oleh

Input Data C1 di Website Resmi KPU Berpihakan Ke Jokowi

Kabartiday, Jakarta – Sejak dimulainya input data C1 di website resmi KPU 18 April 2019, terlihat banyak yang tidak sesuai dengan formulir C1.

Contoh kecil suara di TPS wilayah Bidara Cina Jatinegara yang menjadi polemik politik. Hal itu dikatakan Badan Pemenangan Provinsi DKI Jakarta Prabowo-Sandiaga, M Taufik, Jum’at (19/4/2019).

Taufik akan melaporkan peristiwa kesengajaan ataupun tidak sengaja yang di lakukan KPU ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Laporan tersebut  terkait dengan kasus salah input data form C1 di Tempat Pemungutan Suara TPS 93 Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

“Ini sangat tidak masuk akal dan tidak wajar. Terlihat jelas unsur kesengajaan untuk mengurangi suara pasangan Prabowo-Sandiaga. “Kata Taufik.

Ia menilai cara-cara membolak-balikkan data input merupakan cara kotor yang merugikan pasangan nomor urut 02. Semestinya, KPU sebagai penyelenggara pemilu berada di tengah atau tidak boleh memihak, “Ini jelas pelanggaran yang tak bisa ditolerir. “Tegas Taufik.

BACA JUGA:  27 Orang Muslim Dibantai Saat Sholat Jum'at di Masjid Al Noor Selandia Baru

Jika pakai akal sehat, lanjut Taufik, KPU sudah siapkan segala kendala yang terjadi. Soal salah input data, itu modus dengan alasan yang tidak masuk akal.

“Kalau tindakan itu tidak ketahuan, maka KPU berhasil melakukan mark up suara untuk pasangan 01, Jokowi-Maruf. Sangat berani ini KPU melakukan itu. Bagi saya, ini tak bisa diterima begitu saja, alasan salah input. Ini kesengajaan. Kami akan laporkan ke DKPP dan pidanakan, “Bebernya.

Sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengkoreksi kesalahan input data suara dari form C1 di Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) di situs resminya.

Dalam scan C1 yang diunggah, suara Jokowi-Ma’ruf 47, sementara Prabowo-Sandiaga 162 suara. Namun dalam data yang di input KPU di websitenya justru suara Jokowi-Ma’ruf naik dan jauh unggul menjadi 180. Sedangkan Prabowo-Sandiaga menyusut menjadi 56 suara. Jokowi naik 133 suara, Prabowo turun 106 suara.

BACA JUGA:  Alumni Trisakti Pro 02 dan Garuda Kalibata Deklarasikan Laskar TPS

Menyikapi hal itu, Komisioner KPU Evi Novida Malik menjelaskan Apabila ada kesalahan, KPU tak menutup diri untuk melakukan koreksi, “Kesalahan entri kasus di TPS 093 Badara Cina telah diperbaiki. Dalam Situng KPU. suara Prabowo-Sandi kembali seperti di C1 yakni 162. suara Jokowi-Ma’ruf 47.

TPS 03 Kelurahan Pandan, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Pematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

 

Input data di web resmi KPU tidak Valid

Salah input data juga terjadi di TPS 03 Kelurahan Pandan, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Pematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam formulir C1 suara SAH berjumlah 184, namun yang ditampilkan di website KPU, Paslon Capres 01 melebihi suara SAH yakni 249 suara, dan Paslon Capres 02 berjumlah 135 suara.

Sedangkan di form C1 tertulis suara SAH untuk paslon capres 01 Jokowi hanya berjumlah 49 suara, dan Paslon capres 02 di angka 135 suara.

BACA JUGA:  Deklarasi Dukungan Masyarakat Bugis Untuk Paslon Pilpers 02

Itu artinya ada penggelembungan suara untuk Jokowi-Ma’ruf Amin di TPS 03 Tanah Abang Sumut 200 suara.

C1 TPS 02 Kelurahan Balai Kencana, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung

 

Input data suara di web KPU tidak Valid

Sama halnya kejadian di TPS 02 Kelurahan Balai Kencana, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Terdata di C1 tersebut suara SAH berjumlah 185 suara, Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh 80 suara. Dan Prabowo-Sandiaga 105 suara.

Namun input KPU di website resminya tidak sesuai, yakni suara Jokowi-Ma’ruf Amin full di angka 185 suara, sedangkan Prabowo-Sandiaga NOL.

Menurut Jurkamnas BPN Prabowo-Sandiaga, H. Iswan Abdullah menuding KPU telah di duga melakukan unsur kejahatan terstruktur dan masif. “Kenetralan KPU dalam menegakan azas demokrasi yang sehat perlu dipertanyakan. “Urainya.

Iswan juga menduga puluhan, ratusan bahkan ribuan TPS yang memiliki kasus sama seperti itu, artinya Jokowi-Ma’ruf Amin dipaksa menang dengan kecurangan.(Op)

Komentar