oleh

KGP: Mencium Aroma Bahaya dan Huru-Hara Pasca Penetapan Jokowi-Ma’ruf

kabartoday, Jakarta – Sudah 9 hari palu hakim Mahkamah Konstitusi (MK) diketok pada Kamis (27/6) pukul 21.15 WIB dengan menolak semua permohonan pemohon tim hukum Prabowo-Sandiaga.

Menurut Ki Gendeng Pamungkas (KGP), putusan Hakim Konstitusi MK tanggal 27 Juni kemarin seakan pas sebagai (2+7) kinerja 9 hakim yang keputusannya (disiarkan) hanya sampai ke (lapisan) langit ke-6 (saja) sehingga timbul cilaka 12 (2+0+1+9).

“Bila prabowo tidak memberikan ucapan selamat karena memang rakyat tau bahwa ternyata hingga hari ini suara belum 100 persen masuk ke KPU dalam situng manual. “Kata Ki Gendeng Pamungkas, Kamis (4/7/2019) di Bogor.

BACA JUGA:  DPR RI Minta Pemerintah Kaji Peraturan Menteri Keuangan No 120 Tahun 2017

KGP juga menyebut kejadian itu menjadi petunjuk bahaya. Hal itu karena suasana kebatinan rakyat Indonesia hambar dari pendukung jokowi sendiri. KGP melihat para pendukung Jokowi perlahan tapi pasti telah hijrah mendukung prabowo sedikit demi sedikit.

“Bukan tidak mungkin pengumuman KPU pastinya saya lihat dibawah tekanan politik akal busuk di lingkaran Jokowi. Dan ini sangat keras terjadi gesekan arus bawah. Pada akhirnya melahirkan pemimpin baru yang tidak disangka-sangka hasil dari gesekan arus bawah di negara sendiri yang tengah menunggu revolusi alam/atom. “Ungkap KGP.

BACA JUGA:  Marak Penipuan Promo Tiket Online di Facebook Wartawan Demokratis Menjadi Korban

Ia menyatakan telah bertengkar hebat dengan para penasehat prabowo yang sok mengerti agama, hanya karena bangga pakai sorban dan baju koko.

“Mereka seakan paham persoalan kebatinan sosial. Padahal saya lihat huru-hara akan terjadi dengan sendirinya dipicu karena ada hijrahnya pendukung jokowi yang dikejar dosa atas kecurangan politik dan dikejar oleh arwah KPPS yang tewas misterius. “Pungkas KGP menutup pembicaraan.(Hsw/red)

Komentar