oleh

In Memoriam Sang Aktivis GUNTUR 49, Ucok si Anak Hilang

Oleh: Muhammad Nur Lapong

Kabartoday, Jakarta – Entah kapan pastinya pertama kali saya ketemu adek UCOK ini, saya sudah lupa, yang kuat saya ingat, hanyalah sosoknya yang urakan kumel bin kucek, seperti umumnya kaum marhein (massa rakyat hedoep prihatin), itu sebutan saya untuk orang seperti adek UCOK ini.

Saya hanya bisa ingat waktu ketemunya, itu saat peristiwa gencar-gencarnya bersama kawan kawan kembali turun kejalan karena gemes melihat proses reformasi yang tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan banyak orang.

Puncaknya yakni ketika terjadinya kasus Bill Out Bank Century dengan mengulang lagi sejarah kelam kasus BLBI (Perampokan Uang Rakyat) sebelum era reformasi.

Beririsan dengan kasus Century, juga saat itu saya dan kawan-kawan seperti Usman Yasin, Dadan Hamdani, Lubis, Egi, Eryanto, Ita, Lucy, Ancil Lagoa, Mona, Jacob Ereste dan lain-lain sedang terlibat dalam sejuta Facebooker dukung Cicak Melawan Buaya.

Dalam kurung waktu itulah saya mengenal adek UCOK karena sering berjumpa kawan kawan aktivis di TIM tempat Venus Cafe, atau di pelataran TIM buat buang uneg uneg sesama kawan kawan aktivis.

Ada yang menarik dari perkawanan saya dengan adek UCOK, saya bisa akrab dengannya walau saat itu dia secara psikis error berat, yang menurut sebagian kawan kawan UCOK merupakan korban traumatic kekerasan aparat peristiwa Kuda Tuli 27 Juli 1996 kantor PDIP.

Saya tak tahu jelas kenapa bisa akrab dengan adek UCOK ini? Saya ngomong ke Utara dia ngomong ke Selatan, tapi asik aja dan saya menikmatinya, saya tak tahu pasti apa juga dia menikmatinya? Wallahu alam! Karena kadang disela-sela kami ngobrol berdua, tiba-tiba dia teriak-teriak, bentak-bentak entah apa maksudnya, pun sambil tertawa-tawa sendiri. Saya melihatnya lucu saja saat itu.

BACA JUGA:  Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra

Kawan-kawan pun melihat aneh pertemanan ini, dan mereka was-was mendekat ketika kami ngobrol berdua karena adek UCOK waktu itu masih sering kehilangan kontrol ketika dia merasa tidak nyaman.

Kadang kawan-kawan sering nanya, “kok bisa asik sama UCOK kan menyebalkan, bikin worry.” Saya hanya tersenyum saja mendengarnya.

Respon adek UCOK mulai berubah merasa happy terhadap saya, ketika dibuktikan setiap saya datang ke pelataran TIM ngopi bersama kawan-kawan dia langsung ngatur tempat dan gelar tikar tanpa saya suruh, kadang pun reaksinya bisa berlebihan tiba-tiba ngusirin orang-orang yang ngupi di tempat biasanya saya mangkal ngopi.

Saya kadang jadi heran, walau dia aktivis error (psikis kurang sehat), tapi sepertinya dia bisa faham dan mengerti apa yang saya maksud dan saya inginkan kepadanya.

Kadang pula saya terharu, saat saya dolan ke TIM dia sudah menunggu. Saya tahu dia itu puasa atau belum makan seharian, bisa jadi sudah 2 hari menahan lapar, entahlah! Sebab sekalipun dia itu error dia masih beretika, tidak akan sembrono merepotkan orang jika menurut mata batinnya orang itu tidak nyaman olehnya. Dan mungkin juga tidak semua pula kawan-kawan bisa berteman dan ngobrol dengannya lebih dari setengah jam.

Walaupun adik UCOK ini hidup tak jelas dan nomaden dengan phisik agak lemah dan psikisnya yang error, tapi saya salut dia eksis sebagai aktivis jalanan. Itu bisa kita lihat dari orasi-orasinya yang menghujam menyerang rezim maupun dari sajak-sajak Wiji Tukul yang sering di bacakannya setiap tampil dalam aksi-aksi demo di manapun, bahkan ketika diskusi di GUNTUR 49.

BACA JUGA:  Berburu Parcel Di 'Gea Dea Parcel Cikini Tawarkan paket Cantik

Adek UCOK ini makin intens ikut terlibat dalam aksi-aksi oposisi/jalanan bersama kawan-kawan sejak era rezim SBY sampe Jokowi saat ini.

Mulai dari dia ngatur tempat, kursi untuk setiap kali diskusi bersama kawan kawan, sampai yel-yel angkat poster sambil jalan kaki, bahkan terkadang sebagai model ikon demo aksi misalnya dengan berkostum pocong dll.

Saya berani mengatakan dialah satu-satu nya aktivis Jakarta yang phisiknya lemah dan secara psikis sering error, tetap mampu eksis/ konsisten dalam puluhan kali aksi-aksi oposisi jalanan bersama kawan-kawan lainnya yang secara phisik dan psikis normal seperti saya.

Saya banyak mengambil pelajaran juga dari adik UCOK ini, dan terkadang saya merenung dalam. Saya berteman sudah cukup lama dengannya tapi tak sedikit pun dia mengeluh tentang dirinya yang lemah itu, kecuali kadang bercerita seadanya (apakah benar atau dia sedang error), bahwa dia itu orang Minang yang lahir di Medan, itulah sebabnya mengapa dia senang dipanggil UCOK yang sampai perjalanan terakhir hayatnya Selasa, 6 Agustus 2019 jam 14.00 WIB di RS Tarakan, saya belum tahu nama aslinya.

Saya tahu betul dia itu pilihan politiknya 01, tapi tak pernah sedikitpun dia membeci 02 seperti gaya ungkapan para cebongers, bukan karena saya kawannya memilih 02. tapi dia punya sopan santun yang elegan, dia menghindari debat verbal, cukup melalui pesan orasinya mengingatkan akan bahaya kembalinya militerisme orde baru melalui sosok Prabowo.

Dia seorang yang demokratis dan Sukarnois, jadi dia senang saja kalau saya mengeritik dan juga mengajaknya mendemo Jokowi bersamanya, yang keluar dari ajaran Sukarno yang tidak pro rakyat, itu menurut tafsir saya terhadap dia, wallahu alam.

Adek UCOK, telah mengajarkan kepada saya dan kawan kawan, bahwa keterbatasan phisik dan psikis tidak membuat nya surut menyuarakan nurani kebenaran untuk rakyat.

BACA JUGA:  BKNDI Pantau dana penanggulangan Cegah Covid- 19 untuk Desa agar Transparan

UCOK si anak hilang yang kawan kawan tak tahu siapa sanak keluarganya, hidup terpinggirkan jadi aktivis di tengah kejamnya kota Jakarta, sampai diakhir hayatnya pun dan masuk kelian kubur tak ada satupun sanak keluarganya yang hadir atau pun tahu kondisi terakhir adik UCOK.

Sebagai kawanmu, saya bangga kepadamu, ditengah phisik dan psikis yang lemah dan hidup dalam keprihatinan yang dalam kamu tetap tak pernah mengeluh, tetap saja garang berorasi sekalipun suaramu lemah, tapi mentalmu kuat bermental pejuang.

Saya menyesal saja, tidak tanggap dan sigap atas keluhan sesak bernafas pada 3 waktu terakhir diskusi Jumat’an GUNTUR (saya hanya melarangnya merokok), pada hal beberapa bulan yang lalu saya sudah berencana mengurus KTP dan BPJS untuknya itu tidak terealisir.

Setiap saya melihat kondisi adik UCOK, sama seperti melihat om Limbong, atau YAYAN aktivis seniman yang menciptakan lagu revolusi untuk kawan kawan aktivis pada setiap aksi turun kejalan, hati saya selalu bergetar. Pernah suatu waktu saya diskusi dengan sdr. Isti Nugroho tentang perlunya menginisiasi UU Aktivis kepada pemerintah dan DPR agar aktivis bisa berdaya di hari hari sulitnya, ya layaknya seperti profesi lainnya yang terlindungi oleh UU dalam setiap aktivitasnya.

Selamat jalan adik UCOK! Tuhan rupanya menyayangimu melebihi kita semua kawan-kawan mu. Pergilah dengan damai, doa kami dari puluhan WAG bertebaran untukmu, yang mengantarmu keliang lahat pun tumpah, sekalipun kau hanya bergelar UCOK SI ANAK HILANG.

‘Semoga damai menyertaimu dan surga untukmu Amin!’
_________________________

Penulis : Direktur LBH ForJIS Jakarta.

Komentar