oleh

Pendapat Ahli, Pecandu/Pengguna Narkotika Tidak Boleh di Penjara

Kabartoday, Bandar Lampung – Berdasarkan data dari delapan (8) perkara kasasi yang di konsepnya, bahwa telah dibuktikannya dengan hukuman berubah. Hal itu dilakukan oleh seorang dokter Ahli BNN, DR. Ilyas asal Cirebon Jawa Barat.

“Itu bukan berarti saya yang hebat, sekali lagi bukan, tetapi itu bukti adanya persoalan dalam penegakan hukum narkotika yang memang pecandu maupun pengguna Narkotika tidak boleh dipenjara. “Kata Ilyas melalui pesan singkatnya ke redaksi Kabartoday.co.id, Minggu (6/7/2019).

Sebagai Ahli Hukum Pidana Narkotika dan Penyuluh Narkotika di BNP cirebon ini mengkisahkan berbagai perkara yang ditanganinya, menurut Ia, kebanyakan terdakwa takut banding dan kasasi dengan alasan hukumannya naik.

“Saya ingin menjelaskan puluhan perkara banding yang saya buatkan memorinya, belum pernah ada naik hukumannya, malahan yang terjadi menguatkan putusan PN atau lebih rendah dari putusan hakim pengadilan. “jelasnya.

BACA JUGA:  Polres Kota Tanjungbalai Belum Proses Laporan Pratiwi

Ilyas menyebut hal itu berdasarkan teori dan fakta hukum.

“Saya ulangi ya, semua yang banding tidak ada yang naik hukumannya, bahkan tujuh kasasi perkara yang saya ajukan lebih rendah hukumannya. Semua itu karena teori dan fakta yang mendukung. “Ulas Ilyas.

Ilyas juga mengatakan teori Pecandu maupun Pengguna adalah sebagai korban (orang) sakit. Jika sakit, maka harus di obati atau rehabilitasi. Dengan fakta salah satunya barang bukti (BB) yang terungkap di persidangan dibawah ketentuan SEMA (Mahkamah Agung) No. 4 tahun 2010.

BACA JUGA:  Polisi Abaikan Penangguhan Kivlan Zen, Kuasa Hukum Surati DPR RI

“Penerapan hukum di Indonesia masih kurang pas, banyak yang diperkarakan dengan barang bukti sedikit, semisal nol koma sekian gram, namun polisi menetapkan kasus tersebut sebagai bandar atau pengedar, harusnya cukup dikenakan pasal pemakai atau pengguna untuk direhab, dan tidak perlu dihukum tahunan. “beber Ilyas.

Ilyas menyarankan, jangan takut untuk melawan putusan Hakim pengadilan dengan banding dan kasasi, terlebih lagi jika ada rekom TAT dari BNN.

“Saya bisa gambarkan 80 persen bahkan seratus persen perkara pecandu yang dilengkapi rekom TAT dengan mudah akan meringankan hukuman di PN, PT atau Mahkamah Agung. “ucap Ilyas.

Sebelumnya Ilyas sempat kecewa terkait ditolaknya 1 perkara Kasasi di Mahkamah Agung (MA). Ia juga menyebut konsep yang sama dengan Bukti materi yang sama pula, namun di tolak oleh Hakim Agung, sementara tujuh (7) lainnya Kabul atau Tolak Perbaikan.

BACA JUGA:  Aspeparindo presentasikan Manfaat Aplikasi e-parking Kepada Dishub DKI Jakarta

“Saya menyarankan untuk masyarakat yang selama ini dihantui dengan kata-kata banding dan kasasi, mulailah untuk beranikan diri menempuh Peninjauan Kembali (PK) demi mendapatkan keadilan. “ungkap Ilyas.

Ilyas menegaskan bahwa konsep pokok untuk pecandu maupun pengguna Narkotika dengan menjalankan Rehabilitasi, bukan dipenjarakan dan akhirnya sulit untuk sembuh.

“Pengguna dan pecandu Narkotika kan korban yang dalam kondisi pesakitan untuk mendapatkan pengobatan rehabilitasi, dan itu sebenarnya di jamin oleh Negara. “pungkasnya.(Yunizar/red)

Komentar