oleh

Limbah Pengolahan Kulit Cemari Sawah, Petani Merugi Hingga Tak Mampu Bayar Pajak

kabartoday, Garut – Laju pertumbuhan industri kulit di garut mampu menjelajah dunia dengan kualitet yang mengundang animo pasar relatif tinggi dan memberikan warna tersendiri bagi pembangunan garut, melalui jargon “Garut Centra Pengrajin Kulit” dengan kontribusi peluang yang tinggi dan luas didalam mendongkrak perekonomian di sektor Industri.

Namun selain itu, maraknya industri kulit di Garut kota tak luput dari permasalahan. Permasalahan limbah pengolahan kulit yang acap kali muncul ditengah publik, seperti warna air di kali yang menjadi warna kelam, bau yang menyengat bagi ruang publik, dan pencemaran air yang mengairi lahan pertanian dan kebutuhan lainnya.

Dampak dari tercemarnya lahan pertanian oleh limbah pengolahan kulit yang mengalir ke kali dan sungai, sejumlah petani di Kelurahan Sukamantri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, tidak mampu membayar pajak tanah karena lahan sawah yang menjadi sumber penghasilannya tercemar limbah yang menyebabkan tanaman tidak tumbuh sempurna atau gagal panen.

BACA JUGA:  Bobroknya Kinerja KPU, Aliansi BEM Seluruh Indonesia Beri Ultimatum

“Petani tidak memenuhi kewajibannya membayar pajak karena lahan sawah yang digarapnya selalu mengalami kerugian akibat gagal panen dampak dari air limbah kulit, “kata petugas pajak lapangan dari Kelurahan Sukamantri, Garut Kota, Deni Herdiana kepada wartawan, Sabtu (6/7/2019).

Ia menuturkan, petani yang tidak membayar pajak tersebut tersebar di lahan sawah yang tercemar limbah yakni Kampung Lengkong, Bojonglarang, Copong dan Tanjungpura dengan luas lahan 90 hektare.

BACA JUGA:  63 Satker Pemasyarakatan Lolos Tahap Lanjutan Menuju WBK/ WBBM

“Dari 90 hektare lahan sawah tersebut, khususnya di Kelurahan Sukamantri, 60 persen diantaranya tidak memenuhi kewajiban membayar pajak, “ujar Deni.

Ia mengungkapkan, petani seringkali mengeluhkan ke petugas kelurahan tentang lahan sawahnya yang selalu merugi karena gagal panen dampak dari limbah kulit tersebut.

Limbah dari industri kulit di kawasan Garut Kota itu, kata Deni, mengalir ke sungai besar bahkan ke anak sungai yang selama ini mengairi areal lahan pertanian di Garut Kota. “Limbah cair itu mencemari sungai yang selama ini airnya digunakan untuk pertanian, “katanya.

BACA JUGA:  IKAMI: Hentikan Hitung Cepat, Tunggu Hitung Manual

Tambah Ia, selain mencemari aliran sungai, limbah cair kulit tersebut menyebabkan air sumur warga kotor sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga warga. “Bahkan, mengakibatkan terjadi iritasi pada kulit tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit lainnya.

Deni mewakili warga dan petani menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah dan para pengusaha kulit di Sukaregang Garut untuk segera menyelesaikan masalah warga yang terdampak limbah industri kulit.

“Kami mendesak pemerintah dan para pengusaha untuk memfungsikan atau mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah yang sudah ada, “begitu harapan Deni seraya menutup percakapan.(Alam)

Komentar