oleh

OTT KPK, Rommy dan Rontoknya Elektabilitas Sang Petahana

Kembali, dunia politik tanah air dibuat gempar. Tersiar kabar, KPK menangkap Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy. Rommy masih berada di Mapolda Jawa Timur untuk menjalani pemeriksaan awal.

Oleh: Nasrudin Joha

 

Kabartoday, Jakarta – Rommy ditangkap pada pukul 09.00 WIB hari ini. Rommy ditangkap di Surabaya, Jawa Timur. Lokasi penangkapan disebut berada di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Surabaya.

Secara hukum, status Rommy masih Terperiksa. Dalam sebuah OTT, KPK memiliki waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status hukum pihak-pihak yang ditangkap. Namun berdasarkan pengalaman, sulit untuk membuat prediksi orang yang kena OTT KPK tidak berpredikat sebagai tersangka.

Secara politik ini merupakan petaka besar bagi kubu petahana. Rommy dengan partainya PPP, dianggap sebagai sayap politik petahana untuk mengeruk suara dari ceruk pemilih muslim. Rommy bersama Cak imin (PKB), digadang-gadang Jokowi menjadi garda terdepan partai untuk menjaring suara pemilih dari kalangan Islam.

BACA JUGA:  Petisi Tokoh Nasional Desak Diskualifikasi Jokowi-Ma'ruf Amin

Posisi ini kunci, setelah sebelumnya Jokowi terpaksa ‘mengkhianati’ Machfud MD saat mengambil Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Posisi partai Islam dalam lingkaran kubu Jokowi, sangat penting untuk mengkondisikan pemilih muslim yang diketahui oleh kubu manapun, sebagai suara kunci pemenangan Pilpres.

Kasus OTT KPK ini menjadi pukulan telak bagi kubu Jokowi disebabkan beberapa hal :

Pertama, tertangkapnya Rommy (meskipun masih berstatus Terperiksa) menggoyang petahana dan menjungkirbalikkan posisi dan komitmen politik dalam hal pemberantasan korupsi. Bisa saja, kubu Jokowi berdalih dengan menjual isu OTT Rommy ini sebagai bentuk komitmen Jokowi yg tidak pandang bulu dalam pemberantasan korupsi.

BACA JUGA:  Tragedi Alam Landa Samosir, Tanah Amblas 4 Meter Dan Retak - Retak, 2 Keluarga Khawatir Dan Mengungsi

Namun, publik juga paham kondisi ini justru mengkonfirmasi kubu Jokowi dikelilingi banyak orang yang bermasalah. Publik dapat membuat simpulan, segala rupa kerusakan Republik ini bersumber dari lingkaran kubu Jokowi.

Kedua, posisi ini tentu akan menguatkan keemohan basis pemilih Islam -yang sebelumya telah dikecewakan PPP pada kasus Pilkada DKI Jakarta yang mendukung Ahok sang penista agama, dengan kasus OTT Rommy. Umat Islam semakin kokoh, untuk menolak barisan partai penista agama meskipun ditopang oleh partai yang mengaku berafiliasi dengan Islam.

Ketiga, kasus OTT Rommy ini mengganggu konsolidasi TKN dalam menghadapi Pilpres, apalagi hari pemilihan sudah diujung mata. Beberapa konsolidasi yang membutuhkan otoritas, khususnya yang mewakili PPP sebagai partai mitra koalisi- akan menghambat agenda. Baik secara administrasi maupun substansi.

Keempat, tabiat kasus korupsi yang jamak dilakukan secara kolektif dan kolegial (maaf, saya menolak menggunakan istilah berjamaah), akan menjadikan ketegangan politik intra PPP juga intra Koalisi Jokowi. Posisi ini bisa digunakan untuk saling mengunci, atau mencari peluang mendapatkan kompensasi, atau paling tidak bisa mendapat mandat untuk tidak dijadikan pihak dalam proses hukum yang bergulir.

BACA JUGA:  Sorong Membludak... Eggi Sudjana Tampil Smart Bersama Sandiaga Uno

Keempat dinamika ini, tentunya akan memusingkan TKN Jokowi. Apalagi, jika netizen ikut urun menorehkan sayatan sayatan tajam, menabur garam dalam luka dan duka petahana, dan mengabarkannya ke seluruh umat. Untuk melihat, seberapa jauh daya rusak ‘Rommy’ bagi elektabilitas Jokowi, nampaknya publik hanya cukup menunggu waktu 1 x 24 jam hari ini segera berlalu. Semoga, Anda yang membaca tulisan ini termasuk orang yang ikut menunggu dan bersabar.(Op/red)

Komentar