oleh

Mr Kan: Sudah Era Globalisasi, Kapan Anggaran Negara Surplus?

Kabartoday, Jakarta – Begini surat yang ditulis seorang pengamat hukum dan politik, Mr. Kan. Ia menyoroti Neraca perdagangan Indonesia yang kian tak menentu arahnya.

Yang terhormat (yth):
Presiden Joko Widodo
Kementerian Keuangan Republik Indonesia

ZAMAN OLD (tahun 1980 an) orang hanya dapat membuat foto dengan camera khusus berfoto (hanya orang tertentu yang memiliki alat camera tersebut dan harus mencetak foto-fotonya ke tempat percetakan dan membingkai foto-foto yang ingin di panjang serta dibuat gantungan di dinding).

Foto-foto di zaman old hanya dipajang di dinding rumah atau dinding kantor sehingga yang dapat melihat foto-foto yang dipajang hanya orang-orang yang datang ke rumah atau ke kantor.

ZAMAN OLD rekaman video harus direkam menggunakan alat khusus dan alat rekaman tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja (sangat jarang orang yang memilikinya atau khusus yang punya kemampuan dan keinginan serta perusahaan atau profesi tertentu untuk dapat memiliki alat rekaman video).

BACA JUGA:  Stella Nita Production Dukung KKBMM Gelar Konser Amal Perduli Ambon

Di zaman old hasil rekaman video hanya berbentuk kaset yang agak besar bentuknya hampir sebesar kotak bingkisan kue martabak dan kaset video tersebut hanya dapat diputar dengan mesin elektronik khusus.

ZAMAN NOW (Era globalisasi) foto-foto dan rekaman video dapat pajang di sosial media (SOSMED), seperti pajang di FACEBOOK, INSTAGRAM, YouTube, PHOTO PROFILE WhatsApp (khusus pajang foto) dan sebagainya.

Foto-foto dan rekaman video dapat dibuat setiap saat dan dapat dipajang setiap saat serta dapat dilihat atau diakses oleh orang-orang diseluruh dunia yang punya akses sosmed yang sama dan punya jaringan internet (alatnya cukup memiliki handphone ‘HP’ android, hampir rata-rata orang di dunia memiliki alat tersebut).

BACA JUGA:  Petisi FPI Kembali Hidupkan Kebangsaan Yang Berakhlaq

Masih sangat-sangat banyak perbedaan objek kehidupan di zaman sekarang dan zaman dulu.

Jadi zaman sekarang kemajuan teknologi di dunia ini sudah berbeda sangat jauh dibandingkan zaman dulu, jika kita masih menggunakan cara-cara yang lama, maka kita akan ketinggalan. Teknologi canggih bergerak maju yang sangat cepat dan bergerak dasyat seperti dampak Tsunami atau suatu badai.

HP merek Nokia berganti secara drastis atau berganti secara signifikan dalam seketika menjadi HP Blackberry dan kemudian berganti lagi secara drastis menjadi HP Android. Apakah sudah ada yang dapat memprediksi kedepannya akan berubah menjadi seperti apa lagi?

Apa pun perubahannya, negara kita “Indonesia” masih selalu menjadi distributor dan konsumen. So, kapan negara Indonesia menjadi pesaing bagi mereka negara maju? Bagaimana caranya? Apa yang harus kita lakukan?

Uang bukan segala-galanya, namun segalanya membutuhkan uang (Pakar marketing dan motivator Tung Desem Waringin SH). Berarti kalau mau negara kita maju, maka keuangan negara kita harus banyak dan kuat.

BACA JUGA:  Sikap Kemenlu RI Atas Aksi Penembakan Teroris di Masjid Al Noor Selandia Baru

Di mana saat ini perekonomian atau keuangan negara kita termasuk sangat miskin karena Negara terbesar keempat sejagat hanya memiliki cadangan devisa negara (CADEV) senilai Rp 1.699 triliun rupiah atau 120,3 miliar dollar AS.

Total utang negara Indonesia sudah mencapai sekitar Rp 10.000 triliun (utang pemerintah pusat ditambah utang BUMN), sedangkan seluruh asset BUMN tahun 2018 hanya senilai Rp 8.092 triliun.

Setiap bulan catatan anggaran negara mengalami defisit puluhan triliun rupiah dan setiap tahun mengalami defisit ratusan triliun rupiah. Hal ini defisit terjadi secara terus menerus. Kapan Neraca Perdangan Indonesia bisa Surplus lebih banyak? Kapan anggaran tidak defisit?.(Editor.Op)

Catatan: judul sebelumnya ada perubahan untuk menyeimbangkan isi konten

Komentar