oleh

Mengenang 100 tahun pahlawan perfilman Indoneaia

Kabartoday, Jakarta, – Industri perfilman di tanah air selama beberapa dekade mengalami pasang surut,sampai saat ini film Indonesia memasuki penanjakan produksi dan bioskop di tanah air dipenuhi oleh film Indonesia yang cukup banyak penggemarnya saat ini.

Film dari berbagai genre bahkan film lawas yang kemudian direborn kembali dengan artis-artis masa kini, memiliki arti bahwa dunia perfilman Indonesia tidak lekang oleh waktu.

Tentunya sebuah film tidak lepas dari peran penting untuk terciptanya karya yang terbaik, yaitu seorang sutradara. Banyak sutradara- sutradara handal yang menciptakan suatu karya film terkemuka, dari era pertama kali film 1900 hingga sekarang memasuki tahun 2021, dari era film bisu hingga film dengan effect animasi dan screenshot yang sudah mendunia dengan film-film dinegara-negara main. Sebut saja nama-nama seperti Arifin C Noer, Garin Nugroho, Eros Jarot, Slamet Raharjo, Mira Lesmana dan masih banyak lagi lainnya yang sudah membawa nama harum bagi industri perfilman tanah air.

Salah satu nama yang dikenang di tanah air, seorang sastrawan dan sutradara film di era 1950an sampai dengan 1970an adalag Usmar Ismail. Banyak film hasil karya dari sutradara yang satu ini, sebut saja film Darah dan Noda (1950), Enam Djam di Djogja (1951), Perawan disarang Penjamun (1962) dan masih banyak lagi film-film hasil karya dari alm. Usmar Ismail. Sutradara kelahiran Bukittinggi, 20 Market 1921 ini dikenang sebagai sastrawan, pejuang dan juga tokoh penting dari dunia perfilman Indonesia.

Tepatnya 100 tahun sejak kelahirannya, dunia perfilman Indonesia mengenang akan sosok yang menjadi pendobrak dan kreator film-film Indonesia. Walaupun tahun 2021 ini dunia perfilman didunia dan khususnya di Indonesia harus tetap berjuang ditengah pandemi, tentunya tidak melupakan jasa dari seorang Usmar Ismail.

Sebagai bentuk penghargaan tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memperingati hari Film Nasional 2021, ditengah pandemi yang masih melanda juga harus tetap menjaga protokol kesehatan, maka diadakan Webinar Sinergi Memperingati Hari Film Nasional tahun 2021 dengan mengambil tema “Songsong 100 tahun Alm. Usmar Ismail”. Acara Webinar diselenggarakan hari Rabu (17/03/2021), pukul 13.00 – 15.00 WIB. Hadir sebagai narasumber antara lain Direktur Perfilman, Musik Dan Media Baru Yusmawati, beberapa artis senior Indonesia seperti Lenny Marlina, Widyawati, Niniek L Karim, Alice Iskak dan Pengamat Perfilman dan Jurnalis Senior Yan Wijaya. Acara dipandu oleh host Arul Mucshen. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Dalam pembukaannya, Yusmawati mewakili direktorat PMBB membuka kata sambutan. Mengenang 100 tahun Alm Usmar Ismail. Tanggal 30 Maret 1950 merupakan tanggal pertama pengambilan gambar film dari Usmar Ismail “Darah dan Doa”. Tanggal tersebut menjadi Tanggal hari Film Nasional. Melihat masa pandemi yang membuat industrial perfilman harus dibatasi oleh protokol kesehatan. Dalam perkembangan industri film Indonesia, performa film Indonesia tidak lepas dari tokoh-tokoh artis wanita. seiring perkembangan zaman, wanita tidak hanya berperan sebagai artis saja, tapi menjadi produser, sutradara dan masih banyak lagi. “Harapan kami, semoga para artis senior bisa menjadi contoh memotivasi generasi muda saat ini,” ujarnya.

Alice Iskak mengemukakan bahwa kenangan manis menjadi artis wanita dalam film Usmar Ismail. Ia menceritakan tentang perannya di film “The Big Village”. ” Saya mempunyai kenangan dengan beliau, sebagai sutradara yang santai dan simple,” kenangnya. Dengan tertawa Alice Iskak menceritakan ketika proses shooting dibawah pimpinan sutradara Usmar Ismail. Menurutnya tokoh Usmar Ismail sangat humoris, berkesan dan bersahabat. “Saya melihat kemajuan film Indonesia ” Tiga Dara” karya Usmar Ismail yang direstorasi, menjadikan film yang banyak ditonton.

Cerita Film dahulu mempunyai kualitas yang sama dengan film barat dimasa lalu dan juga saat ini saat beberapa film direstorasi kembali,” ungkap Alice.

Hal serupa dikemukakan oleh Widyawati sebagai artis senior. Ia menceritakan kenangan bersama sutradara Usmar Ismail dalam filmnya. Widyawati merasa beruntung bisa berkenalan melalui ibunya dan bisa bermain film arahan sutradara Usmar Ismail.”Saya termasuk orang yang moody dalam memlih film dan peran, tapi saya merasa senang ketika di direct langsung oleh pak Usmar bermain di filmnya. Beberapa film akhirnya saya bisa terlibat,”kenangnya sebagai artis film dari Usmar Ismail. Menurut Widyawati memang pantas Usmar Ismail dijadikan bapak perfilman Indonesia.

Artis Senior Lenny Marlina mengenang sutradara Usmar Ismail sebagai sutradara yang bisa mendirect orang secara santai.”Pak Usmar Ismail memberikan kesempatan saya casting. Bahkan saya disuruh stop lagi casting, langsung disuruh pak Usmar bermain peran bersama Alm Rahmat Hidayat. Memang peran dalam film tersebut agak susah, akan tetapi hasilnya bagus. Hasilnya adalah saya mendapat penghargaan sebagai artis pembantu terbaik dalam festival film Asia,” kenangnya. Lenny mengatakan berkat Usmar Ismail lah yang merubah hidupnya sebagai artis. “Memang pantas pak Usmar Ismail menjadi tokoh Film Nasional bahkan pahlawan Nasional dibidang perfilman,”ujarnya.

Niniek L Karim menceritakan bagaimana dirinya selain artis theater, ia pada akhirnya terjun dalam film.”Saya melihat film-film Usmar Ismail memiliki visi dan misi yang mulia,” paparnya. Niniek menceritakan bahwa film-film Usmar Ismail bisa mengemas filmnya mempunyai makna. Menurut dirinya, Usmar Ismail adalah cerminan juga dari Teguh Karya.” Ada keterkaitan dalam film-film dari mereka berdua,” ujarnya.

Menurut pengamat Perfilman, Yan Widjaya menyampaikan kekaguman tokoh-tokoh artis wanita senior yang berkarya dalam perfilman Indonesia. Menurutnya banyak Film yang di bawakan oleh artis senior wanita ini menjadi film terkenal.”Pendapat saya, film Indonesia karya Usmar Ismail sepanjang masa mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam perjuangan. Ciri khas Indonesia adalah karya Usmar Ismail “Perawan Disarang Penjamun”. Film ini menjadi salah satu karakter bagi perfilman Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, banyak sineas luar negeri yang juga melirik untuk merestorasi lagi film-film Indonesia.

Wina Armada sebagai tokoh film mengatakan memang pantas Usmar Ismail menjadi tokoh pahlawan Nasional dibidang perfilman. Hal tersebut menurutnya didasari dari tokoh Usmar Ismail pernah sebagai tokoh tentara dimasa pejuang Indonesia, wartawan dan tokoh yang mendirikan dan memajukan film.

BACA JUGA:  FWJ Korwil Jaksel Gandeng GP Ansor Gelar Baksos

Komentar