oleh

Kubu Jokowi Gencar Tebar Isu HAM dan Khilafahnya Prabowo

Kabartoday, Jakarta – Isu HAM 98 dan Khilafahnya Prabowo seakan tidak pernah surut dari cibiran dan ucapan petahana dan kubu pendukungnya disetiap kesempatan orasinya, di sosial media maupun beberapa kali debat Pilpers.

Tentunya seorang yang memiliki identitas presiden Indonesia, Jokowi bisa lebih menahan diri dari ucapan-ucapan nya yang berakibat fatal memecah belah umat agama, dan menjust seseorang itu salah dalam tragedi 98.

Diketahui bahwa Isu HAM yang digembar-gemborkan oleh Jokowi dan kubunya mematik kembali perang elite politik dan kemungkinan memicu fungsional militer TNI.

Meski sudah tau siapa dalang penculikan para aktivis tragedi 98, namun hal itu tidak membuat Jokowi dan kubunya berhenti, malah mereka terus menerus melakukan penggiringan opini dan merucut pada kesalahan seseorang demi memenangkan Pemilu 2019.

Debut pilpers Indonesia 2019 kali ini begitu hebat dan semua mata melihat, bahkan seluruh elemen, rakyat Indonesia dan dunia ikut andil dalam bagian sejarah pilpers Indonesia di 17 April 2019.

Karena, Pilpers 2019 bukan saja memilih siapa yang mampu, siap menjadi wajah pertiwi yang bersih dan berpihak pada rakyat Indonesia, akan tetapi juga sebagai pertaruhan harga diri bangsa, demi kedaulatan NKRI kedepan.

BACA JUGA:  Mr. Kan: 16 Fakta Kondisi Negara Sangat Memprihatinkan

Tidak terbukti dengan Isu HAM 98, muncul kembali sebuah informasi, di tanggal 10 April 2019 ini sebuah lembaga pemerintah yang dimotori Profesor dari Universitas Indonesia (UI) berencana mengadakan seminar, dengan mengundang penulis Belanda dan wartawan asing terkait isu perang Timor -Timur.

Kata Naniek S Deyang, dalam seminar tersebut juga akan diangkat keterlibatan Prabowo Subianto pada pembakaran sebuah desa yang diisukan ada 300 wanita dibunuh.

Kebenaran yang terjadi bahwa benar desa itu memang dibakar, tetapi setelah warga dikosongkon oleh Prabowo Subianto, isu adanya 300 wanita dibunuh di desa tersebut merupakan berita yang sangat tidak terpuji.

Menurut saksi kejadian pada waktu itu, Prabowo memang menerima instruksi dari Jenderal di Jakarta untuk membakar sebuah desa yang ditenggarahi banyak dihuni milisi.

Apakah Prabowo menurutinya?, jawabnya TIDAK!, karena diam-diam Prabowo bersama pasukannya, justru mengungsikan rakyat dari desa tersebut. setelah kosong tidak berpenghuni barulah desa tersebut dibakar.

BACA JUGA:  Dansat Brimob Polda Banten Pimpin Pengamanan Pilkades di Rajeg

Kemudian Prabowo melaporkan atas perintah Jenderal di Jakarta bahwa seolah-olah dia sudah menjalankan perintah Sang Jenderal.

Jadi Prabowo memilih tidak menjalankan instruksi Jenderal di Jakarta, karena tentara sejati tidak akan melakukan hal bodoh membakar rakyatnya sendiri.

Sang Jenderal mengetahui bahwa ia dikelabuhi Prabowo soal pembakaran desa itu, maka sejak saat itu Jenderal atasannya itu terus mencari kesalahan Prabowo, karena merasa dibohongi Prabowo.

Berdasarkan informasi kuat, semua saksi anak buah Prabowo Subianto dalam tragedi itu masih hidup, dan saksi dari penduduk desa itu pun juga masih ada.

Prabowo telah menyelamatkan rakyat di desa tersebut, dan tanggal 10 April 2019 nanti, tragedi isu HAM Timor-Timur ini akan dibuka oleh lembaga pemerintah dengan bantuan wartawan asing, dengan dugaan kembali memfitnah bahwa Prabowo membunuh 300 wanita di desa Timor-Timur sebagai pelanggaran HAM dunia.

Apakah itu bagian dari perang total yang sempat dilontarkan Jenderal Moeldoko?

Natalius Pigai

Lepas isu HAM kacangan yang diblundur dan dituduhkan ke Prabowo Subianto, Natalius Pigai juga melantangkan suaranya di kampanye akbar Prabowo-Sandiaga yang dihadiri lebih dari 1 juta orang di GBK, Minggu (7/4/2019).

BACA JUGA:  Perempuan Maluku Utara Bangkit Menuju Pileg 2019

Natalius Pigai dengan bangga menyampaikan dirinya tdak Pernah membayangkan sebuah kehormatan bahwa Calon Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Akbar hanya menyebutkan namanya dihadapan juta-an orang.

Dalam orasinya, Prabowo mengatakan “Kalau saya dukung khilafah dan tidak demokratis dan Inklusif tidak mungkin Natalius Pigai mendukung Saya”.

Jutaan orang gemuruh dan tepuk tangan seisi stadiun GBK selama 1 menit. Disaat memasuki Prabowo juga memeluk Natalius Pigai.

Kembali ke Natalius Pigai, ia juga membeberkan di 2014 tidak terbantahkan bahwa dirinya pernah memberi kontribusi tidak kurang dari 5% atas kemenangan Jokowi.

Jokowi, Mega, Hasto, Luhut, Hendro, Suryo Paloh menganggap Natalius Pigai hanya semut hitam kecil.

“Mereka tidak pernah tahu bahwa Gajah tidak pernah mengalahkan Semut, tetapi sengatan semut dapat mematikan Gajah. “Kata Natalius.

Ia juga mengingatkan kepada Jokowi dan para pendukungnya, “bahwa harus disadari sekalipun anda (Jokowi Cs.red) buang saya ke lumpur, kotak sampah, Mutiara Tetaplah Mutiara. “Ucap Natalius.(Op/red)

(Natalius Pigai, Korban Kebohongan Rezim, Jokowi 2014-2019)

Komentar