oleh

SKB Sebut Kondisi Indonesia Saat Ini Sedang Memburuk

Kabartoday, Jakarta – Suara Komponen Bangsa (SKB) mengajak semua pihak untuk memikirkan kondisi Negara kesatuan Republik Indonesia kembali pada titahnya.

Persoalan bangsa adalah persoalan rakyat, dan menjadi diskursus untuk mempertahankan kedaulatan sesuai amanah UUD’45. Hal itu diungkapkan Sekjen Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN), Bungas T. Fernando Duling, di The Apollo Cafe, Hotel Ibis, Jl. Cikini Raya Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Hadir dalam konferensi pers yang digelar SKB Ubaidilah Badrun (Akademisi), Bungas T. Fernando Duling (Sekjen ARUN), Eky (Pengusaha Muda), Prof. dr. Indra P,  Jaya (Persatuan Buruh), Lutfi NST (Wirausahawan dan ketum Indonesia Muda), Leonardo (Pegiat HAM), Jimmy, Hanry Basel (Akademisi), dan Syam Wirausahawan.

Fernando mengingatkan kepada semua anak bangsa bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang memburuk, “Kita dihadapkan pada kondisi bangsa yang terus memburuk, untuk itu kami yang tergabung di SKB mengajak semua pihak untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta menjaga integritas bangsa.

Fernando juga mengingatkan kepada dunia internasional agar jangan intervensi secara ekonomi sehingga mempengaruhi urusan perpolitikan dan perundangan dalam negeri Indonesia.

Suara Komponen Bangsa (SKB) juga menyinggung soal belum adanya sikap kepolisian maupun Komnas HAM dalam menuntaskan perkara kemanusiaan.

“Pelanggaran hak Azasi manusia dalam pemilu 2019 sampai detik ini kepolisian masih berkutet mencari kambing hitam. Bahkan Komnas HAM seperti tak bergerak. Untuk itu kami mengajak kepada semua pihak untuk bersama- sama membongkar kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 di Jakarta. “Tegas Fernando.

Sementara Akademisi, Ubaidilah Badrun menyinggung pemerintah telah memboroskan anggaran Negara dalam Pemilu 2019. Ia mengungkit bukan hanya biaya yang tinggi, dan eksperimen yang luar biasa. Bahkan kerugian yang teramat mahal disebut Ubaidilah banyaknya anggota KPPS yang meninggal hingga mencapai 700-an orang, ribuan orang yang harus dirawat di RS.

BACA JUGA:  Bawaslu SBB Sebut Pelanggaran Kampanye Caleg Hanura Sudah Dilimpahkan Ke Polisi

“Miris melihat kondisi bangsa ini, dan terlalu mahal untuk dihitung. Tidak hadirnya Negara menyebabkan hilangnya kontrol politik hingga muncul aksi menolak kecurangan pemilu di Bawaslu dan beberapa wilayah lainnya hingga menelan korban jiwa. “Beber Ubaidilah.

Lebih lanjut kata ia, jatuhnya korban jiwa juga terjadi pada anak bangsa dibawah umur saat kejadian tragedi kemanusiaan 21-22 Mei lalu. Kematiannya dikatakan Ubaidilah karena pihak kepolisian menggunakan peluru tajam.

“Banyak korban jiwa karena ditembak menggunakan peluru tajam, itu kejahatan besar. Tidak hadirnya NEGARA dalam tragedi kemanusian 21-22 Mei kemarin di Bawaslu RI dan sekitarnya termasuk di Pontianak, dan beberapa wilayah lainnya merupakan Indonesia dalam kondisi yang sedang memburuk. “paparnya.

Ubaidilah menegaskan tragedi tersebut diatas tidak hadirnya Negara, dalam hal ini Presiden telah mengabaikan Konstitusi UUD 1945 terkait hak asasi manusia. Selain itu dalam UU No. 5 tahun 1998 juga menolak keras tindakan penganiayaan kemanusiaan.

Ditempat yang sama, Pegiat HAM, Leonardo menyayangkan pihak kepolisian dan pemerintah menyebut adanya rencana Makar dari para tokoh yang kini harus ditahan di rutan Polda Metro Jaya dan Pom Guntur.

Menurutnya, narasi makar telah menjadi alat pembenar Pemerintah dalam tindakan yang mengakibatkan korban jiwa, kekerasan dan merendahkan martabat hak asasi manusia.

“Polri dan pemerintaha apakah lupa, bahwa di dalam UUD 1945 Pasal 28 G (2) disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Selain itu dalam pasal 28 B (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. “Beber Leonardo.

Dalam konteks ini, Leonardo mengkritik amanah UUD’45 telah diabaikan aparat keamanan negara melalui tindakan represif POLRI yang tidak dibenarkan apapun alasannya. Secara substantif menunjukan TRIBRATA telah dikhianati dan hilangnya makna perjuangan pemisahan TNI-POLRI karena pendekatan represif sebagai perangkat keamanan sipil digunakan.

BACA JUGA:  Soal Tepuk Tangan, Ketua DPRD DKI Sepakat Untuk Para Pekerja MRT

“Pelaksanaan tata kelola pemerintahan, sistem politik Indonesia, sistem pemilu 2019, berjalan tidak efektif dan melanggar nilai-nilai demokrasi. Oleh karenanya harus dievaluasi secara mendasar. “Jelasnya.

Terkait hal tersebut diatas, Ketua Umum Indonesia Muda, Lutfi Nasution juga mengatakan kondisi Ekonomi Indonesia memburuk saat ini.

Faktanya menurut Lutfi, Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit US$ 2,5 miliar atau setara dengan Rp 36 triliun. Angka ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah.

“Merosotnya kinerja ekspor serta meningkatnya impor membuat defisit neraca perdagangan kembali di atas US$ 2 miliar dalam lima bulan terakhir. Data ekspor Indonesia anjlok 13,1 persen. “Ucap Lutfi.

Disaat yang sama dijelaskan Lutfi, kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB mengalami tren penurunan. Faktanya porsi manufaktur dalam Produk Domestik Bruto (PDB) kian menipis. Indonesia pernah disebut sebagai negara industri karena porsi manufaktur dalam PDB mencapai 30 persen. Namun, angka kontribusinya saat ini terus terkikis menjadi tak lebih dari 20 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan porsi industri manufaktur sebesar 19,66 persen terhadap PDB. Industri manufaktur hanya tumbuh 4,33 persen atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 5,17 persen.

“Pemerintah tidak berhasil melakukan reindustrialisasi, tapi yang terjadi adalah deindustrialisasi prematur. “Ulas Lutfi.

Lufti juga mengurai, porsi industri terhadap PDB terus turun dalam lima tahun terakhir. BPS mencatat pada 2014 kontribusinya sebesar 21,08 persen, 2015 sebesar 20,99 persen, 2016 sebesar 20,51 persen, 2017 sebesar 20,16 persen, dan 2018 sebesar 19,66 persen.

“Data diatas menunjukan adanya proses deindustrialisasi dini yang dialami Indonesia terjadi lebih cepat dari negara Asia Tenggara (ASEAN) lain. Dalam soal Ekonomi kita tetpuruk diantara negara ASEAN yang sekelas. “Paparnya.

BACA JUGA:  Sayuthi Idris Terpilih Sebagai Ketua IKAFT UNSYIAH Cabang Jabajab Periode 2019 - 2024

Menyambung konteks perekonomian Indonesia yang semakin mengkuatirkan, Prof. dr. Indra P yang hadir di konferensi pers SKB juga menyebut Indonesia gagal dalam menegakan kedaulatan ekonomi diantara perang dagang Amerika dan China.

“Kita kalah jauh dengan Vietnam. Angka pertumbuhan ekonomi yang stagnan cenderung merosot, pengangguran yang tak tertangani dengan baik, adalah juga fakta yang menunjukan memburuknya ekonomi Indonesia saat ini, termasuk terus bertambahnya utang luar negeri. “Singgung Profesor Indra.

Dikatakan Profesor, pada Mei 2019 Bank Indonesia (BI) telah merilis data utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal I 2019. Dari data itu, tercatat pada kuartal I ULN Indonesia mencapai US$ 387,6 miliar atau setara dengan Rp 5.542,6 (kurs Rp 14.300). Angka ini tumbuh 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya.

“Hal diatas menunjukan bahwa pemerintah saat ini sesungguhnya tidak kredibel dalam mengelola ekonomi negara. Jika terus berlanjut pemerintahan seperti saat ini dengan tata kelola ekonomi yang buruk, Indonesia akan mengalami situasi krisis ekonomi yang lebih buruk dari sebelumnya. “Ungkap Profesor.

Untuk itu, Suara Komponen Bangsa (SKB) Menuntut:

1). Menyerukan agar seluruh komponen anak bangsa bahu membahu menjaga persatuan Indonesia, dan tidak terjebak oleh politik kekuasaan.

2). Meminta pertanggung jawaban negara atas tragedi kemanusian dalam proses pemilu saat ini.

3). Jika negeri ini sudah tidak ada lagi keadilan, maka kami akan memaksa dunia Internasional melakukan pengadilan atas kejahatan kemanusiaan.

4). Kita harus benar benar menjaga kedaulatan rakyat atas negeri dgn menghormati hak pilih rakyat.

5). Menolak intervensi ekonomi asing yg membuat kedaulatan Indonesia menjadi lemah.(Op/red)

Komentar