oleh

Merasa Dirugikan, Pembeli Tanah Ini Akan Tempuh Jalur Hukum

Kabartoday, Jakarta – Arvan Halim Pembeli Tanah di Ciseeng meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bogor untuk membatalkan surat permohonan atas nama Nani yang Akte Jual Belinya ditanda tangani Kepala Desa Kuripan Ciseeng Bogor dan diketahui pihak pengurus RT dan RW. Rabu,(3/4/2019).

Pasalnya, setelah terjadi jual beli antara Arvan Halim selaku pembeli dan Nani (penjual) dengan perantara Agung yang menyepakati pembeli melakukan pembayaran DP sebesar Rp. 25 juta untuk pembayaran tanah seluas 432 meter milik Nani, dan Rp. 18 juta untuk tanah milik H. Samsudin seluas 72 Meter.

Kesepakatan muncul antara kedua belah pihak dan disaksikan perantara Agung bahwa semua akan dilunasi apabila surat-surat legalitas sudah jadi.

Munculnya ada ketidakjelasan ketika sertifikat atas tanah itu dimasukan kedalam proses pendaftaran tanah untuk pertama kali, yang dilakukan secara serentak dan meliputi semua obyek dalam suatu wilayah desa atau kelurahan setingkat PTSL (program tanah sistimatis lengkap).

BACA JUGA:  Wagub Jawa Timur Emil : Jatim Specta Night Carnival Mempersatukan Budaya

Menurut Arvan, tanah nya nyambung antara milik Nani dan milik H.Samsudin, jadi dilakukan transaksi pembelian bersamaan olehnya.

“Semua pihak (penjual, pembeli dan perantara) saat itu setuju maka bu nani melakukan tanda tangan dalam surat legalitas segel tanpa paksaan, bahkan sebelum saksi RW dan Kepala Desa tanda tangan, sebelumnya pihak penjual (Nani) sudah menandatangani surat kesepakatan jual belinya. “ucap Arvan.

Kata Arvan, pada tgl 3 februari 2017, lengkap semua tanda tangan legalitas segel, dan ia melakukan pelunasan total seharga dua tanah yang telah di sepakati sebelumnya yaitu dengan nilai sebesar Rp. 73 juta yang diserahkan ke Agung sebagai perantara atau wakil penjual.

Kemudian pada akhir tahun 2017, ada informasi program prona pemerintah sertifikat gratis, melalui kang Asep (yang mewakili Arvan mengurus surat-surat untuk mendaftarkan sertifikat).

“Kang Asep saat itu menginformasikan bahwa surat harus minimal Akte Jual Beli (AJB) dan perlu dana Rp. 4 juta untuk memenuhi syarat tersebut, lalu saya bayar Rp. 4 juta tersebut sesuai permintaannya. “Ucap Arvan.

BACA JUGA:  Warga Desa Lumahpelu Siap Demo Desak Bupati SBB Copot Penjabat Kades

Namun, diakhir 2018, Arvan malah mendapat kabar bahwa Nani si penjual itu ikut mengajukan sertifikat menggunakan AJB yang seharusnya sudah tidak berlaku, karena tanah miliknya yang dibeli Arvan juga berlegal AJB.

“Padahal saya memiliki Akte Jual Beli (AJB) dan PBB atas nama saya pribadi dari kedua tanah tersebut yang di klaim Nani dengan mengajukan AJB miliknya dengan tanah yang sama milik saya, “Ungkap Arvan.

Lebih lanjut dibeberkan Arvan bahwa Surat Segel penjualan dari Nani ke dirinya yang sudah di tanda tangani kepala desa, pejabat RT dan RW setempat di sertai surat tidak sengketa dari kepala desa dan pejabat RT/RW adalah mutlak dan SAH di mata hukum.

“Entah kenapa surat pengajuan sertifikat saya itu di pending, dan sampai sekarang masih tertahan di Badan Pertanahan Nasional, saya sudah berusaha meminta melalui kang Asep,  tetapi tetap belum bisa di keluarkan sertifikatnya, “ujar Arvan.

BACA JUGA:  Balai Wartawan Mendapat Kunjungan Kasatlantas Kab. Sidoarjo

Tanah seluas 72 m yang di beli dari H. Samsudin, kata Arvan ikut di daftarkan bersamaan dengan tanah yang dibelinya dari Nani, bahkan sampai sekarang belum terlihat titik terang sertifikat dan tidak jelas alasannya, “imbuhnya.

Perlu di katahui juga bahwa data penjualan dari Nani ke Arvan seluas 432 meter, dan tanah dari H. Samsudin ke dirinya seluas 72 meter bukan hanya sampai pada tingkat kepala desa, akan tapi sudah di naikan ke tingkat kecamatan dengan dasar legalitas segel tersebut.

Arvan juga akan melakukan upaya hukum untuk menarik semua pihak yang terlibat dalam jual beli tanah tersebut.

“Upaya hukum akan saya tempuh nanti. karena sebwlumnya sudah melakukan balik nama di BPN, dan saya sudah membayar pajak tanah seluas 432 m dan 72 m atas nama Arvan Halim.(Iqb/Op)

Komentar