oleh

Gerakan Pengusir Setan Akan Gelar Aksi di MK

Kabartoday, Jakarta – Demokrasi saat ini menjadi sangat popular di berbagai belahan dunia. Adanya hak-hak “istimewa” yang memberikan kesempatan setara kepada setiap warga negaranya.

Dikatakan Ketua Umum Gerakan Pengusir Setan (GPS), Dede Kholidin di jakarta, Senin (17/6/2019) malam, bahwa secara politik, hukum, ekonomi dan sosial setiap warga Negara mempunyai hak. Namun ia menyayangkan dalam hal kehidupan berpolitik yang seharuanya demokrasi tetapi berbalik arah.

“Hal ini tentunya dimungkinkan karena dalam demokrasi kita mengenal yang namanya trias politica yang membatasi kekuasaan agar tidak bertumpuk pada satu orang/kelompok pemegang kekuasaan. “Kata Dede.

Dengan adanya pembagian kekausaan, menurutnya, ini memungkinkan terjadinya check and balance antar lembaga-lembaga Negara. Tentunya harapan dari semua itu adalah terciptanya politik yang lebih bermoral demi kebaikan bangsa dan masyarakat yang ada di dalamnya.

BACA JUGA:  Kapolres Jakarta Pusat Benarkan Ada Penyusup Copet Bikin Ricuh Munajat 212

“Harapan tersebut tentang tujuan demokrasi nampaknya semakin jauh dari harapan masyarakat indonesia. “Sindirnya.

Untuk itu, dijelaskan Dede, GPS Institut PTIQ akan menggelar aksi di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) pada hari Selasa, 18 Juni 2019, pukul 09.00 WIB.

Gerakan Pengusir Setan (GPS) yang diketuainya adalah gerakan Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta.

Dalam konsistensinya, Dede merasa bertanggung jawab sebagai Agent Of Change (agen dari suatu perubahan) sebagai perwakilan suara rakyat yang sudah gerah dan jenuh terhadap kondisi saat ini.

BACA JUGA:  Hayati Dosen Bercadar IAIN Bukittinggi Resmi Dipecat

“Apakah mahasiswa dan pemuda sudah kami anggap tidur atau tidak bersuara. Kalau kita melihat lebih dalam tentang fenomena ini, mereka bukan tidur atau tak bersuara,. kenapa, karna setiap gerakan demonstrasi yang dilakukan selalu di akui sisi oleh berbagai pihak, lantas siapakah yang bertanggung jawab atas hal demikian? Kalau tidak ada yang bertanggung jawab, mungkinkah “setan” yang bertanggung jawab? “Ujar Dede.

Sebagai suara yang mewakili suara rakyat, maka Gerakan Pengusir Setan (GPS) Institut PTIQ Jakarta siap mengusir setan atau peilaku manusia yang kesetanan.

Dede juga menyebut dalam aksi nanti, pihaknya akan menyinggung 11 poin, yakni:

1). fanatisme antar kelompok yang semakin kuat.
2). extrimisme antar kelompok.
3). murahnya suara rakyat demi kepentingan tanpa subtansi yang jelas.
4). semakin jauhnya kedewasaan dalam demokrasi.
5). semakin mirisnya kesibukan kepentingan antar kelompok.
6). kebencian menjadi senjata utama dalam janji-janji politik.
7). Rasionalitas pemilih semakin pudar.
8). Rakyat menjadi terbelakangi demi kepentingan kelompok.
9). Mengusir “Setan/ kesetanan” di negri ini.
10). Mengusir “setan/ kesetanan” khususnya di mahakamah konstitusi.
11). Demonstrasi selalu di akui sisi oleh kepetingan kelompok, tanpa tanggung jawab.

BACA JUGA:  Pamdal Harus Santun, Ramah & Profesional Dalam Pengabdian

“Perlu di catat, tuntutan dan keluhan ini bukan tidak rasional, melainkan lebih rasional dari “kesetanan” yang terjadi di negri tercinta ini. “Tegas Dede.(Ardi)

Komentar