oleh

PSI Naik Daun di Bursa Pilwali Surabaya

-Aktual-425 views

 

Surabaya (Kabartoday) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Surabaya mengundang decak kagum khalayak luas dan berbagai komunitas politik. Terlepas dari diabaikannya uluran jabat tangan Grace Natalie oleh Prabowo Subianto di Gedung DPR MPR (Minggu, 20/10/2019), tak dapat dipungkiri, PSI telah menjadi suatu kekuatan politik yang sulit diremehkan.

Citra PSI makin melejit setelah partai pimpinan Grace Natalie itu berhasil mengantarkan empat pejuang politiknya ke parlemen Kota Pahlawan: Alfian Limardi, William Wirakusuma, Tjutjuk Supariono, dan Josiah Michael.

PSI sejak awal berdirinya memiliki titik pijak yang jelas. Grace Natalie dan anak-anak milenial di partai berlambang mawar itu tegas mengawal Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan berkomitmen menjaga Pancasila sebagai ideologi negara. Setiap gebrakan politik para kadernya selalu menunjukkan kepada publik alasan PSI lahir dan berdiri.

Dalam pusaran bursa calon Wali Kota (Cawali) Surabaya, partai itu pun tak luput dari perbincangan masyarakat, apa lagi oleh mereka yang khawatir dengan kekuatan radikalisme agama yang ingin menggerogoti ideologi Pancasila. Grace Natalie bersama Bro dan Sis-nya tampak menjadi satu-satunya partai yang berada di barisan terdepan menemani Pemerintahan Jokowi dalam menjaga Pancasila.

Konvensi cawali dan cawawali DPW PSI Jawa Timur (Jatim) telah resmi ditutup pada hari Minggu (20/10/2019). Dikabarkan, terhitung ada 21 orang yang telah mengambil formulir pendaftaran seleksi calon pemimpin Surabaya itu, baik dari dalam maupun luar PSI. Jumlah yang banyak. Ini bukti partai yang di wilayah Jatim dipimpin oleh Sobhikin Amin itu menjadi partai yang paling diminati dan dipercaya oleh para politisi lokal.

BACA JUGA:  Gatot Brajamusti Meninggal Dunia Bulan Karena Covid

Analisis Peluang PSI

Dengan torehan empat kursi PSI diharuskan berkoalisi dengan partai-partai lain yang sevisi. Sebab prasyarat untuk mengajukan calon sendiri oleh KPUD Surabaya adalah adanya sepuluh kursi di DPRD Kota.

Di depan mata terlihat jelas Golkar, NasDem, Demokrat, memiliki warna nasionalis yang sama dengan PSI. Sebenarnya ada Gerindra, tapi setelah viralnya video “Prabowo abaikan jabat tangan Grace Natalie,” maka kemungkinan koalisi PSI-Gerindra terwujud di Surabaya tampak mengecil.

Golkar dengan tokohnya yang paling populer saat ini, KH. Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) dinilai banyak pengamat adalah mitra koalisi yang paling potensial bagi PSI. Terlebih, ulama muda NU itu tampak akrab dengan kader PSI yang sedang melambung elektabilitasnya saat ini, Dhimas Anugrah.

Tetapi Golkar dengan lima kursinya di DPRD, plus PSI, baru memiliki sembilan kursi. Koalisi ini butuh tambahan tenaga. Ada NasDem, Demokrat, atau bahkan PKB dan PPP yang perlu dijajaki kemungkinannya untuk berkoalisi. Tentu bisa dibayangkan, akan ada proses diskusi yang mungkin tak sederhana jika PSI dan Golkar mengajak partai-partai lain membentuk koalisi.

Calon-calon anggota koalisi perlu sepakat terlebih dulu mengenai siapa cawali dan cawawali yang akan mereka usung. Proses diskusi dan lobinya bisa saja butuh waktu yang tak sebentar, atau mungkin bisa juga cepat. Semua tergantung situasi yang berkembang ke depan. “Politik itu dinamis,” begitu yang sering diucapkan seorang politisi Golkar.

BACA JUGA:  Dari Sebuah Film Sampai ke Kisi-Kisi Negeri Dilan

Gus Hans di Konvensi PSI

Gus Hans diberitakan sudah pernah lakukan pertemuan terbatas dengan Pengurus PSI Surabaya pada 30 Mei lalu di bilangan Darmo Kali. Wacana yang luas beredar, Presiden Football for Peace Interfaith Indonesia itu akan bertandem dengan Dhimas Anugrah, kader PSI yang juga pemerhati sosial dari Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Dari 21 pendaftar konvensi di DPW PSI Jatim, nama Gus Hans tercantum di antaranya. Ia akan mengikuti penyaringan terbuka yang diadakan partai mawar. Sebagian pengamat meyakini Gus Hans akan lolos konvensi tersebut. Apa lagi, jubir Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018 itu dikenal memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni dan jaringan lintas sektor yang kuat.

Politik memang bersifat liat. Apa yang terjadi di depan tak seorang pun sanggup memastikannya. Tapi setidaknya, nama Gus Hans sedang naik akseptabilitas dan elektabilitasnya. Ia juga seorang ulama yang Pancasilais. Tampaknya takkan sulit bagi Gus Hans meraih simpati DPP PSI.

Di sisi lain, banyak kader internal PSI sendiri yang mendorong Dhimas Anugrah maju mendampingi Gus Hans di Pilwali 2020. Situasi menjadi menarik karena Dhimas Anugrah tak mendaftar di konvensi PSI, sama seperti Eri Cahyadi dan Hendro Gunawan yang tak mendaftar konvensi di DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jatim.

BACA JUGA:  Polsek Tandes Amankan Pencuri Motor

Apakah Dhimas punya jalur khusus mendaftar langsung di DPP PSI? Hal itu diragukan oleh Cristian Dinata, Ketua Simpatisan Milenial Solidaritas (SMS). “Tidak ada jalur khusus bagi kader-kader PSI, semua harus mengikuti proses dan mekanisme partai di masing-masing DPW, termasuk Cak Dhimas. Tapi politik itu tidak kaku ya,” kata Cristian, Senin (21/10/2019).

Wacana Gus Hans-Dhimas Anugrah

Sikap Dhimas Anugrah yang tak berkomentar sedikit pun terkait mencuatnya nama pria asli Surabaya itu di bursa cawali Surabaya menambah rasa penasaran di antara pengamat politik Kota Pahlawan.

Apakah DPP PSI berencana menduetkan Gus Hans dan Dhimas Anugrah? Itu pun masih sulit dipastikan oleh Cristian. “Politik itu cair, buktinya Pak Prabowo aja akan masuk dalam kabinet Presiden Jokowi. Wacana duet Gus Hans-Cak Dhimas memang masih terlalu dini, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi juga. Hanya Tuhan yang tahu,” katanya.

Kepada wartawan Cristian menambahkan, “Sampai sekarang saya masih sulit bertemu dengan Cak Dhimas. Sepanjang yang saya tahu, Cak Dhimas bersedia melayani masyarakat Surabaya.”

“Gus Hans dan Cak Dhimas sama-sama muda, cerdas, dan Pancasilais. Keduanya low profile, tapi profesional dan dekat dengan masyarakat,” pungkas Ketua SMS. (Bbg)

Komentar