oleh

In Memorium Lord Didi Kempot, Spritualitas Pak De

Almarhum Didi Kempot

Bukan sekedar judul lagu, tapi bisa jadi setiap judul lagu yang dipilih adalah proses spritualitas pak de yang dimulai dari “Sewu Kuto”. Dimana ia harus lepas dari gravitasi berbagai “Kuto” ideologi, keyakinan, kepercayaan atau apalah namanya.

“Sewu Kuto uwes tak liwati,

Sewu ati tak yakini,

Nanging Kabeh

Podo ra ngerteni….”

Kadang Pak De ditengah keletihannya harus berhenti di “stasiun balapan”  untuk berkomunikasi dengan hati yang membisu karena terobsesi oleh janji manis yang ditawarkan oleh sebuah imajinasi diksi.

“Janji lungo mung sedelo,

Jare sewulan ra ono,

Pamitmu naliko semono,

Nang stasiun balapan Solo,

Janji lungo mung sedelo,

Malah tanpo kirim Warto,

Lali opo pancen nglali,

BACA JUGA:  Elektabilitas Jokowi Darurat, Moeldoko Bilang Perang Total, Jokowi Teriak Saya Lawan

Yen eling mbok enggal bali”

Kadang pula Pak De harus menumpahkan kejenuhan bertandang ke “Terminal Tirtonadi” untuk menyapa polusi knalpot kehidupan yang keras dan liar dalam sebuah penantian yang tak berujung.

“Nalikane ing Tirtonadi

Ngenteni tekane bis wayah wengi

Tanganmu tak kanti

Kowe ngucap janji

Lungo mesti bali.

Hingga saat ada secercah cahaya damar jagat serta merta Pak De bertanya dalam hati  inikah “ketaman asmara”

“… Wes tak lali lali

Malah sansoyo kepingan

Nganti tekan mbesok kapan nggonku

Mendem ora iso turu.

Opo Iki sing jenenge

Wong kang lagi ke taman asmara

Prasasat ra biso lali

Esuk awan bengi tansah mbedo ati ”

Kehadiran “ketaman asmara” bisa jadi karena tresno jalaran kulino

BACA JUGA:  Lecehkan Wartawan, Advokad FWJ Akan Gugat PJA dan Oknum Panit Polsek Pademangan

Pak De dengan sang pencerah jiwa Yan Vellia sosok penyanyi yang dipilih Allah untuk menghadiahkan kepada Pak De cahaya spritualitas dan semangat hidup baru sebagai ummat Muhammad melalui  “dalan anyar”.

Spritualitas Pak De makin terasah ketika ia berjumpa dengan guru ngaji Pak Jokowi  Gus Karim dan sobat santri ambyar Gus Miftah yang mengajarkan bahwa Islam itu indah dan menghargai keindahan.

Bahkan Pak De sudah sampai pada puncak spritualitas yang amat tinggi melampaui “kami kami” saat ia curahkan perhatiannya pada kepentingan umat lewat lirik mistisnya “tombo teko loro lungo”.

…tombo teko loro lungo

Duh Gusti enggal singkirno

Leloro sing wonten Negari kulo…..

BACA JUGA:  Festival Milenial Road Safety di Monas Gelaran Polda Metro Jaya

Seperti yang kemudian disaksikan sendiri oleh asisten Pak De bernama Jasmani, bahwa sekitar jam 07.00 WIB mendengar Pak De berteriak karena dadanya merasa  sesak.

“Berteriak teriak  sambil Allahu Akbar dan Laa ilaaha illallah begitu,” ujar Jasmani, dan itulah ucapan penutup episode kehidupan Pak De di alam fana.

Luar biasa…..luar biasa…luar biasa

Benar benar Pak De sosok yang digambarkan Nabi SAW “tidaklah seorang hamba mengucap Laa ilaa ha illallah kemudian ia meninggal dunia di atas ucapan itu kecuali pasti masuk surga,” HR Bukhari dan Abu Dzar.

Selamat jalan

Pak De, hati ini “ambyar” melepas kepergian mu….

KH. Thaha Muntaha

Pengasuh Ponpes Minhajut Thullab Krikilan, Glenmore, Banyuwangi

Komentar

News Feed