakan dgn musyawarah nilai nilai spiritual ada pertemuan tokoh tokoh keagamaan ada keragaman menjadi penyangat kita menghargai komunikasi yg baik kerukunan antara umat beragama itu penting aparat menyatukan melalui sentuhan kalbu.sikap dewasa dlm menyikapi bagai mana perbedaan itu menjadi berkah pelangi itu indah kenapa tuhan ciptakan itu perbedaan agar kita bisa bersatu damai itu indah intinya.(Bbg)

Komentar