oleh

Siapakah Dalang Dibalik Tuduhan ke Soenarko dan Kivlan Zen Miliki Senjata Ilegal Hingga Makar?

Kabartoday, Jakarta – Permasalahan sengketa senjata api ilegal M4 Carbine yang dituduhkan Polri kepada eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko hingga akhirnya menjadi tersangka dan diseret ke sel tahanan Guntur telah menuai kontra keras ribuan Purnawirawan Jenderal TNI dan publik.

Dalam hal ini Polri membantah tudingan penangkapan Mayjen (Purn) Soenarko tidak sesuai prosedur.

Juru bicara Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan teknis penyidikan dan syarat penahanan merupakan kewenangan penyidik, dan Dedi juga menyebut penahanan Soenarko sudah melalui mekanisme gelar internal.

“Penahanan Soenarko sudah melalui mekanisme gelar internal yaa. “kata Dedi, Minggu (2/62019) seperti dikutip tempo.co.

Awalnya, Kasus tersebut mulai disuarakan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Bahkan Moeldoko mengaitkan tuduhan penyelundupan senjata api jenis M4 Carbine tersebut yang menyeret Soenarko diduga untuk mengacaukan situasi pada aksi 21-22 Mei lalu.

Gayung bersambut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukhan) Wiranto juga mengatakan Soenarko sudah ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata ilegal.

Wiranto pun menyebut senjata  yang dipesan Soenarko itu berasal dari Aceh.

“Soenarko sudah dipanggil, diperiksa, dan ditahan di Rutan POM Guntur. Dia telah ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan kepemilikan senjata api ilegal, ”Ujar Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) lalu.

Menurut Wiranto kepemilikan senjata api ilegal M4 Carbine oleh Soenarko apakah ada kaitannya dengan rencana gerakan aksi massa ke KPU dan Bawaslu tanggal 22 Mei 2019. Untuk itu ia meminta harus dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi pun pada hari Senin tanggal 20 Mei 2019 mengatakan pemeriksaan dan penyidikan kepada Soenarko telah dilakukan di Markas Puspom TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

BACA JUGA:  Musrenbang Kelurahan Binong dihadiri oleh Anggota DPRD Kab. Tangerang

Sebelumnya mantan Danjen Kopassus itu dilaporkan oleh seorang pengacara atas nama Humisar atas tuduhan makar, dalam laporannya, ia menyertakan bukti video yang beredar di dunia maya.

Sementara kuasa hukum Soenarko Ferry Firmanurwahyu bersama para Purnawirawan Jenderal lainnya membantah atas tuduhan dan sangkaan Moeldoko, Wiranto dan Kepala Kepolisan Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian atas kepemilikan senjata api ilegal jenis M4 Carbine yang akan digunakan untuk makar oleh Soenarko.

“Polisi telah melanggar aturan hukum acara pidana dalam penetapan Soenarko sebagai tersangka dan penahanannya atas dugaan sengketa senjata api ilegal yang belum jelas itu. “Kata Ferry.

Lanjutnya pada tanggal 19 Mei 2019,  kliennya Soenarko mendapat panggilan untuk diperiksa sebagai saksi atas tersangka BP dan ZN si pembawa senjata dari Aceh dan penerima yang menunggu di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Saat itu Soenarko diperiksa dari pukul 09.00 hingga 17.30, “ada dua perwakilan Badan Intelijen Strategis bernama Marsekal Margono dan Letnan Jenderal Asep yang berkunjung ke Pusat Polisi Militer TNI. Kemudian sekitar satu atau dua jam setelahnya, aparat kepolisian datang melakukan pemeriksaan. Ferry mengatakan secara tiba-tiba lalu keluar surat untuk Soenarko menjadi tersangka.

“Itulah yang kami maksud polisi telah melanggar hukum acara pidana, dimana mereka telah menetapkan seorang jadi tersangka tanpa adanya gelar perkara, karena tidak bisa tiba-tiba seperti itu, gak bener dong kalau caranya kayak gituh. “ucapnya.

Setelah peristiwa penahanan Soenarko, publik kembali digegerkan atas pernyataan resmi Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda Kolonel Infanteri (purn) Sri Radjasa Chandra. Ia menyatakan dengan tegas bahwa tuduhan Tito Karnavian, Moeldoko dan Wiranto terhadap Soenarko adalah tidak benar.

BACA JUGA:  Eggi Sudjana Cs Laporkan Jokowi ke Bawaslu Atas Kebohongan Publik

Tuduhan Polri yang merilis sengketa senjata api ilegal jenis M4 Carbine milik Soenarko yang dikirim dari Aceh, dinilai sangat bertolak belakang dengan faktanya. Hal itu dikatakan Sri Radjasa Chandra saat menggelar konferensi pers di Hotel Atlet Century park, Senayan, Jakarta, Jumat, (31/5/2019).

Sri Radjasa mengutarakan sebenarnya itu senjata-senjata yang dikumpulkan dari kombatan Gerakan Aceh Merdeka, dimana pada tahun 2009 lalu Staf Intel Iskandar Muda menerima tiga pucuk senjata dari masyarakat Aceh, yakni dua pucuk AK-47 dan sebuah M16 A1.

“Kenyataan yang ada, kondisi senjata tersebut saya lihat sendiri bahwa tidak layak untuk sebuah pertempuran, “kata Sri Radjasa.

Keterangan tertulis, senjata M16 A1 itu dikirim pada 15 Mei pukul 16.30 dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, dan dilengkapi surat pengantar dari Brigadir Jenderal Sunari. Setibanya senjata itu di Bandara Soekarno Hatta terjadi dua keanehan: Sunari menyebut surat itu palsu dan Heriansyah membantah mengambil senjata itu dari markas Kodam.

“Yang tiba- tiba jadi aneh, ketika sampai di bandara dikatakan surat pengantarnya palsu, kemudian si pengirimnya mengaku tidak mengirim, aneh kan? “kata Sri Radjasa.

Meski Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian telah menyebutkan senjata yang dikirim itu jenis M4 Carbine dari Aceh ke Jakarta dengan tujuan Soenarko. Sri Radjasa terheran-heran. Dia pastikan, senjata yang dikumpulkan dari eks kombatan GAM dan dilaporkan pada Soenarko adalah M16 A1, bukan M4 Carbine.

BACA JUGA:  Ketum KWRI Sikapi UKW Dewan Pers, Bukanlah Produk UU Pers

“Saya tau betul yang dikirim itu M16 A1 yang rusak, karena saya yang dapat dari GAM. Tapi kenapa yang ditayangkan Pak Tito M4 Carbine, saya enggak tahu senjata apa itu, “bantahnya.

Sri Radjasa mengklaim bahwa mantan atasanya yakni Soenarko tak pernah mengubah M16 A1 itu menjadi M4 carbine.

“Kalau soal perubahan senjata itu saya engak tahu kenapa bisa berubah, tanya aja sama polisi soal itu. Yang jelas Pak Narko tidak pernah mengubah senjata itu menjadi M4 Carbine. “tutupnya.

Selain itu, mantan Kasum TNI, Letjen (purn) Soeryo Prabowo geram dan marah atas tuduhan penggelapan senjata ilegal jenis M4 Carbine dan di kaitan untuk aksi 21-22 Mei 2019 lalu.

“Ini namanya penghinaan terhadap para Purnawirawan yang dituduh makar, Dari dulu kita berjuang untuk Negara ini agar merdeka dan rakyat bisa aman sejahtera. “Jelas Soeryo.

Soeryo juga menyebut tuduhan keji itu diarahkan ke Soenarko dan berujung pada Kivlan Zen yang dikait-kaitkan dalam dugaan akan melalukan makar, fitnahan itu adalah sangat kotor.

“Kalian keji! asal anda tahu, Soenarko punya anak tiga, belum sekali pun ia tunggui kelahiran ketiga putranya itu. Ia terus bergelut membela negara. Dibanding dengan Menkopolhukam, “Katanya lagi.

Para purnawirawan Jenderal TNI yang diwakili Soeryo Prabowo meminta Jenderal Tito Karnavian, Moeldoko dan Wiranto untuk membersihkan kembali nama baik Soenarko. Karena Ia berkeyakinan penuh Soenarko dan Kivlan Zen korban fitnah yang dituduhkannya terkait makar.(Op/red)

Komentar