oleh

Mental Intelijen

Thaha Muntaha pengasuh Ponpes Minhajut Thulab Krikilan Glenmore Banyuwangi

Mengintai, mengawasi gerak-gerik, membuat isu dan kontra isu sampai dengan menciptakan musuh buatan adalah bagian kecil dari beberapa ilmu yang harus dikuasai oleh pemerhati inteljen

Merangkum rangkaian aktifitas di atas Philip hj Davies dan Kristian gustafson menyimpulkan bahwa kegiatan inteljen meliputi penghimpunan jejaring secara rahasia, analisis, kontra intelijen dan operasi senyap

Prinsip “curigation” atau perasaan ingin selalu mencurigai atau kepo terhadap pihak lain yang di aanggap membahayakan adalah perasaan utama pribadi bermental inteljen

Dalam QS Al hujurat 12 isttilah inteljen disebut sebagai perbuatan tajassus yang dalam tata pergaulan umum sangat dilarang “…. Dan janganlah kamu mengintip mencari cari kesalahan orang lain ”

Konteks tajassus dikaitkan dengan pertahanan suatu negara atau penyebaran suatu ideologi yang beresiko tinggi bisa jadi bagian dari perintah

Ijtihad yang demikian berasal dari perintah “membaca” dalam QS Al alaq Nabi Saw memilih Sistem Klandestin atau bergerak secara senyap dengan mempengaruhi orang orang terdekat nya mulai dari sang istri Khadijah Ra disusul kemudian Ali bin Abi Thalib dan kelompok assabiqunal awwalun

BACA JUGA:  Tonin Sebut Pemberian Maaf Wiranto ke Kivlan Zen Hanya Sebatas Dagelan

Telaah perkembangan ilmu intelijen nampaknya tak lepas dari fenomena perang siber dan perkembangan teknologi informasi 4.0 yang hari ini seluruh negara industri menyadari horor perang nuklir yang bisa merusak manusia sekaligus infrastruktur nya di geser ke arena perang asimetris dan pemusnah biologi

Asumsi yang demikian bisa dilacak dari pernyataan komandan korps pengawal revolusi Islam Iran Husein salami bahwa

“Hari ini negara ini terlibat dalam pertempuran biologis, kami akan menang dalam perang melawan virus ini yang mungkin merupakan produk dari serangan biologi Amerika yang pertama menyebar ke China dan kemudian ke seluruh dunia”

Mental intelijen tidak terkejut dengan aroma teori konspirasi dalam pernyataan petinggi militer Iran karena menteri pertahanan China Wei fenghe mengeluarkan pernyataan keras saat menghadiri forum dialog keamanan internasional yang dikenal dengan nama Shangrila dialogue

“Untuk perang dagang yang diciptakan AS jika mereka menginginkan berunding kami akan membuka pintu. Namun jika mereka ingin berkelahi kami siap”

Bak gayung bersambut, teori konspirasi menemukan bentuknya dalam narasi Donald Trump yang kewalahan mengatasi wabah corona

“Bila ada sebuah kesalahan ya tetap itu adalah kelalaian. Namun bila mereka diketahui bertanggung jawab ya maka akan ada konsekuensi”

BACA JUGA:  Tak Diizinkan Jenguk Eggi dan Lieus Prabowo Titip Surat Khusus dan Nasi Padang

Sejenak kita bisa melihat kaca spion untuk mengingat kembali apa yang di tulis oleh ibu Siti Fadilah Supari mantan Menkes yang berani mendobrak hegemoni WHO yang dinilainya sebagai kepanjangan tangan Neo kolonialisme saat terjadi wabah flu burung

” …. Namun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara negara industri negara maju negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu di jual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita. Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus yaitu saudara kita yang ada di Vietnam”

“Mengapa begini ?
Jiwa kedaulatan saya terusik
Seolah saya melihat ke belakang ada bayang bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning Karena kita hanya bisa menunbuk padi menggunakan lesung sedangkan sang penjajah punya mesin selep padi yang modern

Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di tanah air kita seenaknya
Karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolah nya

BACA JUGA:  Kapolres Garut: "Demi Allah, Saya Sumpah Tidak bisa Berdiri Bila Katakan itu

Inikah yang disebut Neo kolonialisme yang diramal oleh bung Karno 50 tahun yang lalu

Ketidak berdaya an suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain

Demikian jugalah pengiriman virus influenza di WHO yang sudah berlangsung selama 50 tahun dengan dalih oleh karena adanya’ GISN ( Global influenza survellance network )

Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan GISN yang sangat berkuasa tersebut sehingga negara negara penderita flu burung tampak tidak berdaya menjalani ketentuan yang digariskan WHO melalui GISN dan harus patuh meskipun ada ketidak Adilan ?

Wajar sekali jika mengatasi wabah corona presiden Jokowi saat ini melibatkan komponen BIN seperti yang dilakukan Israel yang melibatkan Mosad dan menunjuk petinggi militer menjadi penanggung jawab penanganan covid 19

“Dalam dua hari saya sudah mendapatkan 80 nama yang berada di klaster ini. Dalam dua hari dari tim reaksi cepat dari Kemenkes dibantu dari intelijen BIN dan polri” demikian kata Jokowi

Walhasil, mental intelijen memberi ruang imajinasi liar bahwa fenomena Corona adalah Medan pertempuran baru antara negara adikuasa untuk memperebutkan pengaruh di negara negara berkembang

Selamat pagi Indonesia….!

Komentar

News Feed