oleh

Jilat Menjilat Tradisi Rezim Demokratis

Kabartoday, Jakarta – Diskusi ‘Keutamaan dan Ruang Publik’ diselenggarakan pada Selasa (12/3/2019), bertempat di Tjikini Lima JI. Cikini I no 5 Jakarta, menghadirkan pembicara Dr. Setyo Wibowo dan Prof. Komaruddin Hidayat.

Diskusi terbuka yang digelar untuk umum ini mengundang audiens dari kalangan profesional, politikus, mahasiswa, dan peminat kajian filsafat secara umum dan tuntas.

Menyambung diskusi “Menolak Pemiskinan dan Pembusukan Filsafat di Ruang Publik” 13 Februari 2019 lalu, Komunitas Pegiat Filsafat berikhtiar untuk melanjutkan pendalaman pada salah satu topik yang sempat disinggung pada acara tersebut, namun belum cukup diperdalam diskursusnya, yaitu soal Keutamaan (Virtue).

“Diskusi ini diharapkan dapat mencermati secara kritis situasi sosial politik kontemporer dan menyumbangkan gagasan dalam diskursus tentang Keutamaan yang cenderung absen di pergulatan sosial-politik nasional saat ini. “Ucap Dr.Setyo Wibowo di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Kita amati bahwa ruang publik kontemporer dipenuhi cuitan-cuitan gaduh yang isinya tidak jauh dari blame game, caci maki, dan tuduhan tak ilmiah dengan tendensi merebut maupun mempertahankan kekuasaan.

BACA JUGA:  Diancam Lewat Sosmed, Lasmi Korban Mafia Sepakbola Minta Perlindungan LPSK

Demikian pula, kontroversi tentang beragam kebijakan publik maupun pilihan elektoral membuat masyarakat semakin terpolarisasi dalam voiced disagreement yang tidak berkesudahan.

Dalam situasi tersebut, bukankah semakin dibutuhkan keutamaan publik yang berpihak pada moderasi dan bukan partisan membuta? Tidakkah keutamaan publik demokratis yang membuka ruang untuk bertahtanya akal sehat dan kritis, menjadi dambaan warga negara di tengah gelombang populisme?

“Lalu, keutamaan moderasi seperti apakah yang dapat merangkul tanpa menundukkan, memoderasi tanpa menghegemoni, dan mencari solusi tanpa pretensi diskriminasi. “Ulas Prof. Komaruddin Hidayat.

Dalam analisis fllsuf Platon tentang siklus rezim politik, demokrasi akan berujung pada tirani. Artinya, bila kajian psiko-politik Platon diterapkan pada level individu: manusia demokrasi adalah persiapan menuju manusia tiranik. Psikologi individu berkaitan dengan situasi negara tempatnya hidup.

Individu demokratis berkaitan dengan rezim demokrasi yang dihidupinya. Kalau rezim feoda menciptakan kaum kuli dan tuan (patron client relationship), maka rezim demokratis menciptakan manusia demokratis yang segera berevolusi menjadi manusia tiranik yang tahu bahwa selain dikelilingi para penjilat, ia juga berhadapan dengan para tiran lain yang hobinya juga dijilat. Maka ia harus hidup dalam negosiasi permanen jilat menjilat.

BACA JUGA:  Sikap MIUMI Atas Pembantaian Muslim di Masjid Al Noor Selandia Baru

Di satu sisi, ia senang dan bangga karena dijilat. Egonya melambung akibat jilatan pemujanya. Di sisi Iain, ia paranoid karena ia berada di tengah tiran-tiran Iainnya yang menuntut penjilatan yang sama.

Ia paranoid karena sebenarnya ia tahu jilat-menjilat itu tidak mutu (karena ujung-ujungnya hanya uang), tetapi ia menikmati dan menginginkannya langgeng.

Manusia demokratis yang berevolusi menjadi manusia tiran adalah manusia-manusia yang terbelah di dalam (mengalami splitpersonality), Pada tataran sosial, situasi ini mengkhawatirkan. Dalam bahasa Platon, rezim demokrasi adalah rezim keterbelahan menjadi awal munculnya figur Sang Tiran (tokoh yang dianggap tegas dan bertangan besi, bisa menyelesaikan masalah rakyatnya yang bingung dan terbelah jiwanya).

Dalam situasi keterbelahan rezim politik semacam ini, para penangguk keuntungan adalah kaum sukophantes (bhs. Inggris: sychophants). Di era penuh kebingungan yang mencapai 30% dan sukophantes mendapatkan lahan basahnya.

BACA JUGA:  100 Jenderal Serukan Hak Kedaulatan Rakyat

Ketika rakyat bingung. saat argumen mentok, padahal demokrasi hanya bisa dimenangkan Iewat kata-kata, kaum Sofls dan Sukophantes menjadi tumpuan harapan. Kaum sukophantes ini bisa ditemukan dimana-mana.

Mereka suka mengadu opini satu dengan opini Iainnya demi bisa menjilat boss masing-masing dan supaya dijilati dengan rakusnya oleh para followemya.

Di kalangan politisi, pemuka agama, intellektual, pemegang acara talk show, wartawan (dengan koran cetak maupun online-nya), para selebritis twitter, facebook dan instagram yang followemya berkilo-kilo atau bermega-mega jumlahnya. Saat ini Indonesia mengalami situasi keterbelahan itu.

Kaum cebong memiliki dunianya sendiri. Kaum kampret juga memiliki dunianya sendiri. Negara ini sudah terbelah menjadi dua, dan keduanya tak saling berkomunikasi. Tiap pihak mengadukan pihak Iainnya. Berkaca dari deskripsi atas fenomena di atas, adakah jalan keluar yang masuk-akal dan win-win dari situasi ini.(Bbg)

Komentar