oleh

Pengacara: Iwan Bilang Tuduhan Polri Terhadap Kivlan Zen Berbalik Fakta

kabartoday, Jakarta – Saat ini, mantan Jenderal TNI AD yang telah tercatat dalam sejarah sukses melepaskan tawanan WNI di Filipina dan tersohor juga sebagai Pembela NKRI dalam menentang hidupnya PKI di Indonesia harus jalani penahanan dirinya di POM Guntur yang dimunculkan oleh sekelompok orang dengan memfitnah KIvlan Zen, dan dibentuk framing kebohongan publik (Hoax) untuk publik membencinya.

Hal itu dikatakan salah satu kuasa hukumnya, Tonin Tachta Singarimbun SH, Minggu (9/6/2019).

Diusianya yang ke 73 tahun, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen membeberkan kepada Pembela Hukum (TPH) Advokat Rakyat Semesta (ARS) alasan tak masuk akal dirinya dijadikan tersangka dan ditahan.

“Kami telah meneliti bagaimana pemberitaan demi pemberitaan di media mengenai pak Kivlan. Meski Kepala Polri telah merilis di hadapan Wiranto di kantor Menko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5/2019) lalu, bahwa ada 4 Jenderal target pembunuhan yang dikaitkan dengan pak Kivlan. “Urai Tonin.

Beredarnya informasi mengenai penerimaan uang sejumlah Rp.150 juta dari Kivlan Zen pada Oktober 2018 untuk pembiayaan rencana pembunuhan 4 Jenderal tersebut, dan dikaitkan dengan pembelian senjata api ilegal diutarakan Tonin adalah sebuah framing jahat dan hoax.

BACA JUGA:  Luka Sayatan Golok Nyawa Yanti Tak Tertolong, Ini Penjelasan Kabidhumas Polda Banten

Tonin juga membenarkan adanya upaya pembalikan fakta yang sebenarnya dari pernyataan yang dirilis Kepala Polisi Jenderal Tito Karnavian dihadapan Wiranto pada hari Selasa tanggal 28 Mei 2019, di kantor Menko Polhukam, Jakarta.

“Kalau soal kebenaran nantinya akan terungkap kok, kuncinya ada di HK alias Iwan yang kini ditahan di Polda Metro Jaya Sel Narkoba. “Tulis Tonin melalui pesan singkatnya ke redaksi Kabartoday.co.id, Rabu (12/6/2019) dini hari.

Tonin juga menyayangkan pihaknya tidak dapat menemui HK alias Iwan, dan terkesan di halang-halangi petugas saat berkunjung ke Sel tahanan dimana HK/Iwan ditahan.

Sementara salah satu pengacara Kivlan Zen, Muhammad Yuntri menyatakan cerita yang dirilis dan diramaikan media massa adalah berbanding terbalik soal pembunuhan empat pejabat negara yang dituduhkan didalangi oleh Kivlan.

BACA JUGA:  Caleg DPRD Ini Otak Pencurian Ban Gembos Diringkus Satreskrim Polres Bogor

Menurutnya, justru Kivlan Zen yang menjadi target pembunuhan.

“Sampai saat ini kita mau ketemu Heri Kurniawan (HK/Iwan) enggak bisa, dikhawatirkan cerita Iwan dengan yang kami terima dari Pak Kivlan itu berbeda. “ungkap Yuntri saat dihubungi, Selasa (11/6/2019) seperti dilansir kumparan.com. 

Justru kata Yuntri, Iwan datang ke Kivlan untuk memberikan informasi bahwa ia mengatakan Kivlan akan dibunuh oleh empat orang yang kini diduga menjadi sasaran pembunuhan, yaitu Gorries Mere, Luhut Pandjaitan, Wiranto dan Budi Gunawan.

“Iwan justru datang ke Pak Kivlan mengatakan, Pak Kivlan mau dibunuh oleh empat orang itu. “paparnya.

Yuntri juga menyampaikan, sebenarnya Iwan diperintahkan untuk menjadi sopir Kivlan karena rumah Kivlan yang jauh di Gunung Picung, Bogor, Jawa Barat.

“Jadi Iwan itu diperintah jadi sopirnya, karena rumah Pak Kivlan di Gunung Picung di Bogor, maka itu kan masih ada hutan-hutannya banyak Babi, Iwan bilang ini ada senjata pak. Pak Kivlan bilang itu bukan untuk bunuh babi tapi bunuh tikus. “tuturnya.

BACA JUGA:  Kapolres Asahan Ingatkan Masyarakat,  Jangan Percaya Calo Dalam Penerimaan Anggota Polri

Berbarengan dengan itu ada peringatan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), HK alias Iwan diberikan uang untuk melakukan demo atas peringatan tersebut sebesar 15 ribu dolar singapura atau 150 juta rupiah.

“Enggak tahu dilaksanakan atau tidak, tiba-tiba sekarang muncul dan ceritanya malah dibalik yang dibikinnya pengakuan dari polisi, (malah) justru Pak Kivlan yang menyuruh untuk membunuh empat orang itu. “ulasnya.

“Untuk lebih pastinya kita tidak mau berspekulasi, kita mau minta polisi gelar perkara. Karena Pak Kivlan ini dibidik dengan tiga kasus, yakni kasus makar, kepemilikan senpi dan perencanaan pembunuhan, kasus makar pengembangan dari Eggi Sudjana, sedangkan kepemilikan senjata ini pengembangan dari Iwan, jadi polisi enggak berani. Karena penetapan tersangka berdasarkan KUHAP harus dengan gelar perkara dulu. “tandasnya.(Editor.Op)

Komentar