oleh

Hukum Dijadikan Mainan Berimbas Korban Kebohongan Berjatuhan

Oleh: MHK, Pimpinan Umum Kabartoday.co.id

Kabartoday, Jakarta – Perang elite politik tak pernah kesudahan di Negeri ini. Ujung-ujungnya rakyat menjadi korban, Islam diartikan radikal, anarkis dan cenderung kearah teroris. Publik semakin tak percaya dengan rezim pinokio saat ini, bahkan publik menyebutnya sebagai rezim kebodohan.

Aksi unjuk rasa yang terjadi disejumlah wilayah di Indonesia terus menerus berlangsung, bahkan aksi pada 30 September 2019 lalu berujung pada kesedihan dan petaka. Meski korban meninggalnya dari kalangan mahasiswa, pelajar dan masyarakat, namun pengusutan pihak kepolisian kandas dalam menjaring siapa pelakunya.

Beda halnya dengan kebohongan seorang Ninoy. Atas pengakuan bohongnya, ia telah menjerat beberapa ulama, dan warga yang tak berdosa. Pengakuan Ninoy diculik, padahal faktanya ia (Ninoy.red) diselamatkan oleh mereka yang kini dijadikan tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya. Ujung-ujungnya kembali kepada kriminalisasi ulama. Pertanyaannya, siapakah Ninoy itu? Apakah ia seorang wartawan yang dengan bangga menggunakan ID PERS APP Jokowi? Dimana kesadaran lembaga Pers Indonesia dalam hal ini Dewan Pers. Sampai sejauh ini, tidak ada penanganan serius dewan pers terhadap penyalahgunaan ID Pers.

BACA JUGA:  Persita Tangerang kalahkan Sriwijaya FC 1-0

Hingga kasus itu bergulir dengan jimik-jimik pengakuan kebohongan seorang Ninoy, sehingga sangat disayangkan, polisi tidak melakukan proses kebenaran, namun hanya melakukan proses pembenaran atas laporan seorang Ninoy, dan akhirnya polisi tidak berhasil mengungkap fakta yang terjadi.

Mengulas berbagai peristiwa belakangan ini, opini-opini dan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian maupun pemerintah semakin hilang. Semisal terbunuhnya para mahasiswa, pelajar dan warga sipil dalam aksi demo. Terjadinya skenario dan framing mobil ambulance membawa batu, dan lain sebagainya. Semuanya itu dibiarkan hingga publik menganggap sebagai dagelan hukum dibawah komando politik elite pemerintah.

BACA JUGA:  Empat Wartawan Terlantar di Gunung

Meski begitu, Redaksi kabartoday.co.id mengapresiasikan tindakan cepat kepolisian dalam mengungkap laporan Ninoy, walaupun laporan tersebut belum diketahui kebenarannya, anehnya polisi dengan sigap dan cepat memproses Laporan Ninoy, jika laporan tersebut palsu, maka polisi harus menjerat Ninoy atas laporan palsunya itu.

Belum kelar permintaan DKM masjid Al Fallah Pejompongan Jakarta yang diduga TKP penganiayaan Ninoy ke Polda Metro Jaya untuk di konfrontir dengan Ninoy untuk menjawab semua fakta kebenaran yang terjadi, publik kembali di gegerkan dengan adanya penyerangan terhadap Wiranto di Pandeglang Banten, Kamis (10/10/2019) kemaren.

BACA JUGA:  In Memoriam Sang Aktivis GUNTUR 49, Ucok si Anak Hilang

Walau terlihat seperti nyata penyerangan oleh suami istri yang menyerang Wiranto, namun jejak digital rekaman-rekaman video amatir yang didapat di TKP terlihat adanya skenario untuk menjust pelaku tersebut adalah dari aliran islam radikal.

Framing untuk menjatuhkan islam sangat jelas dilakukan pemerintah saat ini. Bahkan banyak ahli menyimpulkan bahwa penyerangan terhadap Wiranto adalah skenario murahan untuk mendoktrin rakyat Indonesia akan bahayanya Radikalisme yang menjurus pada salah satu mayoritas.

Kita sepakat segala bentuk tindak kekerasan, radikal, dan teroris harus diperangi dan dibasmi dari NKRI, namun publik juga meminta jangan dikaitkan dengan satu agama mayoritas, karena akan berdampak pada perpecahan nilai-nilai toleransi antar umat beragama.[]Op/red

Komentar