oleh

Harga Buku Ajar di Garut Selangit Sejumlah Ibu – ibu Menjerit

Kabartoday, Garut,- Sejumlah orangtua siswa sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Garut mengeluhkan harga jual buku bahan ajar yang mahal, mencapai hampir satu juta rupiah yang dianggap tidak wajar dan terlalu membebani bahkan bagian sebagian orangtua siswa dirasa “mencekik leher.”

“Harga buku ajar sekarang untuk anak hampir Rp1 juta, ya cukup membebani, apalagi anaknya yang dua atau tiga, “kata Irman, orangtua dari siswa SD Negeri Sukagalih V Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Kamis (25/7).

Ia menuturkan, buku yang harus dibelinya itu untuk kebutuhan selama satu tahun ajaran, namun karena keterbatasan dana hanya mampu membeli beberapa buku saja yang dibutuhkan saat ini seharga Rp 300 ribu.

Irman menyampaikan, pembelian buku pelajaran tersebut memang tidak diwajibkan oleh guru. Karena semua bahan pelajaran ada dalam buku tersebut akhirnya siswa harus membelinya.

“Tidak nyuruh, tapi kalau tidak punya buku ya begitu, kasihan ke anaknya, karena semua soal pelajaran ada dibuku itu, “ujarnya.

BACA JUGA:  Sebar Ujaran Kebencian Saat Aksi 22 Mei, 2 Ojol Ditangkap Polisi

Irman berharap, sekolah tidak membebankan siswa untuk membeli buku yang seolah-olah wajib dibeli, tetapi dapat disediakan langsung oleh sekolah yang dialokasikan anggarannya dari pemerintah.

Menurutnya, pemerintah sebaiknya menyediakan buku bahan ajaran yang sama dan serentak bagi siswa, kemudian dirawat dengan baik agar buku tersebut dapat digunakan kembali oleh siswa di tahun ajaran berikutnya.

“Harusnya pemerintah menyediakan, terus bukunya dirawat, artinya jangan mengerjakan tugad atau mengisi soal di buku paket, jadi buku siswa bisa dihibahkan ke adik kelasnya, “begitu harapan Irman sebagai orangtua siswa.

Sementara orangtua siswa dari SD Negeri 1 Samarang, Sri mengeluhkan hal yang sama, pembelian buku bahan ajar siswa SD terlalu mahal, harganya lebih dari setengah juta rupiah.

Menurut Sri, buku dari penerbit Erlangga memang mahal hingga untuk membelinya harus mengumpulkan uang dulu agar buku yang dibutuhkan anak terbeli semuanya.

“Saya belum beli, karena belum ada uangnya, nunggu gajian dulu,” kata Sri saat ditanya crew media.

BACA JUGA:  Neno Warisman Di GBK Orasi Rezim Dzolim Pasti Tumbang

Ia berharap, pembelian buku tersebut tidak seharusnya dibebankan semuanya kepada siswa. Pihak sekolah, khususnya pemerintah dapat menyediakan buku yang dibutuhkan siswa untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar (KBM).

“Ya inginnya sekolah menyediakan buku di perpustakaan, jangan dibebankan kepada orangtua siswa, karena di sekolah lain juga siswanya tidak harus beli buku, “ungkap Sri.

Orang tua siswa lainnya, Ayu mengeluhkan harga buku yang dihitung semuanya lebih dari Rp. 600 ribu, buku yang disarankan guru itu seolah-olah menjadi kewajiban untuk dibeli agar belajarnya menggunakan buku yang sama.

Ia menjelaskan, buku tersebut dibeli bukan dari guru langsung, tetapi mendapat rekomendasi tanda-tangan dari guru bersangkutan untuk membeli langsung bukunya di tempat yang sudah ditentukan oleh guru.

“Bukunya tidak beli ke guru, tapi disuruh beli di luar, di koperasi masih sekitar sekolah di Samarang, “ungkap Ayu.

Menurutnya harga jual buku yang cukup mahal itu telah membebani para orangtua siswa, karena tidak semuanya orangtua siswa memiliki kemampuan ekonomi yang cukup.

BACA JUGA:  Tiga Koramil Jajaran Kodim 1504/Ambon Gelar Bhakti Sosial Kebersihan

Ayu berharap, pemerintah melalui sekolah bisa menyediakan buku yang dibutuhkan para siswa tersebut agar tidak terlalu membebani ekonomi orangtua siswa ditengah kebutuhan hidup yang semakin menghimpit dada.

“Karena mau tidak mau namanya anak, temannya beli buku semua pasti harus beli, sementara kalau difotokopi itu kan tidak boleh, melanggar hak cipta, “paparnya.

Sementara itu, penjualan buku di SD Negeri 1 Samarang dilakukan di luar sekolah di sebuah ruangan bekas kantor koperasi sekolah.

Sejumlah orangtua siswa tampak berkerumun antre bahkan seringkali harus rebutan untuk membeli buku tersebut dan selanjutnya diberikan kepada anaknya.

Namun ada juga orang tuasiswa yang memohon kepada penjual untuk berutang dulu karena uangnya belum ada, bahkan ada juga yang meminta dicicil dengan batas waktu yang sudah disepakati dengan pedagang. *(Alam)

Komentar