oleh

Oknum Kodim 1504 Ambon Akui Pemilik Borgol Yang Digunakan Anaknya Saat Pengeroyokan

-Daerah-74 views

Kabartoday, AMBON – Oknum anggota Kodim 1504/Ambon Sertu John Deeng mengaku sebagai pemilik borgol yang digunakan anaknya Aldrian Deeng dan Glen Deeng saat melakukan tindakan kekerasan kepada Bendrico Tuanakotta, warga Air Putri, RT 002/RW 004, Kecamatan Nusaniwe, Ambon. Peristiwa penganiayaan itu terjadi Jumat (3/4/2020) malam dengan TKP di Warnet Lord Cyber, Jalan AM Sangadji Kelurahan Honipopu, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Sertu John Deeng yang bertugas sebagai salah satu Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Koramil 1504-06/Nusaniwe ini katakan borgol tersebut ia simpan di rumahnya. Namun ia tak menyangka salah satu anaknya mengambil borgol tersebut dan kemudian dipakai saat melakukan penganiayaan kepada korban Bendrico Tuanakota.

“Memang saya akui borgol itu milik saya. Borgol itu saya simpan di rumah. Saya kaget ketika terjadi peristiwa (penganiayaan) itu melihat borgol itu ada. Kemungkinan diambil salah satu anak saya tanpa saya tahu,” ujar John Deeng kepada awak media di Kantor Koramil 1504-06/Nusaniwe Senin (6/4/2020).

BACA JUGA:  Humas PDAM TKR Kab Tangerang Akui Buta Soal Perda

Deeng yang saat itu didampingi Danramil 1504-06/Nusaniwe Kapten (Inf) Dede Ruhiyat katakan dalam peristiwa ini ia menyerahkan sepenuhnya kedua anaknya kepada proses hukum yang berlaku.

“Jika memang anak saya terbukti memukul, ya saya serahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Walau pun yang harus diketahui juga penyebab anak saya melakukan tindakan itu karena marah dan emosi kepada saudara Bendrico yang sudah hampir satu minggu tidak mengembalikan motor miliknya yang dipakai untuk mengojek,” jelas Deeng.

Walau saat kejadian ia bersama istrinya juga berada di lokasi, namun ia tegaskan tidak ikut melakukan kekerasan. Justru ia langsung melerai kedua anaknya agar tidak melakukan kekerasan dan mengarahkan agar korban dibawa ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang diduga menggelapkan sepeda motornya.

“Saya sama sekali tidak sekali pun melakukan pemukulan. Semua orang yang ada di lokasi pasti melihat dan bisa bersaksi kalau saya tidak memukul. Justru saya yang melerai anak-anak saya agar tidak melakukan pemukulan dan kemudian membawa Benrico ke Polres. Jadi kalau ada yang mengatakan saya ikut memukul, itu bohong. Tidak benar,” tegas Deeng dihadapan atasannya.

BACA JUGA:  Pemkot Bekasi Pecat 13 PNS Tersandung Korupsi

Terkait peristiwa ini, Danramil 1504-06/Nusaniwe Kapten (Inf) Dede Ruhiyat tegaskan jika memang anak buahnya bersalah, selalu pimpinan tidak akan membela. Malah akan menyerahkan anak buahnya ke Polisi Militer (POM) untuk menghadapi proses hukum agar kasusnya menjadi terang.

“Saya sudah katakan kepada anggota saya, jika memang kamu ikut melakukan pemukulan, saya tidak akan membela kamu sedikit pun dalam proses hukum. Bahkan saya akan dorong agar anggota saya itu diproses oleh POM biar tahu sejauh mana keterlibatan anggota saya itu,” tegas Ruhiyat.

Sebaliknya, ia katakan jika memang anggotanya tidak melakukan pemukulan tetapi difitnah melakukan pemukulan, maka ia akan membela anak buah ya itu. Karena dalam kasus ini, nama institusi TNI-AD jadi terbawa-bawa.

BACA JUGA:  Tenggelam di Laut, Nelayan Ikan Asal Panarukan Dalam Pencarian Tim Gabungan¬†

Sementara itu Kanitreskrim Polsek Sirimau Ipda Herman Mashudin tegaskan pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan terhadap keberadaan borgol tersebut.

“Kita masih melakukan penyelidikan akan keberadaan borgol tersebut. Siapa pemiliknya dan di dapat dari mana. Apalagi jika borgol tersebut merupakan standar organik Polri maupun TNI maka harus dicari tahu. Karena borgol tersebut tidak boleh berada di tangan warga sipil apalagi jika digunakan dalam melakukan sebuah tindak pidana,” jelas Herman.

Dalam kasus kekerasan bersama ini, kedua anak dari Sertu John Deeng masing-masing Adrian Deeng dan Glen Deeng telah ditetapkan sebagai tersangka pelaku kekerasan bersama. Mereka berdua juga telah ditahan di Mapolsek Sirimau. Keduanya dijerat dengan pasal 170 ayat (1) junto pasal 351 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun enam bulan. (Imanuel)

Komentar