oleh

KALWEDO Lambang Daerah, Tidak Boleh Digunakan Untuk Kepentingan Politik

Kabartoday, AMBON – Kata Kalwedo bagi masyarakat Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) merupakan salah satu roh kebudayaan daerah tersebut. Bahkan kata Kalwedo sudah dijadikan lambang daerah Kabupaten MBD sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2011 yang ditandatangani Bupati MBD saat itu Barnabas Orno yang saat ini adalah Wakil Gubernur Maluku.

Karena sudah menjadi lambang daerah, maka kata Kalwedo tidak dapat digunakan sembarangan, apalagi untuk kepentingan politik, komersial pribadi orang perorang.

Demikian dikatakan salah satu tokoh masyarakat MBD Alex Frans. Menurutnya jika ada yang menggunakan kata Kalwedo untuk kepentingan politik atau hal lain yang bersifat pribadi maka merupakan bentuk pelanggaran terhadap Perda yang bisa berujung pidana.

“Kalwedo itu sudah dijadikan sebagai  salam khas Maluku Barat Daya, jadi kata itu tidak boleh digunakan sembarang, khususnya dalam hal untuk merek dagang, merek LSM, merek partai politik,” jelas Frans kepada wartawan kemarin.

BACA JUGA:  Bupati Kampar Sebut Infrastruktur Hal Utama Kebutuhan Masyarakat

Frans yang berprofesi sebagai advokat katakan penggunaan kata Kalwedo sebagai jargon salah satu kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Maluku Barat Daya, periode 2021-2026 adalah perbuatan  melawan hukum yakni melanggar Perda nomor 8 tahun 2011.

Ia ungkapkan ketika kata Kalwedo itu hendak dipakai sebagai jargon dari salah satu pasangan kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati seharusnya terlebih dahulu ada pengkajian.

Ia bahkan merasa heran karena calon Wakil Bupati dari pasangan  kandidat tersebut adalah seorang yang bertahun-tahun bekerja sebagai seorang birokrat tetapi tidak mempelajari Perda MBD sehingga justru menggunakan jargon Kalwedo yang semestinya tak boleh dipergunakan sebagaimana mestinya.

Menurutnya, di dalam Perda MBD nomor 8 tahun 2011 sudah menetapkan kata Kalwedo sudah dijadikan sebagai  salam khas Maluku Barat Daya jadi kata itu tidak boleh digunakan sembarang, khususnya dalam hal sebagai merek dagang, merek LSM, merek partai politik.

BACA JUGA:  Cegah Penyebaran Covid-19, PAC Partai Demokrat Sukamakmur Bagi-Bagi Masker

Terhadap adanya penggunaan kata Kalwedo sebagai istilah pasangan calkada, Frans berpendapat Pemda MBD terutama Biro hukumnya harus jeli melihat hal tersebut dan memberitahukan kepada pihak Panwas.

Selain itu, Frans katakan Satpol PP yang memiliki tugas dan kewenangan menjaga Perda agar segera menindaknya. Pasalnya dalam Perda diatur soal denda bagi pelanggar dan hal tersebut harusnya menjadi kewajiban Satpol PP untuk segera mengamankannya sebagai perbuatan melanggar aturan pemerintah.

Soal kemungkinan apabila Biro Hukum Pemda MBD melakukan somasi atau teguran kepada paslon pengguna jargon Kalwedo yang bakal menuai pemikiran ke arah politik jika Bupati yang sekarang  ini juga maju selaku salah satu paslon ada di balik peneguran itu, Frans dengan tegas mengatakan kemungkinan itu tidak karena Perda itu punya Pemda sehingga bagian hukum Pemda harus menegur.

“Karena sudah sewajarnya paslon yang maju itu bakal menjadi pejabat dan apa jadinya mau jadi pejabat tapi tidak menghargai aturan yang ada di daerah yang akan dipimpinnya itu,” tandas Frans.

BACA JUGA:  Jual Istri Di Medsos, Suami Bejad Ini Diringkus Polisi

Ia juga katakan tindakan paslon pengguna kata Kalwedo jelas-jelas tidak menghargai tatanan budaya dan adat di bumi Kalwedo bahkan melakukan pelanggaran, kecuali hal itu tidak di atur dalam Perda. Padahal larangan itu jelas-jelas diatur dalam Perda tentang penggunaannya di bidang politik.

Sementara itu dari informasi yang dihimpun di media ini menyebutkan, sebagian masyarakat resah dengan penggunaan jargon Kalwedo oleh salah satu paslon kandidat Bupati dan Wakil Bupati MBD periode 2021-2026 lantaran penggunaan kata itu sebagai jargon bisa saja merugikan masyarakat yang lain saat melakukan sosialisasi di saat duduk adat, juga saat berdoa di gereja ataupun Mesjid yang terbiasa mengucapkan kata Kalwedo karena akan menimbulkan pemikiran sedang mengkampanyekan paslon dengan jargon Kalwedo. (Manuel)

Komentar