oleh

Kisah Pemimpin Desa Dataran Palestine

Oleh: Von Edison Alouisci

Kabartoday, Jakarta – Cerita ini adalah pengalaman sejarah perjalanan ketika di sebuah tempat bumi Palestine 1998.

Cerita yang terabaikan dan tenggelam di tengah situasi konplik palestine dan kabar dunia.

Saya menulis ini sebagai catatan pengalaman dan renungan pribadi. semoga anak cucu kelak yang membaca ini belajar bagaimana seandainya Allah memberi beban ujian sebagai pemimpin.

Di sebuah kawasan di wilayah al quds ada seorang pemuda yang alim. santun.. cerdas dan ahli politik.

Sehari-hari kerjanya hanya gembala kambing tetangga di desanya.pakaianya sederhana. dan tinggal dengan seorang ibu yang sudah uzur.. di rumahnya yang sederhana.

Wajahnya tampan.. dan selalu menunduk jika bertemu orang dengan ucapan salamnya yang khas.

Ia berguru dengan seorang ulama di kampungnya dan di kenal sebagai pemuda cerdas.. dan sangat hapal Al Qur’an, namanya Chasem bin Abdellah.

Penduduk menyukainya sehingga ia di tunjuk untuk memimpin di daerahnya.. sebuah desa pinggiran al quds itu.

Tetapi ia menolak, namun karena selalu di desak akhirnya ia menuruti permintaan warga. Ketika terjadi pemilihan pimpinan alhasil ia ternyata menang..

BACA JUGA:  Paska Pilpres Ma'aruf Amin Minta Tak Ada Lagi Sebutan Cebong Dan Kampret

lantas apa katanya ketika bicara pada penduduk ?

Chasem berkata: “Saudaraku seiman, hari ini saya menanggung beban akherat. saya ini telah kalah” Sesungguhnya kemenangan itu milik kalian. kalian tidak di bebani tanggung-jawab dunia akherat, sedangkan saya seperti dikalungi pedang yang setiap saat memutuskan leher ini.

“Saya ini kuli kalian, saya ini babu kalian, saya ini di perintah oleh kalian merapikan tempat ini agar di pandang indah, tugas saya maha berat seperti memikul beratnya gajah, sanggupkah saya? Tolonglah saya wahai saudaraku, jika perbuatanku salah maka berilah aku petunjuk agar tidak salah membuat tempat ini indah.”

Chasem juga meminta warganya untuk marahi dia jika bangun kesiangan. “Marahilah saya jika pekerjaan saya terbengkalai, dan bimbinglah saya menuju jalan yang baik, sehingga tempat ini menjadi tempat kita mulia dalam pandangan tuhan.”

Saya ingat sabda rasullah..

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻣَﺴْﻠَﻤَﺔَ ﻋَﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺩِﻳﻨَﺎﺭٍ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟَﺎ ﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ ﻓَﺎﻟْﺄَﻣِﻴﺮُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺭَﺍﻋِﻴَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻴْﺖِ ﺑَﻌْﻠِﻬَﺎ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَﻫِﻲَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻟَﺔٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻩِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﻜُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ
Ibn umar r.a berkata, saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung-jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumahtangga suaminya akan ditanya perihal tanggung-jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/ pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim).

BACA JUGA:  Prabowo Tepati Janji, Timbul dan Tenggelam Bersama Rakyat

“sungguh saudaraku, ketika ingat nasehat rasulullah ini.. hatiku bergetar karena besarnya tanggung-jawab yang saya pikul.

“Sungguh, saya tidaklah bersenang dengan ini, saya diberi amanah yang penuh resiko, salah dan dosa, karena itu wahai saudara saya, ringankan beban ini dengan gotong-royong bersama, sebab saya tidak akan pernah berhasil hanya dengan kedua tangan ini dan kedua kaki ini.”

BACA JUGA:  Tim Bentukan Polri Gagal Usut Pelaku Kasus Novel Baswedan

Mohon janganlah bangga jika nanti tempat kita ini baik, sebab kalianlah yang menolong saya, dan janganlah bersedih jika harapan belum tercapai, sebab saya ini insan yang lalai.

“Maapkan saya saudara-saudaraku, sebab saya bukanlah putra terbaik tetapi putra terburuk yang akan menanggung akibatnya di akherat”

Pemuda ini kemudian menangis karena rasa takutnya begitu besar pada Allah..

Begitulah perkataan pemuda ini ketika ia terpilih jadi pemimpin di desanya. Penduduk yang mendengarnya meneteskan airmata haru dan banyak yang memeluknya karena akhlaknya dan tutur katanya yang begitu menyentuh perasaan mereka.

ADAKAH DI TEMPAT KITA SEPERTI INI?
ADAKAH PEMIMPIN KITA YANG BEGITU TAKUT TANGGUNG-JAWAB AKHERATNYA?

Andaikan Negri Indonesia di penuhi pemimpin seperti pemuda ini.. Subhanallah alangkah indahnya Indonesia, bukan saja karena tempat, tetapi kemuliaan akhlak.

Komentar