oleh

Muslim Arbi Pertanyakan Eggie Sudjana di tetapkan Tersangka, Apa iya?

Kabartoday, Mojokerto – Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan (GarpU) kembali mengkritisi keputusan penyidik Polda Metro Jaya. Ia menganggap penetapan status tersangka untuk Eggi Sudjana hanya sebuah lelucon.

“Saya pikir polisi bercanda tetapkan Saudara ku Dr Eggie Sudjana sebagai tersangka Makar karena berorasi soal People Power. “Kata Arbi di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Arbi berharap Polisi tidak serius. Karena jika hal itu terjadi, Maka Polisi telah melanggar UU dan langgar HAM atas si Raja Demo itu.

Menurutnya penetapan tersangka atas Eggi Sudjana terkesan di paksakan dan di order, hal itu akan menjadi kontra hukum dan tentunya merusak hukum di era demokrasi dewasa saat ini.

“Saya kira Polisi perlu tinjau ulang status tersangka Pendiri PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia) dan Pencetus HMI MPO itu. “Pinta Arbi.

Arbi memandang dengan penetapan tersangka terhadap Saudara Eggie Sujana dan pemeriksaan terlapor atas sejumlah tokoh dan Ulama yang mengkritisi pemerintah belakangan ini bukan penjahat Negara, karena hal itu di lindungi UUD’45.

BACA JUGA:  Divonis Bersalah Cemarkan Nama Baik Ketua DPRD Gunungsitoli, Lo,ozaro Zebua Banding

“Jangan jadikan negara ini sebagai Police State. Negara yang di mata-matai oleh Polisi. Padahal Kepolisian Republik Indonesia bukan sebagai pengawas dan sosok menakutkan di mata rakyat, akan tetapi ssbagai pengayom dan pelindung masyarakat. “ulasnya.

Kata Arbi, perbedaan pendapat dan penyampaian di muka umum adalah hal wajar dan lumrah di setiap negara demokrasi. Penyampain pendapat itu di jamin UU, dan itu harus di hormati sebagai Hak Azasi setiap individu. Pasal 22E UUD 1945 (amandemen) dan UU no 9 tahun 1998 sudah menjamin hal itu.

“Jadi jika Polisi paksakan penetapan tersangka atas Saudara Eggie Sudjana apalagi sampai di tahan. Maka ini adalah lonceng kematian demokrasi dan HAK Azasi Manusia di negeri ini. Dan penyebab nya adalah Polisi. “Beber Arbi.

BACA JUGA:  Bau Kandang Bebek Dikeluhkan Warga Desa Kampung Sawah

Tuduhan makar yang di alamatkan kepada Eggie Sudjana, ulas Arbi, itu salah alamat karena hanya didasarkan atas orasi yang di rekam dalam video2 atau youtube. Di mana makar nya?

“Wong Eggie hanya kritisi soal pelanggaran dan kecurangan dan meminta Rakyat agar protes dan bersikap soal ketidakadilan dan kemungkaran Pilpres ko di tetapkan tersangka makar? “Ungkapnya.

Arbi mempertanyakan soal perbuatan makar nya di mana Pak Polisi? Tolong jawab ya.

Kalau di anggap makar karena bicara pergantian kekuasaan, maka Pilpres itu makar karena bicara tentang pergantian Presiden dan kekuasaan.

Pilpres itu jelas-jelas makar karena mau ganti presiden dengan biaya Rp 25 Triliun. Selain itu Presiden sebagai pelaksana dan penaggungjawab nya, “Kan jadi aneh kalau bicara ganti presiden itu makar. Apalagi di sampaikan dalam orasi sebuah pertemuan. Ganti Presiden atau kekuasaan adalah hak dan kedaulatan Rakyat. “Ucap Arbi.

BACA JUGA:  Sidang Perdana Mantan Kades Gondang Gelapkan Rp 518.621.835

Jadi Arbi meminta pemahaman keliru soal makar dengan hanya sebatas orasi tentang People Power itu perlu di luruskan.

Orasi People Power itu belakangan ini semakin meluas dan mewabah di masyarakat karena soal keadilan Pemilu dan Kecurangan yang sangat terasa di publik.

“Kalau Masyarakat bicara People Power di anggap makar seperti Eggie Sudjana, maka saya tidak bayangkan akan ada ratusan juta jadi tersangka. Bah ngerii kali. Repot Pak Polisi urusan ratusan juta tersangka makar. Polisi jumlah hanya sedikit. Di banding dengan ratusan juga yang teriak People Power di berbagai daerah. Dan kata-kata PEOPLE POWER SEOLAH sedang mewabah dan jadi wacana Rakyat setiap hari. “Beber Arbi.(Op/red)

Komentar