oleh

Polisi Tangkap Kapal Bermuatan Kayu Ilegal di Ambon

Kabartoday, AMBON – Satu unit kapal kayu bermuatan kayu campuran yang diduga kuat tanpa dokumen pelengkap ditangkap aparat kepolisian Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Maluku. Diduga kayu ilegal tersebut akan dijual di Pulau Ambon.

Kapal bermuatan 10 kubik kayu campuran dan linggua ini diamankan Senin (24/2/2020) sekitar pukul 21.00 WIT di Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Usai ditangkap, kapal tersebut dikawal menuju dermaga Mako Ditpolairud Polda Maluku di Desa Lateri, Kecamatan Baguala Kota Ambon Selasa (25/2/2020) dan tiba sekitar pukul 16.30 WIT.

Direktur Kepolisian Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Maluku Komisaris Besar Polisi Harun Rosyid menjelaskan kapal tersebut ditangkap karena memuat kayu tanda dilengkapi dengan dokumen.

BACA JUGA:  Polisi Bekuk Tiga Pelaku Penikaman Yang Tewaskan Pemuda Batu Gantung di Ambon

“Tadi malam, personil kita mengamankan satu unit kapal kayu bermuatan sekitar 10 kubik kayu jenis campuran serta linggua. Kapal tersebut diamankan di Pelabuhan Momoking Desa Tulehu,” ujarnya di Dermaga Mako Ditpolairud Polda Maluku Selasa (25/2/2020) sore saat meninjau langsung kapal tersebut.

Kombes Pol Harun Rosyid,S.IK – Direktur Polairud Polda Maluku

Harun beberkan saat mengamankan kapal tersebut personil Subdit Penegakan Hukum (Gakkum) memeriksa isi kapal. Ternyata dalam kapal tersebut ada muatan 10 kubik kayu campuran. Saat petugas memeriksa dokumen muatan kayu, ternyata tidak ada dokumen berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan (SKSHH).

Karena tidak memiliki dokumen atas muatan kayu, petugas kepolisian langsung mengamankan kapal serta barang bukti muatan 10 kubik kayu. Petugas juga mengamankan nakhoda kapal Dali Kelian (46) serta dua orang anak buah kapal (ABK) Lukman Sid (37) dan Udin Madaul (48). Ketiganya merupakan warga Desa Batu Asar, Kecamatan Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur.

BACA JUGA:  Laka Tunggal di Banyu Linu Ijen, Sopir Elf dan Dua WNA Luka Luka

Menurut Harun, kapal yang diduga bermuatan kayu ilegal ini berlayar dari Desa Tobo Kecamatan Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur menuju pelabuhan Momoking, Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah.

Ia katakan saat ini nakhoda kapal serta dua ABK sementara menjalani pemeriksaan intensif penyidik dengan status masih sebagai saksi. Menyangkut kemungkinan status ketiga ABK ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka, ia jelaskan tergantung hasil pemeriksaan penyidik serta gelar perkara nanti.

BACA JUGA:  Lasman Singgung Kepala UP Parkir DKI Diskriminatif dan Koncoisme

“Saat ini status tiga ABK masih sebagai saksi. Selanjutnya tergantung hasil pemeriksaan dan gelar perkara nanti oleh penyidik apakah status mereka dapat ditingkatkan jadi tersangka. Semua ada prosesnya. Jadi kita tunggu hasil selanjutnya,” jelas Harun.

Terhadap perbuatan dugaan tindak pidana pemuatan kayu tanda dokumen ini dapat dijerat dengan pasal 83 ayat huruf (b) junto pasal 12 huruf (e) atau pasal 88 ayat 1 huruf (a) junto pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan. Mereka terancam hukuman kurungan penjara lima tahun serta denda paling sedikit 500 juta rupiah dan paling banyak 2,5 miliar rupiah. (Imanuel)

Komentar