oleh

Program Belajar 3-2-1 ala SMPN 6 Ambon, Pertama di Indonesia Timur

Kabartoday, AMBON – SMP Negeri 6 Ambon Provinsi Maluku menerapkan program belajar baru untuk kelas khusus Sistem Kredit Semester (SKS) atau kelas “sains” tahun pelajaran 2019/2020. Program belajar dengan pola 3-2-1 setiap pekan di SMPN 6 Ambon ternyata merupakan yang pertama di wilayah Indonesia Timur untuk tingkat SMP dan sederajat.

Pola belajar 3-2-1 yaitu tiga hari pertama setiap pekan yaitu Senin, Selasa dan Rabu para siswa akan melakukan proses belajar mengajar di kelas secara normal. Kemudian untuk dua hari selanjutnya yaitu Kamis dan Jumat, para siswa akan melakukan proses pembelajaran diluar kelas atau di dunia sekitar untuk melihat riil kehidupan. Setelah itu untuk hari terakhir yaitu Sabtu, para siswa dikembalikan ke orang tua atau melakukan pembelajaran berupa pengembangan karakter serta mental spiritual.

Kepala Sekolah SMPN 6 Ambon Jantje SR Mahulette menjelaskan program yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 6 Ambon sebuah program baru yang diterapkan untuk kelas SKS.

“Kelas ini adalah untuk tahun kedua diadakan. Tahun pertama pada tahun ajaran 2018/2019, dimana para siswa sudah siap untuk menghadapi ujian nasional di bulan April mendatang. Untuk kelas SKS tahun kedua ini tahun ajaran 2019/2020 melakukan pembelajaran dengan sistem 3-2-1 setiap pekan,” jelasnya, Sabtu (29/2/2020) di sela-sela kegiatan pembinaan karakter dan spiritual bagi siswa kelas VII Sains di lokasi wisata rohani Katolik kawasan dusun Lapang, Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon.

Drs. Jantje SR Mahulette,M.Pd, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Ambon. 

Mahulette yang sudah 10 tahun menjabat Kepsek SMPN 6 Ambon ini terangkan tiga hari pertama yaitu Senin, Selasa dan Rabu para siswa belajar di ruang kelas. Kemudian dua hari (Kamis dan Jumat) turun ke lapangan.

“Bisa ke tempat-tempat dimana perputaran roda ekonomi atau juga bisa di tempat-tempat tertentu. Sehingga para siswa dibawakan dengan sejumlah instrumen dan mereka kemudian akan membuat identifikasi-identifikasi terhadap masalah-masalah yang ada di lapangan nyata yang mereka temui,” terang Mahulette.

Setelah dua hari terjun ke lapangan kehidupan nyata, para siswa akan mendata, membuat laporan sampai dengan menyimpulkan. Tahap akhir para siswa akan mempresentasikan laporan mereka.

Dengan dua hari turun ke lapangan katanya, diharapkan para siswa secara riil akan menemukan perbandingan antara konsep teori yang diajarkan selama tiga hari di ruang kelas dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi di lapangan.

BACA JUGA:  Kedua Bandar Sabu, DW dan ND Diciduk Polisi

“Untuk hari sabtu para siswa dikembalikan kepada orang tua atau dibuat kegiatan diluar ruangan untuk pembinaan-pembinaan karakter atau pembinaan spiritual. Para siswa dibawa ke tempat wisata rohani seperti sekarang ini kegiatan melibatkan para siswa, orang tua serta guru turun ke lokasi-lokasi spiritual seperti di sini,” ungkapnya.

Ia berharap dengan pola pembelajaran 3-2-1 ini para siswa kelas SKS ini selain memiliki teori dan konsep yang baik juga diharapkan memiliki potensi-potensi yang perlu dikembangkan di lapangan.

Sebab turun dua hari di lapangan, guru pendamping mata pelajaran akan mengidentifikasi potensi-potensi minat bakat yang ada pada siswa sehingga dapat diarahkan untuk studi lanjut.

“Program pembelajaran dengan sistem 3-2-1 ini baru pertama kali dilakukan di Kota Ambon, bahkan mungkin juga di Indonesia bagian timur untuk tingkat SMP. Kalau untuk SMA saya tidak tahu, tetapi untuk tingkat SMP ini baru pertama dilakukan di wilayah Indonesia bagian timur,” tandas Mahulette.

Salah satu indikator program unggulan ini yaitu tahun lalu ada mahasiswa tingkat strata-3 atau doktoral dari perguruan tinggi di Jawa dirujuk ke Kota Ambon. Karena mereka tahu ada salah satu SMP di Kota Ambon yaitu di SMP Negeri 6 yang mengembangkan sistem SKS.

Landasannya kita berpijak pada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Peraturan Menteri Kebudayaan (Permendikbud) nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Tentang cara merekrut siswa untuk dibagi ke kelas khusus termasuk kelas SKS ini, Mahulette terangkan sebelum pelaksanaan proses belajar mengajar, pada tahap pertama para siswa akan menjalani tes yang dilakukan secara umum. Tahap kedua para siswa akan menjalani tes psiko. Tahap ketiga para siswa dibina selama enam bulan. Setelah itu para siswa diseleksi secara ketat, dengan meminta informasi-informasi langsung dari guru mata pelajaran baik dari nilai teori maupun aspek sikap, karakter dan ketrampilan kemampuan yang dimilikinya lalu kemudian kita memutuskan siswa ini cocoknya masuk ke kelas mana apakah kelas seni, kelas olahraga, kelas bahasa atau bilingual atau kelas IT atau Sains.

BACA JUGA:  Hilang Tiga Hari, Dua Nelayan Maluku Terdampar di Perairan Sulawesi Tenggara

“Pembagian kelas ini dilakukan tanpa adanya intervensi dari kepala sekolah maupun pihak lain. Ini murni dilakukan oleh tim yang sudah dibentuk. Ini betul-betul sangat objektif. Di semester dua baru para siswa dibagi ke kelas-kelas khusus,” terangnya.

Untuk kelas SKS, Mahulette katakan sejak tahun pertama hingga yang kedua ini rata-rata hanya satu kelas. Demikian pula untuk kelas-kelas khusus yang lain seperti olahraga, seni maupun bilingual masing-masing hanya satu kelas. Secara akademik mereka sudah bagus. Tinggal bagaimana kita memantapkan ketrampilan, vokasi serta karakter mereka.

Ia berharap agar program kelas SKS ini bisa juga diterapkan di jenjang SMA sederajat. Tujuannya agar para siswa kelas SKS di tingkat SMP tidak terputus pendidikan program SKS ini.

“Sebagai kepala sekolah saya berharap bahwa ada kesinambungan pendidikan para siswa ini dari SMP ke tingkat SMA atau SMK. Karena Permendikbud nomor 158 tahun 2014 mengisyaratkan bahwa pihak pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada sekolah tingkat SMP dan SMA melaksanakan pendidikan yang berbasis SKS. Oleh sebab itu kami berharap ke depan di Kota Ambon juga ada kelanjutan pendidikan sistem SKS ditingkat SMA. Artinya diharapkan juga untuk SMA maupun SMK bisa juga membuka kelas sistem SKS ini agar para siswa kelas SKS di tingkat SMP dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Program 3-2-1 ini ternyata disukai para siswa kelas VII SKS karena menilai pembelajaran diluar kelas dapat dilakukan dengan serius tetapi juga santai. Tidak tegang seperti menjalani pembelajaran di ruang kelas.

Gio Resky Putra Ricky, siswa kelas VII Sains

“Belajar di luar kelas kita merasa lebih happy, senang, bahagia. Memang dirasakan ada perbedaan belajar di dalam kelas dengan di luar kelas. Di dalam kelas, kita harus serius dengan materi yang diajarkan, sementara belajar diluar kelas ini kita lebih santai dan kita bisa menyerap konsep teori yang diberikan dengan lebih baik,” jelas Rio Resky Putra Ricky, salah satu siswa kelas VII SKS.

Ia katakan pembelajaran diluar kelas dengan para siswa dibawa ke tempat wisata rohani seperti ini bisa membuat karakter siswa menjadi lebih baik lagi.

Hal senada juga diungkapkan siswa Kelas VII Sains lainnya Gloria Estevany Lewier yang juga merasakan perbedaan belajar luar kelas dan dalam kelas.

BACA JUGA:  Upaya Tingkatkan Ekonomi Warga, Cafe Milik BUMDes Negeri Lama di Ambon Diresmikan

“Menurut saya pembelajaran diluar kelas lebih baik karena kami belajar dengan sendirinya bisa tahu apa yang ada di alam sekitar. Perbedaannya, diluar kelas kami lebih santai, kami bisa mengetahui langsung kondisi atau realita alam sekitar,” ungkap siswi yang akrab dipanggil Gloria.

Gloria Estevany Lewier, Siswi Kelas VII Sains

Ia berharap program seperti ini terus berlangsung sehingga para siswa bisa mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri untuk mengetahui alam sekitar.

Sistem pendidikan 3-2-1 ini juga mendapat dukungan penuh dari orang tua siswa lewat komite sekolah. Ini merupakan wujud konkrit komitmen orang tua siswa untuk mendukung inovasi pendidikan yang dibuat oleh SMP Negeri 6 Ambon.

“Kata Kepala sekolah, program pendidikan berbasis SKS ini merupakan pertama untuk wilayah Indonesia Timur. Kita sadari orang tua punya peran penting untuk membantu pihak sekolah dalam hal ini para guru dalam rangka pembentukan mental karakter serta spiritual anak-anak,” jelas salah satu orang tua siswa Bernard Fanulene.

Ia katakan para orang tua siswa sadari pihak sekolah pasti punya keterbatasan dalam penyelenggaran pendidikan secara maksimal, sehingga hadirnya pihak orang tua dengan tujuan utama adalah bagaimana terciptanya keseimbangan kemampuan siswa bukan hanya dari sisi sains tetapi juga dari segi mental karakter siswa.

“Kita harapkan hasil pendidikan ini para siswa cerdas dari sisi pengetahuan serta cerdas dari sisi sikap dan kepribadian,” harapnya.

Meganita,S.Pd, guru wali kelas VII Sains SMPN 6 Ambon

Guru wali kelas VII Sains, Meganita katakan pelaksanaan program  pendidikan luar kelas ini membuat para siswa sangat senang karena selama ini kurang lebih beberapa hari mereka berada di dalam kelas sangat banyak pelajaran yang memang memeras otak maupun tenaga mereka.

“Dengan kegiatan seperti ini satu hari belajar diluar kelas kiranya bisa menghilangkan penat maupun lelah mereka. Bagaimana ketika mereka di dalam ruangan diajarkan untuk bisa mengembangkan karakter mereka terutama dalam sikap mereka. Misalnya tadi ada permainan-permainan yang mereka lakukan tadi itu mengajak mereka bagaimana bisa bekerja sama dengan baik, bisa menghargai teman mereka, kemudian mereka bisa memupuk silaturahmi persaudaraan pada permainan tadi,” jelasnya.

Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan luar kelas ini adalah karakter-karakter yang siswa dapatkan bisa mereka bawakan dalam kelas sehingga menunjang mereka nanti untuk kedepannya bukan saja pintar secara pengetahuan tetapi akhlak mereka juga bisa menjadi lebih  baik. (Imanuel)

Komentar