oleh

Pentingnya Pendidikan Qur’ani di Era Disrupsi dan Post Truth

Oleh: Prof.Dr. Syahidin.M.Pd., Guru Besar UPI

Kabartoday, Bandung – Generasi milineal merupakan generasi terbaru mengisi kehidupan dunia saat ini. Mereka terlahir dari rahim revolusi industri.

Revolusi industri telah memicu terjadinya perubahan visi, misi dan perilaku hidup masyarakat ke arah yang lebih realistis, dan telah mengantarkan generasi milenial ke era disrupsi dan era post truth.

Prof. Syahidin menyebutnya era disrupsi dan era post truth adalah era baru, dimana perubahan-perubahan terjadi dari dunia nyata ke dunia maya dalam tempo yang sangat cepat.

Generasi milenial memiliki kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik lebih unggul dibanding generasi sebelumnya, namun dalam kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual mereka mengalami banyak kendala.

Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia ini, ada dua kendala utama dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu;

Pertama, adanya pemikiran dikotomis yang memisahkan bahkan menjauhkan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,

BACA JUGA:  Iwandi Cs Dilapor ke Polda Riau Terkait Dugaan Mark Up Pengadaan Tanah Kantor Camat Bathin Solapan Bengkalis Rp10 Miliar

Kedua, adanya perbedaan dalam memahami, dan meyakini kebenaran Ilahiyah yang bersifat universal bersumber dari agama atau wahyu, dengan kebenaran ilmiyah yang bersifat temporer bersumber pada budaya.

Kedua kendala tersebut menjadi pemicu terjadinya perbedaan-perbedaan dalam membina karakter, perbedaan pilihan nilai, dan perbedaan dalam memahami dan menyikapi fenomena alam yang selalu berubah secara cepat.

Generai milenial dihadapkan kepada dua pilihan yaitu mengikuti perubahan zaman atau punah ditelan perubahan itu sendiri. Ini merupakan sebuah tantangan, sekaligus peluang bagi generasi milenial.

Disatu sisi, jika ingin tetap eksis, maka harus mengikuti perkembangan zaman, namun disisi lain perkembagan itu telah mengarah pada dehumanisai sebagai pengaruh liberalisme dan sekularisme yang semakin masif.

Pendidikan Qur’ani menawarkan sebuah adaptasi dan inovasi yang meng-integrasikan kebenaran ilahiyah/wahyu bersumber dari kitab suci dengan kebenaran ilmiyah/ilmu yang bersumber dari budaya.

BACA JUGA:  Miliki Catatan Kriminal, 2 Perampok Emas Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

Artinya, wahyu harus memandu ilmu, dan ilmu harus mampu menjelaskan dan mengurai kebenaran wahyu. Pendidikan Qur’ani merupakan sebuah inovasi dalam bidang pendidikan dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah ke dalam semua aspek pendidikan, baik dalam tataran konseptual maupun dalam implementasinya.

Secara utuh langkah-langkah aktualisasi nilai-nlai Al Quran dan Sunnah ke dalam pendidikan sebagai berikut:

1). Membangun paradigma berpikir Qur’ani sebagai landasan filosofis dalam menyusun teori dan langkah-langkah implementasinya.

2). Membuat teori-teori pendidikan sebagai hasil studi, riset, dan pengkajian ilmiah terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi.

3). Membuat model-model pembelajaran sebagai implementasi teori-teori pendidikan yang dibuatnya melalui studi, riset, dan kajian-kajian mendalam terhadap ayat ayat Al Qur’an dan Sunnah.

Dalam tataran konseptual yang pertama dilakukan adalah membangun paradigma Qur’ani, kemudian menyusun teori dan model pembelajaran Pendidikan Qur’an dengan langkah-langkah menentukan teori dan pendekatan pembelajaran dalam Al Qur’an dan Sunnah.

BACA JUGA:  Mr Kan: Tata Negara Indonesia Bertentangan Berat dengan Trias Politika

Poin berikutnya dikatakan Syahidin, mencari strategi pembelajaran dalam al Qur’an dan Sunnah, lalu menyusun metode pembelajaran dalam al Qur’an dan Sunnah, setelah itu mencoba mengimplementasikan teknik dan taktik pembelajaran dalam al Qur’an Sunnah.

Kembali dipaparkannya, dalam tataran implementasi menyusun metode pembelajaran Qur’ani. Menurut Syahidin ada tujuh (7) metode yang sudah ditemukan yaitu, (1) metode Qishah, (2) metode Amtsl, (3) metode Ibroh Mau’idzoh, (4) metode Hiwar, (5) metode Uswah Khasanah (6) metode Latihan dan Pengamalan, dan (7) metode Tajribi.

Ketujuh metode pembelajaran Qur’ani sebahagian sudah diaplikasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama di Sekolah, dan sebahagian lainnya masih terus disempurnakan.(Editor.Op)

Komentar