oleh

Jusuf Rizal: Ada ‘Grand Design’ Pembunuhan Karakter Anies Karena Potensi Pilpres 2024

-Aktual-118 views

 

Kabartoday, Jakarta – Enggannya media mengangkat prestasi kinerja Gubernur Anies membikin Presiden LSM LIRA (Bermuri-red) merasa prihatin. Hal itu adalah sebuah pembodohan. tegas HM Jusuf Rizal yang juga selaku Dewan Pembina sekaligus Penggagas Ikatan Reporter Seluruh Indonesia_IRSI red.

Media adalah sosial kontrol dalam menunjang pembangunan terhadap kemajuan Ibukota Jakarta. Sedangkan catatan Divisi Litbang LSM LIRA terkini, banyaknya pihak yang menghujat kinerja Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan itu dinilai tidak realistis. Demikian Ketua Presidium The President Center Relawan Jokowi-KH.Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 itu. LSM Lumbung Informasi Rakyat perlu diketahui khalayak kerap mengkritisi kinerja pemerintah. Namun untuk Gubernur Anies, JR memberi pembelaan.

Ini bentuk pengkerdilan karakter Anies Baswedan. LSM LIRA (Bermuri-red), Anies digadang-gadang berpeluang pada Pilpres 2024. “Semua itu tergantung kapasitas dan kapabilitas Anies dari waktu ke waktu,” tegas JR turut mengakui dari beragam macam piagam prestasi diraih Anies itu semua lantaran menyelesaikan berbagai masalah kompleks di Ibukota.

Kepada Wartawan secara eksklusif di Graha Perwira Gedung Gajah Tebet, Jaksel markas DPP IRSI, Pendiri dan Presiden LSM LIRA, HM. Jusuf Rizal menyebutkan hujatan yang ditujukan pada Anies lebih banyak bermuatan politik. Gubernur Anies memiliki potensi besar untuk maju pada Pilpres 2024. Ada grand design untuk melakukan pembunuhan karakter seolah-olah Anies tidak memiliki kapasitas yang cukup menyelesaikan berbagai masalah di DKI Jakarta.

“Menurut saya Anies punya kapasitas dan kapabilitas yang cukup untuk menyelesaikan itu semua. Tetapi memang tidak bisa sekaligus. Jelas perlu tahapan, apalagi ingin memuaskan semua pihak. Masalah di Jakarta bukan hanya Sampah dan Polusi, tapi juga masalah sosial kemasyarakatan yang perlu perhatian serius” Jusuf Rizal dengan nada sedikit tinggi.

BACA JUGA:  Polresta Sidoarjo Tangkap 27 Orang Spesialis Curat, Curas dan Curanmor

Soal Polusi Udara, tidaklah bijak jika masyarakat hanya bisa menyalahkan Gubernur Anies. Indikasinya banyak faktor yang menyebabkan buruknya kualitas udara Jakarta. Tidak hanya disebabkan polusi kendaraan, terutama motor. Melainkan juga dipicu pembangunan sebelum Anies memimpin Jakarta, telah menggerus ruang hijau terbuka ibukota.

Untuk itu diperlukan Kebijakan yang konprehensip tapi tidak merugikan masyarakat. Problem dari polusi terbesar adalah kendaraan. Karena itu perlu regulasi terhadap sektor ini perlu diperketat.

Pembatasan kendaraan 10 tahun, lanjut Jusuf Rizal bukan solusi karena dapat merugikan masyarakat. Yang diperlukan adalah semua kendaraan harus melalui “lolos uji emisi”. Bagi kendaraan yang tidak lolos uji emisi, Pemda DKI jangan kasi keluar izin bahkan jangan perpanjang STNK mereka. Bila perlu, mobil atau kenderaannya diberi tanda tertentu agar diketahui khalayak.

Lebih jauh menurut Jusuf Rizal usia kendaraan 10 tahun belum tentu kualitas kendaraannya jelek, apabila yang memakai pemeliharaannya bagus. Jika substansinya ingin menekan polusi udara bukan pembatasan usia 10 tahun, tapi uji emisi yang ketat. Semua kendaraan wajib uji emisi termasuk sepeda motor. Pemda DKI tinggal menyiapkan pelayanan terpadu dengan Dishub dan pihak Kepolisian.

Berikutnya adalah ruang hijau. DKI Jakarta mulai kekurangan ruang hijau karena pembangunan yang merusak ekosistim. Pembangunan jalan, mall dan perkantoran telah ‘menggusur’ ruang hijau yang dapat menekan polusi. Ruang-ruang hijau disetiap Kelurahan telah habis karena tidak terpelihara. Dinas pertamanan dinilai kurang baik pemeliharaannya. “Lihat dan cek itu daerah Tugu Tani. Banyak tanaman dan kembang kering kerontang sebab tidak terpelihara.”

BACA JUGA:  Kapolda Banten, Irjen Pol Drs Tomsi : Peran Pemuda dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme

Ketum IRSI, Ir. H. Arse Pane turut berpendapat (9/8/2019), dulu Gelora Bung Karno penuh penghijauan. Kini, semua itu jadi beton-beton kering. Padahal penghijauan jadi paru-paru Kota. Galakkan kembali penghijauan di Jakarta dan setiap perkantoran. “Itu fasum fasos, dan rumah-rumah wajib tanam pohon. Buat Gerakan Hijau Jakarta,” Lurah cek itu saat apel pasukan orange tegas pria berdarah Batak – Karo itu sambil menyebutkan buruknya kualitas udara Jakarta turut dipicu kemarau panjang.

Masalah sampah, Bang JR (sapaan akrab Presiden LSM LIRA Bermuri-red) di Jakarta sejak lama sudah bermasalah karena keterbatasan lahan pengolahan sampah. Nah, itu bicara teknologi tepat guna. Lemahnya budaya bersih masyarakat dan Penegakan hukum atas Perda. Sampah terbesar di DKI Jakarta adalah bersumber dari sampah rumah tangga. Untuk itu perlu digalakkan bersih lingkungan mulai dari tingkat RT, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna dan masyarakat.

Masalah sampah di DKI Jakarta ada dua. Pertama kebersihan yang berpengaruh pada lingkungan. Masyarakat masih kurang disiplin dan sembarangan membuang sampah. Pada aspek ini Pemda perlu tegas menegakkan aturan. Yang melanggar denda. Siapkan tempat pembuangan sampah kering dan basah. Agar Wajah Jakarta bersih.

Kedua masalah pengelolaan sampah. Untuk mencari solusi pengelolaan sampah Pemda DKI Jakarta perlu mengajak semua pihak bekerjasama dan menjadikan pengelolaan sampah sebagai kegiatan usaha. Tidak hanya sebatas penggunaan teknologi, tapi juga unit usaha yang membuka peluang usaha. Diberbagai negara sampah dapat di plan kembali menjadi berbagai produk, seperti baju dan selimut, dll.

BACA JUGA:  Aktivis Lieus Orasi Minta Pengadilan Tinggi Kabulkan Penangguhan ADP

“Saya ini orang Madura. Urusan barang bekas dan sampah bisa jadi duit. Anies perlu juga tau teknis masalah pengelolaan sampah dibawah. Dibawah itu ada mafia sampah. Ada juga kebocoran pengelolaannya Anggaran yang kami duga sudah berlangsung sejak Gubernur dipimpin Sutiyoso. ungkap Pria keturunan Batak – Madura itu.

Banyak investor yang mau investasi pengelolaan sampah. DKI Jakarta bukan keluar duit, tapi dapat duit, namun ini banyak tak berjalan,” papar Jusuf Rizal

Jadi menyelesaikan masalah DKI Jakarta bukan hal yang sulit bagi Anies. Ini ditunjukkan dengan berbagai penghargaan atas prestasinya selama dua tahun pimpin Jakarta. Ada yang tidak puas, itu wajar. Anies memang beda gaya dengan Ahok dalam memimpin DKI Jakarta. Jika saat ini sering di “bully” itu karena ingin merusak elektabilitas dan citranya sebagai Gubernur Yang berhasil.

Agar serangan melulu terfokus pada Anies, sebaiknya Anies segera meminta kepada DPRD untuk mengisi kekosongan Wagub DKI yang ditinggal Sandiaga Uno. Pengelolaan DKI Jakarta yang sangat kompleks ini tidak bisa hanya ditangani Gubernur sendiri, tapi juga perlu Wagub agar ada pembagian tugas dalam tata kelolanya.

“Prinsip LSM LIRA mendukung Anies untuk mengelola DKI Jakarta yang lebih baik dan maju. LSM LIRA siap menjadi “mata dan telinga” bagi kemajuan Jakarta serta akan memberikan gagasan, masukan dan kritikan yang konstruktif mendukung kinerja Anies. Hendaknya Anies lebih banyak lagi melibatkan Civil Society Organization,” papar pria yang juga menjabat Wakil Ketua Umum KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) menutup pembicaraan.(Bbg)

Komentar