oleh

Satu Penganiaya Warga Hualoy Diciduk Saat Sembunyi di Bagasi Mobil, Mapolsek Amalatu Dirusak Massa

-Daerah, Kriminal-1.173 views

Kabartoday, Ambon – Aparat kepolisian berhasil mengamankan KP, warga Desa Latu Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) yang diduga merupakan salah satu pelaku penganiayaan warga Desa Hualoy, Samsul Lussy hingga tewas pada Sabtu (4/5) lalu di kawasan hutan Desa Latu.

Peristiwa penganiayaan hingga tewasnya korban ini merupakan rentetan peristiwa bentrok antar warga Desa Latu dan Hualoy sejak awal Januari 2019 lalu yang hingga kini belum terselesaikan.

KP berhasil diamankan Rabu (15/5) sekitar pukul 14.30 WIT di depan Mapolsek Amalatu. Tertangkapnya KP ini tidak disengaja. Saat itu Polisi melakukan razia terhadap semua kendaraan yang melintas di depan Mapolsek. Saat memeriksa satu mobil Avanza, polisi menemukan KP bersembunyi di bagasi mobil. Curiga dengan orang yang bersembunyi di bagasi ini, petugas membawa KP dan mendalami alasan bersembunyi di bagasi. Terungkap kemudian KP merupakan warga Desa Latu yang dideteksi sebagai salah satu terduga pelaku penganiayaan.

Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa melalui Kabid Humas Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat mengakui personilnya berhasil mengamankan salah satu terduga pelaku.

BACA JUGA:  Peduli Sungai, KPK Pemalang Raih Juara Harapan 2

“Kemarin pada hari Rabu (15/5) sekitar pukul 14.30 WIT, personil Polres Seram Bagian Barat dan personil Polsek Kairatu melakukan razia di depan Polsek. Ada sebuah mobil Avanza yang lewat. Petugas memeriksa seluruh isi mobil termasuk bagasi. Ketika bagasi dibuka, ada satu orang yang jatuh. Kemudian ditangkap dan diperiksa. Ternyata yang bersangkutan adalah salah satu terduga pelaku penganiayaan,” jelas Ohoirat saat menggelar konferensi pers Kamis (16/5) di ruang kerjanya.

Kombes Pol M Roem Ohoirat, Kabid Humas Polda Maluku

Ohoirat katakan, setelah berhasil diamankan KP kemudian dibawa ke Mako Polres SBB di Peru untuk dimintai keterangan. KP sendiri sudah beberapa kali dipanggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan tetapi tidak datang. Bahkan polisi telah mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan terhadap yang bersangkutan.

Dalam proses hukum kasus penganiayaan ini, bukan cuma KP yang dipanggil, tetapi ada beberapa nama yang diduga sebagai pelaku ikut dipanggil termasuk juga warga yang diduga ada di TKP sebagai saksi.

BACA JUGA:  Arogan, Pengurus KNPI SBB Minta Bupati Copot PJ Kades Lumahpelu

“Pemanggilan dilakukan lewat pemerintah desa Latu namun mereka yang dipanggil tidak pernah datang,” ungkap mantan Wadirreskrimum Polda Maluku ini.

Kabid Humas beberkan buntut penangkapan KP ini, memicu kemarahan masyarakat Desa Latu. Puluhan warga berbondong-bondong mendatangi Mako Polsek Amalatu memprotes dan mempertanyakan alasan penangkapan KP.

“Massa datang dengan beringas. Mereka datang membawa alat tajam dan memaki-maki anggota kita. Bahkan anggota kita termasuk Kapolres SBB sudah didorong-dorong. Tetapi saat itu anggota tetap tenang menghadapi massa yang makin ganas,” tukasnya.

Kata Ohoirat, keberadaan massa makin brutal. Massa kemudian masuk ke halaman Mapolsek. Mereka juga membentak dan mendorong-dorong Kapolres SBB. Emosi massa tak terbendung dan melakukan pelemparan batu ke Kantor Mako Polsek Amalatu. Akibatnya kaca jendela dan pintu Mako Polsek mengalami kerusakan.

Bukan hanya gedung kantor yang dirusak massa. Dua kendaraan bermotor yang diparkir di depan Mako Polsek ikut jadi korban. Satu kendaraan dinas dan satu kendaraan pribadi milik anggota dirusak massa.

BACA JUGA:  Hendrizal Alias Bocank Terpilih Sebagai Ketua KONI Meranti 2019-2023  
Aksi demo warga Desa Latu di Mako Polsek Amalatu menuntut polisi kembalikan warga mereka yang ditangkap

Selain merusak Kantor Mako Polsek, Ohoirat ungkapkan aksi warga ini ikut merusak merobek-robek ucapan selamat Ramadhan dari Panglima TNI dan Kapolri. Baliho ucapan selamat melaksanakan ibadah puasa. Aksi warga ini menuntut agar polisi mengembalikan KP.

“Mereka menuntut agar warga mereka yang ditangkap tadi untuk segera dikembalikan. Tetapi yang bersangkutan tetap akan diproses hukum,” tegas salah satu putra terbaik asal daerah Kei ini.

Ohoirat yang pernah menjabat Kapolres Maluku Tenggara ini paparkan, aksi brutal massa sempat terhenti saat jelang maghrib. Saat itu warga Desa Latu yang seluruhnya beragama Muslim ini persiapan untuk berbuka puasa sehingga warga pulang ke rumah masing-masing. Tetapi saat itu warga memberi ultimatum kepada polisi agar paling lambat pukul 24.00 WIT, sudah harus mengembalikan warganya yang di tangkap. Jika tidak, warga mengancam akan kembali dan membakar Kantor Polsek.

Terhadap ultimatum ini, aparat kepolisian di lapangan tetap tenang menahan diri dan tidak terprovokasi. (MAL)

Komentar