oleh

Kades Purwareja Klampok Jual Pohon Jati, Polisi Kok Diam

Kabartoday, Banjarnegara – Kades Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara Danang Agus Pramono telah menjadi pembicaraan warganya. Ia diduga telah menjual pohon jati aset desa.

Ketua BPD desa Purwareja, Sugeng menyatakan bahwa mekanisme penjualan aset desa diatur melalui prosedural.

“Ada aturanya, tidak bisa seorang kades menjual aset desa seenaknya, karena mekanisme penjualan aset desa ada prosedurnya. “Kata Sugeng saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (22/6/2019).

Sugeng juga mengatakan pohon jati itu juga salah satu aset desa. Secara prosedural hukum, kades Danang Agus Pramono telah melanggar aturan.

“Kades Purwareja dalam hal ini Sdr. DAP menjual pohon jati yang merupakan milik aset desa. Tentunya sdr. DAP telah melanggar prosedur sebagaimana yang telah diatur tentang Pengelolaan Aset Desa. “Ungkapnya.

BACA JUGA:  Bupati Lantik 352 Pejabat Karawang 

Mekanisme tersebut dijelaskan Sugeng terdapat dalam Permendagri 110 tahun 2016 tentang BPD, dimana penjualan aset desa mestinya harus melalui musyawarah oleh BPD.

“ini sudah meresahkan warga desa, dan ini sudah ramai setelah banyak informasi di masyarakat. “ujar Sugeng.

Terpisah, Kadus empat, Marno menjelaskan terkait penjualan pohon jati tersebut terletatak di wilayah kadus satu, empat, dan kadus lima. Dirinya juga tidak mengetahui dengan jelas kalau Kades Danang Agus Pramono memjual pohon jati tersebut.

“Ada yang tidak beres dalam persoalan ini, saya waktu itu hanya di telpon pak kades dan di suruh mengamankan ada penebangan pohon, masalah di jual dan harganya berapa, saya juga tidak tau. “Urainya.

Hal tersebut juga dibenarkan Hadi Suwito atau (Midun) selaku pengusaha kayu sekaligus pembeli pohon jati warga dusun Cangkring desa Brengkok.

BACA JUGA:  Kadis Pengairan Banyuwangi : Pembangunan Hotel Kokoo Sudah Mendapat Rekom Dinas

Midun menjelaskan dirinya telah membeli pohon jati kurang lebih 120 pohon sebelum lebaran kurang satu minggu kepada Kades Danang.

“Seminggu sebelum lebaran kemaren saya beli 120 pohon jati ke Kades Danang, pembayaran pertama saya serahkan di kantor desa senilai 10 juta, sedangkan pembayaran ke dua saya serahkan kepada pak Kades dirumah bu Rohsuci, kalau hal ini menjadi sengketa di desa, saya juga tidak tau. “Beber Midun.

Dalam keterangannya, Midun tidak merinci berapa total harga 120 pohon jati yang dibelinya dari Kades Danang.

Sementara, Kusnen (50) warga RT02/ RW06 menerangkan sebelumnya telah ada perjanjian kerjasama pembangunan hutan desa yang dibuat pada tanggal 7 Desember 2004.

BACA JUGA:  Siswa Tantang Guru Di dalam Kelas, Ini Salah Siapa?

“Semua kan sudah tertera, bahkan di Pasal 8 disebut bagi hasil tanaman ada beberapa poin, yakni;

1). Warga desa masyarakat pembagiannya sebesar 45%

2). Untuk Desa: 45%

3). Dan untuk Kabupaten: 5%.

4). Sedangkan untuk Propinsi: 5%.

Kusnen menyayangkan langkah Kades Danang tidak sesuai dengan kenyataan yang telah dituangkan dalam perjanjian itu.

“Waktu itu ketika mulai rame pohon jati dijual Kades, saya langsung temui pak Kades, dan disodorkan uang Rp 500 ribu, tapi saya tolak. “Ulas Kusnen.

Warga meminta kepolisian Purwareja Banjarnegara segera menindak tegas Kades Danang Agus Promono.

“PAK Polisi kok diam seehhh. “Singgung warga.(Ardi)

Komentar