oleh

Marak Jual-Beli Buku di Sekolah, Ini Instruksi Kadisdik Garut

Kabartoday, GARUT – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut menginstruksikan kepada seluruh sekolah, khususnya Sekolah Dasar (SD) negeri agar tidak membebankan siswa membeli buku sebagai bahan penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) karena akan merepotkan orang tua siswa.

“Jangan sampai ada buku diwajibkan oleh sekolah, ini yang harus diluruskan, tidak boleh,” kata Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Garut, Totong, Kamis (25/7).

Pernyataan Totong tersebut terkait adanya orangtua siswa SD negeri di Kabupaten Garut yang mengeluhkan pembelian beberapa buku yang harganya hampir Rp. 1 juta.

BACA JUGA:  KPK Panggil Bupati Blitar Terkait LHKPN

Ia mengungkapkan, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk pendidikan sebesar 20 persen yang dialokasikan untuk buku paket sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Jika sekolah tidak menggunakan anggaran tersebut, kata Totong, maka itu menyalahi aturan. Apalagi siswa diwajibkan harus membeli buku dengan jumlah yang banyak.

“Untuk apa ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) 20 persen alokasi untuk buku paket, kan begitu jelasnya,” tegas Kadisdik.

Totong menjelaskan, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 tentang komite sekolah yang di dalamnya membahas tentang pelarangan menjual buku kepada siswa.

BACA JUGA:  Camat Kabat Dapuk Minakjinggo, Kades Dadapan Naik Kereta Kencana Saat Katnaval Umum di Kabat

Namun bagi orangtua siswa yang ingin anaknya menambah wawasan dipersilahkan untuk membeli buku tanpa ada paksaan dari pihak sekolah, terutama guru,” ungkap Kadis menjelaskan.

“Kalau saja ada orangtua yang mau anaknya menambah wawasan dan ingin membawa pulang bukunya dipersilakan membeli buku ke penerbit,” lanjutnya.

Adanya keluhan orangtua itu, kata Totong, menjadi perhatian Disdik Garut untuk segera menindaklanjutinya berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah Pendidikan di kecamatan.

BACA JUGA:  Pertama Masuk Kerja, Sekda Kampar Gelar Open House

Totong menyatakan, akan segera memanggil pihak terkait untuk menjelaskan alasan siswa harus memiliki banyak buku pelajaran, karena kemampuan ekonomi orangtua siswa tidak dapat disamakan.

“Kami akan cek sekolah mana saja itu, masalah ini harus diperhatikan, karena kemampuan orangtua siswa itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan. Sekolah harus menghargai bahwa mereka juga ada biaya sehari-hari lainnya yang menjadi kebutuhan pokok,” tutup Kadis. (Alam)

Komentar