oleh

Sri Radjasa Bantah Soenarko Miliki Senjata M4 Carbine

Kabartoday, Jakarta – Kasus yang menimpa eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Pur) Soenarko terkait kepemilikan senjata api ilegal jenis M4 Carbine dikatakan Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda Kolonel Infanteri (purn) Sri Radjasa Chandra adalah tidak benar.

Tuduhan Polri yang merilis sengketa senjata api ilegal jenis M4 Carbine milik Soenarko yang dikirim dari Aceh, 21 Mei 2019 lalu dinilai sangat bertolak belakang dengan faktanya. Hal itu dikatakan Sri Radjasa Chandra saat menggelar konferensi pers di Hotel Atlet Century park, Senayan, Jakarta, Jumat, (31/5/2019).

Soal senjata-senjata yang dikumpulkan dari kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Kata Sri Radjasa, pada tahub 2009 lalu Staf Intel Iskandar Muda menerima tiga pucuk senjata dari masyarakat Aceh, yakni dua pucuk AK-47 dan sebuah M16 A1.

“Kenyataan yang ada, kondisi senjata tersebut saya lihat sendiri bahwa tidak layak untuk sebuah pertempuran, “kata Sri Radjasa.

BACA JUGA:  Aroma Dan Bau Busuk Nuansa Politik Warnai Pengurusan E - KTP Di Batubara

Saat itu, Ia kemudian melaporkan penerimaan senjata-senjata tersebut kepada Soenarko, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer I Iskandar Muda.

“Pak Narko telah menginstruksikan agar dua AK-47 itu dimasukkan ke gudang, sedangkan M16 A1 disimpan di kantor Staf Intel untuk kemudian diberikan ke museum Kopassus. “Jelasnya.

Ketika Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, yang didampingi Menko Polhukham Wiranto dan juga Moeldoko menyebut Soenarko tersangka kepemilikan senjata api jenis M4 Carbine yang didatangi dari aceh yang katanya untuk digunakan dalam aksi 21-22 Mei kemaren, pihaknya kaget dan tak menyangka adanya kebohongan publik dan pemilintiran opini kearah sana.

“Ini jelas bahwa Pak Narko tidak pernah memiliki senjata itu,” ujarnya.

Lanjutnya, M16 A1 itu sempat dimodifikasi di bagian popor, penutup laras, dan teropong bidik, dan teropong bidik itu bukan kriteria untuk sniper, melainkan pertempuran jarak dekat.

BACA JUGA:  Sorong Membludak... Eggi Sudjana Tampil Smart Bersama Sandiaga Uno

“Saya sempat diminta¬† pak Narko untuk mengirim M16 A1 itu ke Jakarta pada 2018. Namun beliau keburu habis masa tugas di Aceh dan kembali ke Jakarta sebelum sempat memenuhi permintaannya. “Terang Sri Radjasa.

Sebelumnya Soenarko juga telah menginstruksikan Heriansyah anak buahnya di Aceh untuk mengirim senjata itu.

“Pak Narko juga berpesan untuk mewanti-wanti agar pengiriman senjata dilaporkan kepada Kepala Staf Daerah Militer Iskandar Muda Brigadir Jenderal Daniel agar mendapat surat pengantar. “Ulas Sri Radjasa.

Keterangan tertulis, senjata M16 A1 itu dikirim pada 15 Mei pukul 16.30 drngan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, dan dilengkapi surat pengantar dari Brigadir Jenderal Sunari. Setibanya senjata itu di Bandara Soekarno Hatta terjadi dua keanehan: Sunari menyebut surat itu palsu dan Heriansyah membantah mengambil senjata itu dari markas Kodam.

“Yang tiba- tiba jadi aneh, ketika sampai di bandara dikatakan surat pengantarnya palsu, kemudian si pengirimnya mengaku tidak mengirim, aneh kan? “kata Sri Radjasa.

BACA JUGA:  Kritik¬†Jaya Wardhana, Menjual Suara Pemilih Runtuhnya Moral Bangsa

Meski Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian telah menyebutkan senjata yang dikirim itu jenis M4 Carbine pada tanggal 21 Mei 2019 lalu. Sri Radjasa terheran-heran. Dia pastikan, senjata yang dikumpulkan dari eks kombatan GAM dan dilaporkan pada Soenarko adalah M16 A1, bukan M4 Carbine.

“Saya tau betul yang dikirim itu M16 A1 karena saya yang dapat dari GAM. Tapi kenapa yang ditayangkan Pak Tito M4 Carbine, saya enggak tahu senjata apa itu, “bantahnya.

Sri Radjasa mengklaim bahwa mantan atasanya Soenarko tak pernah mengubah M16 A1 itu menjadi M4.

“Kalau soal perubahan senjata itu saya engak tahu kenapa bisa berubah, tanya aja sama polisi soal itu. Yang jelas Pak Narko tidak pernah mengubah senjata itu menjadi M4. “tutupnya.(Op/red)

Komentar