oleh

Mental Husnudhon

KH. Thaha Muntaha, pengasuh Ponpes Minhajut Thulab, Krikilan Glenmore Banyuwangi

Tiba tiba dunia berubah gegara wabah corona yang semula bersatu kita teguh bercerai kita runtuh berubah menjadi sebaliknya, dengan hiasan bahasa physical distancing.

Dunia usaha berhenti berdenyut karena negara dalam keadaan darurat nasional hingga muncul lockdown atau PSBB dan bangunan tempat ibadah laksana aquarium yang tampak indah tapi tak bisa dipakai untuk ibadah.

Hotel restoran moda transportasi publik jungkir balik untuk bisa bernafas dan banyak kemudian di antaranya menyerah dan merumahkan pegawainya.

Spekulasi wabah datang secara alamiah atau bidisain pakar ilmiah yang serakah tentu bukan domain untuk diperdebatkan, namun pemikiran tentang “what next” harus mulai dikerjakan.

Mengeluh itu wajar, meratap juga benar karena sifat manusia itu “sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir.
Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan saat mendapat kan kebaikan ia menjadi kikir” QS Al ma arij 19-21.

BACA JUGA:  Tuntut Diskualifikasi Jokowi, Ribuan Massa Kepung Bawaslu

Bahkan suatu ketika pergelangan tangan seseorang berubah merah sesaat di suruh memindahkan gelang yang di pakainya ketika ia mengeluh karena saking seringnya.

Tetap yakin matahari masih tetap terbit dari timur dan langit pun masih berselimut awan maka dibalik “kesulitan selalu ada kemudahan” menjadi dorongan untuk memupuk mental husnudhon kepada takdir.

Bagaimana caranya..?

Memantaskan diri menjadi waliyullah (kekasih Allah)
“Ingatlah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” QS Yunus 62.

BACA JUGA:  Ketum KWRI Sikapi UKW Dewan Pers, Bukanlah Produk UU Pers

Bagaimana cara menjadi waliyullah..?

Menguatkan iman dan menajamkan amal sholeh seperti yang di amanahkan oleh QS Al ‘Ashr.

Sepahit apapun dampak wabah corona harus ditelan oleh seluruh penduduk bumi, menyikapinya harus ada ikhtiar untuk berubah dari yang semula bergaya hidup gelap menjadi terang bercahaya.

Selama ini penduduk bumi diperbudak oleh negara negara industri untuk menjadi masyarakat yang doyan konsumerisme.

Saatnya kita jaga dan hargai alam dengan segala dinamikanya dan mulai bergaya hidup sehat, hemat dan fokus pengeluaran pada kebutuhan fungsional bukan keinginan yang cenderung gengsional.

Cerdas menggunakan teknologi IT untuk berbagai keperluan hajat hidup hingga didapat hasil maksimal dengan modal minimal.

BACA JUGA:  KAI Menunggu Lahirnya Presiden Baru

The miracle of Mental husnudhon pernah ditampilkan dalam segmen kisah Musa AS yang dikejar kejar Fir’aun hingga sampai di laut merah.

Maju kena karena di telan laut dan mundur kena ditangkap Firaun.

Demikianlah keadaan Musa AS yang kemudian beliau mengeluarkan jurus husnudhon pada takdir dengan berdoa “allahumma lakalhamdu wa ilaikal musytaka wa antal musta an walahaula wala quwwata Illa billahil aliyyik Adhim”

Tanpa jeda Allah membayar kontan doa Musa dengan membelah laut hingga bisa digunakan oleh Musa AS lepas dari kejaran Fir’aun.

Berikutnya Justru Fir’aun yang karena bernafsu mengejar Musa AS terjebak dan tertelan oleh laut.

Dengan izin Allah Ramadlan datang Corona hilang.

Selamat pagi Indonesia…!

 

Komentar

News Feed