oleh

Pengamat Ekonomi Indef Menilai Indonesia Masih Produktif

Kabartoday, Jakarta – Seminar Nasional BUMN bertema ‘Menakar Kesiapan Perusahaan BUMN Menapaki Era Industri 4.0 dan Peleburan Bisnis Sampingan BUMN‘ Rabu( 5/ 2) siang berlangsung di Room Puri Ratna, Grand Sahid Jaya Hotel, Sudirman, Jakarta Pusat.

Pengamat Ekonomi INDEF Bima Yudhistira mengatakan bahwa sejarah selalu berulang. Sehingga tidak perlu kuatir dengan hadirnya Industri 4.0 dengan adanya penggeseran orang-orang kantor digantikan oleh robotisasi.

“Arsitektur Industri Nasional di Jerman pada kenyataan nya tidak membuktikan ketakutan adanya pengangguran karena digantikan oleh industri 4.0. Buktinya tingkat pengangguran di Jerman sangat rendah,” Jelas Bima.

Lebih lanjut Bima mengatakan bahwa Negara Cina menyebut Industri 4.0 sebagai Making Cina 2025, Bagaimana industri menstimulus society yang berkurangnya pengangguran.

BACA JUGA:  Tedjo Edhy Optimis Prabowo Sandiaga Menang di MK

Komunitas dengan pengetahuan rendah seperti dari ojek online hanya masuk dalam kelompok low skill, tidak menguasai high tech, yang mana dikuasai orang luar dan berkantor di Indonesia.

Unicorn yang dibanggakan itu seperti bisnis penjualan online, transportasi online dan hanyalah pelayanan belaka. Sehingga ia berharap BUMN ada perlu menciptakan inovasi baru.

Konsep industri 4.0 di Indonesia diketawai oleh pengusaha Denmark dan Jerman, yang saat ini masih bangga dengan pembayaran transaksi dengan uang cash.

BACA JUGA:  PBNU Gandeng Perusahaan Azerbaijan Investasi di Indonesia

“Kita hendaknya jangan copy paste terhadap fenomena Industri 4.0. Statistik yang paling mudah adalah melihat berapa harga karet, kelapa sawit saat ini,” Tambah Bima.

Denmark tidak latah dengan industri 4.0, namun e-commerce perlu untuk dipertimbangkan. Celah PINDAD melihat peluang usaha dengan sulitnya negara – negara miskin untuk membeli senjata ke Israel dan USA.

Rekomendasi untuk BUMN di bidang market, mobil masa depan adalah mobil listrik. Hanya pada Wifer mobil muncul “bendera” Indonesia karena kita memproduksi karet.

Apakah Nasionalis industri kita ada? Tidak terhubung dengan dunia luar. Buktinya, kebutuhan industri mobil listrik belum menjadi fokus industri Indonesia.

BACA JUGA:  Tunggu Rekomendasi dari Dewan Pers, Laporan Mantan Ketua Tim Mawar Ditolak Bareskrim

“Orang – orang pintar disekolahkan ke luar negeri. Mereka” mencuri” ilmu tempat mereka belajar dan kembali ke Cina untuk mengabdi bagi negara. Bagaimana dengan Indonesia? ” Tanya Bima.

Bagaimana pemerintah Indonesia melihat masa depan Indonesia. Akan tergantung pada speed Internet yang ada saat ini. Tahun 2002 seharusnya Indonesia lebih maju daripada Cina. Tapi, ternyata kita disalib oleh Cina.

Pemangku kebijakan tidak tahu industri 4.0 berdampak pada produktivitas. Ada 46 persen yang alami stress saat Industri 4.0 berlangsung. Masyarakat saat ini over load informasi sehingga perlu jasa konsultasi psikolog.[]Hsw

Komentar